|
Goresan Kuas Kecil dari Pengungsian:
Sebulan Hanya Bengong dan Melamun
Jum'at, 25 Pebruari 2005 | 00:14 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Ainun Mardiah menggandeng tangan puteranya, Ilmi Saputra yang berseragam biru putih menuju sekolah darurat di bawah pohon asam. Setelah buah hatinya duduk di kursi plastik berwana biru, dia merapat ke batang pohon bersama perempuan lainnya yang juga mengantar anaknya bersekolah. Sambil menunggu sekolah selesai, dia mengobrol bersama ibu-ibu yang menjadi korban tsunami yang kini ditampung di kompleks pengungsian Sekolah Calon Tamtama (Secata), Mata Ie, Kabupaten Aceh Besar.
Di lokasi pengungsian itu, Ainun, 35 tahun, tinggal bersama anak laki-lakinya yang berusia 4 tahun. Keluarga besarnya meninggal akibat terjangan gelombang tsunami pada 26 Desember 2004. Begitu juga dengan rumahnya di Tamasari, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Baiturahman yang rata dengan tanah. Setiap pagi pukul 09.00 ? 10.00, dia mengantar anaknya sekolah di lapangan milik Secata. Setelah itu dia membunuh waktu dengan mengobrol atau tidur-tiduran di tenda pengungsi.
?Satu bulan ini saya hanya bengong dan melamun saja di pengungsian,? kata Ainun Mardiah kepada Tempo, Selasa (25/1) pagi. Padahal satu bulan sebelumnya, dia kebanjiran pesanan dari Kodim untuk membuat tas magasin dan kopel. Memang sejak suaminya meninggal dua tahun lalu, dia membuka jahitan di rumahnya. Pelan-pelan dia akhirnya memiliki mesin obras dan bordir sendiri, serta pelanggan tetap. Namun terjangan tsunami menghanyutkan mesin tersebut. "Di pengungsian ini, saya ingin sekali bekerja, namun tidak punya uang untuk membeli mesin jahit," katanya.
Keinginan untuk bekerja kembali juga disuarakan Sawiyah, guru SD yang sebelumnya tinggal di Kampung Kaju, Kelurahan Baitussalam, Kecamatan Darussalam, Banda Aceh. ?Sejak satu bulan di pengungsian ini, saya bingung mau hidup kemana lagi," kata pegawai negeri yang diangkat sejak tahun 1985. Di kompleks pengungsian Secata ini, Sawiyah tinggal bersama tiga anaknya yang selamat dan suami, yang sebelumnya penjual pisang goreng. Sebagai guru, katanya, dirinya ingin mengabdi lagi.
Bila ibu-ibu korban tsunami di Secata sulit mengisi waktu luang, tidak demikian dengan mereka yang tinggal di pengungsian kompleks TVRI, Gue Gajah. Sejak 6 Januari 2005, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Departemen Pendidikan Nasional menyediakan 12 mesin jahit. Selain itu, mereka juga menerjunkan lima pengajar untuk mendidik ibu-ibu yang tinggal di kompleks TVRI.
Pengajar dari Jakarta dan Medan itu memberikan pelatihan menjahit mulai Senin sampai Sabtu, di tenda peleton yang terletak di bagian belakang kompleks TVRI. Karena peminatnya banyak, setiap hari dibagi dalam dua gelombang, yakni pukul 09.00-12.00 dan 14.00-16.00. ?Metode pengajaran kepada ibu-ibu korban tsunami adalah praktek menjahit,? kata Nazamudin, seorang pengajar dari Medan. Setiap peserta mendapat bahan kain untuk digunakan berlatih.
Nazamudin mengakui pelatihan di kompleks pengungsian ini tidak akan berlangsung lama. Maklum dana dan bahan dari Depdiknas juga terbatas. Oleh karena itu pihaknya sudah mendata pengungsi yang punya keterampilan atau pernah mengikuti kursus menjahit sebagai calon pengganti. Salah satu diantaranya adalah Mardiyah, yang tinggal di tenda blok A.
Ketika gempa dan tsunami melanda bumi Serambi Mekkah, gelombang air menghanyutkan tiga mesin jahit dan satu mesin obras milik Mardiyah, yang tinggal di Lamtenen Timur. Padahal alat itulah yang selama ini menghidupi dirinya dan kedua anaknya. Maklum, setiap bulan dia mampu membuat sekitar 30 pakaian bagi pelanggannya. ?Dengan hilangnya mesin jahit, kehidupan saya seperti dibawah nol saja,? ujarnya.
Kini, janda dengan dua anak tersebut bersyukur dengan pelatihan menjahit yang dilakukan Depdiknas. Oleh instruktur, Mardiyah yang lulusan sekolah tata busana dipercaya menjadi pengajarnya. Dia berharap pemerintah membantu dirinya agar bisa membeli mesin jahit.
Asnah dan Asiyah yang mengungsi di kompleks TVRI juga mengikuti pelatihan menjahit. Menurut Asnah, keiikutsertaannya itu untuk mengisi waktu luang. Selain menjahit, Aisyah juga mengikuti pengajian bagi kaum perempuan di mesjid TVRI yang dimulai usai salat subuh. Usai salah zuhur dilakukan pula pengajian bagi kaum wanita yang dibimbing seorang ustazah. ?Daripada bengong dan mikir saja, lebih baik ikut latihan menjahit dan mengaji," katanya.
Untung Widyanto-Tempo
|