|
Nasional
Ada Yang Malah Berenang di Lumpur
Jum'at, 14 Januari 2005 | 10:57 WIB
Bayangkan apa yang terjadi ketika banjir lumpur menyerbu rumah sakit jiwa. Ada yang diam saja, ada yang ikutan panik seperti para perawat, ada yang lari keluar. "Ada juga yang langsung terjun ke air berlumpur dan malah berenang," ujar Nuraini, seorang perawat Rumah Sakit Jiwa Banda Aceh.
Ketika gempa dan tsunami terjadi, sekitar 325 pasien menghuni rumah sakit untuk penderita gangguan jiwa yang terletak di Jalan Teuku Daud Beureuh.
Awalnya, para pegawai dan pasien tidak menyadari apa yang terjadi. Terdengar teriakan "Air datang, air datang,". Para perawat dan pegawai bingung. Kemudian dari kejauhan terdengar teriakan takbir, "Allahuakbar, Allahuakbar." Suara gemuruh pun terasa mendekat.
Para perawat langsung membuka pintu-pintu ruang pasien yang bak penjara. Seluruh pasien diajak berkumpul dilantai atas. "Tetapi namanya orang tidak waras, ada-ada saja yang susah diatur," ujar Nuraini.
Menurut Direktur Rumah Sakit Jiwa Aspino Busamah, saat itu air lebih dari satu meter. Warnanya hitam penuh lumpur. "Sudah begitu?eh, ada pasien yang malah masuk lumpur," ujar Nuraini. Apa yang dilakukan perawat? "Justru kami suruh terus berenang," jelas Nuraini. "Karena kalau disuruh berhenti malah akan terus berenang".
Keadaan memang kacau. Terlebih lagi, saat bencana adalah pada Minggu, sehari setelah Natal dan pegawai tidak banyak yang masuk.
Untungnya, para pegawai banyak menempati rumah dinas di sekeliling rumah jiwa. Mereka membantu mengurus para pasien yang susah diatur ini.
Ketika air berlumpur sudah surut, para pegawai dan pasien mengungsi ke Masjid Lambuk, sekitar 500 meter dari rumah sakit. Dari sini, banyak pasien menghilang. "Ya, mereka lepas saja," kata Krisward, psikiater di RSJ. Namun di hari kedua, ada juga pasien yang dijemput keluarganya. "Pokoknya sekarang ini kami tinggal menampung 70 pasien," aku Krisward.
Menurut Aspino, hingga pekan pertama setelah bencana, 50 pasien ditampung di satu ruangan yang sudah dibersihkan bersama pasien dan petugas serta puluhan relawan. Sedangkan 20 lainnya berada di RS Kesdam.
Suasana pasca tsunamipun kacau. Tembok setinggi 4 meter rubuh hampir separuh. Berbagai bangunan di kawasan seluas 4 hektare ini penuh lumpur. Petugas yang tinggal hanya Krisward. Semua mengungsi. "Semua RCTI," ujar Krisward. "Ramai-ramai cuti tanpa ijin," lanjutnya menjelaskan apa artinya RCTI.
"Saya merangkap menjadi dokter, tukang masak, tukang pemberi obat, tukang bersih-bersih, pokoknya semua dirangkap," ujar Krisward.
Kebijakan darurat diberlakukan. Karena mendengar ada keucik (kepala desa) yang didatangi orang-orang bersenjata dan dimintai uang Rp 5 juta, dia juga bersiaga. "Saya perintahkan dua orang berjaga di pos dan bergaya galak seperti tentara," ujar Krisward.
Rupanya Kriward membagi pekerjaan dengan para pasien. Ada yang menjadi koordinator perawatan, koordinator keamanan, dan yang mengurusi makanan. "Brahma ini sebagai ajudan saya," ujar Krisward sambil menunjuk pria setengah baya yang duduk lemas di kursi lorong RSJ.
Krisward memang berusaha seoptimal mungkin, meskipun mereka hanya makan sekali sehari. Krisward beruntung masih menemukan 2 kantong beras tersisa yang bisa dimakan. Semuanya terendam banjir lumpur. "Padahal kami baru saja belanja untuk stok," ujar Nuraini.
Keadaan sedikit membaik. Para pegawai mulai bekerja. Dibantu lebih dari 80 relawan, mereka membersihkan RSJ. Hampir seluruh ruangan sudah bersih. Para pasien sudah kembali menempati beberapa ruang di bagian belakang. Pintu-pintu berjeruji kembali digembok. Para pasien duduk diam di dalam dan memandang luar dengan kosong seperti sebelum bencana.
Namun kondisi masih darurat. "Kami ini belum ada listrik ataupun air," ujar Krisward. Hingga kini, para pasien makan dan minum dengan air yang ada saja yang warnanya begitu keruh. "Bahkan ketika yang ada hanya saya dan pasien, mereka saya suruh minum air keruh itu tanpa dimasak," ujar Krisward. "Toh mereka tidak sakit perut juga," ujarnya sambil mengingat betapa kacaunya suasana saat itu.
Seluruh perlengkapan juga rusak akibat terendam lumpur. Dari computer, kulkas, rak-rak atau juga lemari.
Rumah penuh orang sakit jiwa ini mulai "pulih" meski tanpa air dan listrik. Namun ada lelucon yang selalu muncul di sini. Pasien sembuh karena tsunami, gentian dokter dan perawat yang sakit. "Lihat saja Pak Krisward ini," ujar Nuraini. Krisward memang ceplas-ceplos dalam bicara. Dan tak pernah berhenti becanda. "Ini akibat mengurusi para pasien sendirian," ujar Nuraini disambut gelak tawa para petugas RSJ lainnya. Rumah sakit yang penuh penderita penyakit jiwa sepertinya beranjak "pulih".
Purwani Diyah Prabandari
|