Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Narasi  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
   

Nasional

Lewat Pramuka Menuju Aceh
Senin, 10 Januari 2005 | 12:44 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Banyak cara menolong sesama. Terutama bila menengok musibah mahadasyat yang terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara. Dari anak TK sampai anak kuliahan. Dari pengusaha sampai birokrat. Dari LSM sampai pramuka. Semua bahu-membahu menolong sesuai dengan kemampuannya. Simak saja kisah Eko Wahyudi, pelajar kelas III SMA 2 Kristen, Malang.

Sejak bencana ini terjadi pada 26 Desember lalu, Eko mengaku sedih. Tekadnya bulat, harus bisa menolong sesama, seperti termaktub dalam Dasa Darma nomor 2 yang bunyinya: cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.

Namun, apa daya. Keluarganya yang sederhana tak bergemerincing uang. Ayahnya hanyalah pengumpul rombeng (besi tua), sedangkan ibunya pun tak lebih dari seorang ibu rumah tangga biasa. Untunglah dia tergabung dalam organisasi kepramukaan di Malang. Lewat aktivitasnya itu, akhirnya ia bersama lima rekannya dari Malang yang tergabung dalam satu regu terpilih diberangkatkan ke Aceh. "Meski tak memiliki uang, saya punya niat dan tenaga," ujarnya bangga.

Sebelum berangkat ke Aceh, perjalanan berliku juga masih harus dilalui Eko. Setor badan saja rupanya tak cukup. Eko dan empat rekannya harus melampaui tes mulai dari Malang, Surabaya, hingga Jakarta. Tak mengherankan, baru pada 2 Januari kakinya menjejak di Banda Aceh. "Karena Kwarnas Pramuka Jakarta mendapat cerita, banyak relawan yang shock dan stres, tak kuat melihat bencana," ujarnya saat dihubungi dari Jakarta. "Daripada merepotkan, makanya kami di tes dulu," ujarnya lagi.

Tes kesehatan dan tes mental dia jalani hingga dinyatakan lolos. Bekal pengalamannya dua kali mengevakuasi mayat akibat bencana alam di Situbondo dan tanah longsor di Malang Selatan menjadi modal berharga baginya. "Saya sudah terbiasa," katanya mantap. "Jadi saya yakin bisa."

Tanggal 2 Januari adalah awal perjuangannya bergumul dengan misi kemanusiaan. Dengan bekal uang saku Rp 750 ribu dari Kwarnas Pramuka, Eko meninggalkan Jakarta naik pesawat Hercules menuju Banda Aceh. "Saya baru pertama kali naik pesawat. Senang juga rasanya," ungkap Eko sambil tertawa. Namun, sejujurnya ia mengaku ketar-ketir. "Karena baru pertama kali, takut juga kalau-kalau pesawat jatuh," tuturnya.
Setibanya di Aceh, sebuah pengalaman baru menantang di hadapannya. Ia harus mengevakuasi jenazah di dua tempat, yang ternyata tak sebanding dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya. "Bencana ini yang paling besar dan melelahkan. Mayat di mana-mana," ujarnya.

Bersama timnya, sekitar 150 mayat harus dievakuasi setiap harinya. Berangkat pukul 08.00 dan baru pulang pukul 14.00. "Meski sangat kelelahan, saya puas," katanya. "Ini pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan sepanjang hidup saya. Saya bersyukur menjadi anggota pramuka." Semoga, kata dia, peristiwa ini pun menjadi peringatan bagi siapa saja. "Agar tak ada lagi perang di Aceh." Ketika ditanya apa cita-citanya, Eko mengatakan, menjadi polisi adalah impiannya. "Tapi saya nggak punya uang," paparnya. "Keluarga kami sangat sederhana."

Bernarda Rurit?Tempo



 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

StanChart Alokasikan US$ 5 Juta untuk Aceh
Menko Kesra: Tidak Benar Bantuan Tidak Merata
Pengusaha Aceh Kesulitan Bayar Kredit
Penyebab Helikopter Jatuh Masih Diselidiki
Pengungsi Aceh Kesulitan Genangan Air
Perusahaan Amerika Sumbang US$ 180 Juta untuk Korban Tsunami di Asia
Sidang Paripurana Diawali dengan Mengheningkan Cipta
Helikopter Seahawk Jatuh di Aceh
Pasukan Asing di Bawah Koordinasi Panglima TNI
Presiden Minta Sampah Segera Dibersihkan
> selengkapnya...


Referensi

Lewat Pramuka Menuju Aceh
Nyiur di Meulaboh Tak Lagi Gagah Melambai
Derita Pengungsi Belum Berakhir
Keppres RI No. 3 Tahun 2001 Tentang Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi
> selengkapnya...

Website

Blog Khusus Tsunami Aceh
Palang Merah Indonesia
Kementerian Riset dan Teknologi
Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional
Bakornas Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (PBP)
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< January,2005>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data