Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Narasi  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
   

Nasional

Nyiur di Meulaboh Tak Lagi Gagah Melambai
Minggu, 09 Januari 2005 | 18:05 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Meulaboh. Hampir dua pekan setelah bencana gempa dan tsunami di Aceh dan Sumatera, perhatian dunia tersedot ke bagian barat Pulau Sumatera. Bantuan mengalir untuk membangun kembali kota-kota yang hancur di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara, terutama Nias.

Kota Meulaboh, yang selama ini hijau, tenang, dan pantainya sangat dibanggakan, kini bagaikan kota hantu. Warga seperti tak punya lagi masa depan karena kota hancur, keluarga hilang, harta benda sirna ditelan bencana.

Saya datang ke Meulaboh dengan bersusah payah menumpang helikopter Chinook milik pemerintah Singapura. Perjalanan menuju Meulaboh ditempuh selama dua jam di atas pegunungan Bukit Barisan yang gundul dan rusak karena proyek Ladia Galaska.
Perasaan mengharu-biru begitu helikopter mendekati Meulaboh, yang lima tahun silam pernah saya singgahi. Helikopter mendarat di Bandara Cut Nyak Dhien di luar kota Meulaboh yang ikut terkena tsunami. Landasan bandara retak cukup dalam.

Untuk sampai ke kota yang hancur lebur itu harus menggunakan ojek atau menumpang kendaraan yang lewat. Perjalanan bisa memakan waktu sampai 50 jam. Tak ada air bersih, komunikasi, dan sandang-pangan. Hanya duka yang tersisa pada warga Meulaboh. Transportasi sangat sulit karena BBM langka. Kalaupun ada, harganya mencapai Rp 30 ribu per liter.

Inilah hari pertama saya menginjakkan kaki di kota yang saya diami selama empat hari. Angin membawa bau busuk menusuk hidung. Mayat masih berserakan di mana-mana, di bawah runtuhan rumah, selokan, atau terselip di antara reruntuhan.

Saya menyewa ojek keliling kota. Tapi banyak yang menolak dengan alasan kesulitan BBM dan masih trauma dengan gelombang tsunami. "Nggak ada minyak, Bang, dan kami takut tsunami datang lagi," kata Zainal, tukang ojek yang mangkal di persimpangan Jalan Teuku Umar.

Akhirnya ada juga yang mau mengantar. Namanya Ridwan, 45 tahun. Ia sebenarnya bukan tukang ojek, tapi karyawan swasta yang kantornya amblas terkena tsunami. Saya merogoh Rp 50 ribu untuk menyewa Ridwan. Di tengah perjalanan sepeda motor berjalan sempoyongan. Kami nyaris jatuh. Ada kelelahan di mata Ridwan. Ia tampak letih dan lesu. "Saya baru sekali makan, Pak, itu pun diajak tetangga. Saya tak tahu beli di mana. Kalaupun ada, harganya mahal," katanya.

Menjelang malam, saya kebingungan mencari tempat istirahat. Listrik mati. Jalanan tergenang dan bau amis. Setelah berjalan sekitar 3 km, barulah saya menemukan Posko Bencana di Markas Batalion 112 Kompi C Senapan di Alur Penyalir, yang aman dari bencana. Saya memutuskan menginap bersama pengungsi di posko ini, meski tak ada sarana komunikasi.

Keesokan harinya saya menumpang mobil tim kesehatan ke Desa Cot Seulamat, Kecamatan Samatiga. Warga umumnya sudah tahu kalau wilayah itu rawan dan selalu mendapat gangguan dari gerombolan bersenjata. Wah, saya salah naik mobil, nih, pikir saya.

Saya bertambah waswas karena Sersan TNI Andi Gunawan, salah seorang dari 10 pengawal kami, mengatakan, kalau terjadi kontak senjata jangan panik. Ia menyarankan bila ada yang mencurigakan, langsung tiarap saja.

Sampai di tujuan, perut kami sudah keroncongan. Untunglah petugas keamanan yang berjaga di posko kesehatan yang berasal dari Batalion Yonif 521/DY, Kodam V Brawijaya, itu sudah membuat dapur umum untuk pengungsi. Kami akhirnya melahap menu sederhana ala tentara, yakni nasi putih dan gulai pisang.

Hari berikutnya, saya menyaksikan derita para pengungsi di Posko STM Meulaboh. Saat hujan turun, dalam kondisi gelap para balita menggigil menahan dingin. Bilik mereka hanya dibatasi selembar kain untuk menahan air hujan. Tak banyak yang memakai selimut.

Dengan hati pilu saya menyaksikan para korban bencana yang dirawat di RSU Cut Nyak Dhien, Meulaboh. Salah seorang korban, Fani, 6 tahun, kakinya patah akibat tertimpa balok kayu ketika menyelamatkan diri. Baru hari kedelapan ia dibawa ke rumah sakit. Lutut dan jari kakinya membengkak kehitaman.

Empat hari sudah saya di Meulaboh. Saya merasakan betapa berat perjuangan para pengungsi. Saya meninggalkan Meulaboh dengan menumpang Chinook lagi. Ada lambaian tak akrab dari udara ketika saya mengarahkan pandangan ke bawah. Nyiur tak lagi gagah melambai. Pasir putih tak lagi memancarkan sinar.

Hambali Batubara?Tempo


 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Indonesia Jamin Keamanan Tentara Asing dari GAM
Rumah Sakit Zainoel Abidin Butuh 6 Ambulans
Perbaikan Infrastruktur Perhubungan di Aceh Butuh Rp 780 Miliar
Menlu RI ke Eropa Bicarakan Moratorium Utang
Tentara Jepang Tawarkan Operasi Damai di Aceh
Bantuan Australia Dikelola Oleh Komisi Bersama
Psikolog Bangun Posko Korban Tsunami di Batam
Kongres Amerika Simpati Kepada Korban Tsunami
78.351 Mayat Telah Dievakuasi dan Dimakamkan
Pneumonia Ancam Anak-anak Korban Tsunami
> selengkapnya...


Referensi

Nyiur di Meulaboh Tak Lagi Gagah Melambai
Derita Pengungsi Belum Berakhir
Niat Bantu Berbuah Isu
Keppres RI No. 3 Tahun 2001 Tentang Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi
> selengkapnya...

Website

Blog Khusus Tsunami Aceh
Palang Merah Indonesia
Kementerian Riset dan Teknologi
Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional
Bakornas Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (PBP)
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Ford Naik Lima Peringkat di CSI
Tiga Perempuan Peneliti Raih Fellowship For Women in Science 2008
Indonesia “Juara”
Presiden Dukung Komisi Amandemen UUD 1945
Direktur Kedaulatan Rakyat Meninggal

<< January,2005>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data