|
Nasional
Membekap Trauma di Pengungsian
Minggu, 09 Januari 2005 | 17:53 WIB
TEMPO Interaktif, Banda Aceh: KESEDIHAN terpancar jelas dari raut Husnul Masita, bocah berusia 13 tahun. Matanya menerawang jauh ke belakang, sebelum tsunami datang merampas cita-citanya. Sebagai pelajar, Masita punya cita-cita menuntaskan pendidikan di sekolah. Kini, mungkin ia harus buang jauh keinginan itu. Padahal saat duduk di bangku kelas III SMP 17, Aceh Besar, namanya selalu masuk dalam lima anak terpandai di kelas.
Masita kehilangan rumah. Ayah dan kakaknya pun seperti tertelan bumi. Masita tidak sendiri, ada ratusan, bahkan ribuan Masita lain yang kini tinggal di lokasi-lokasi pengungsian. Tersebar mulai Banda Aceh, Meulaboh, hingga Medan. Berteduh di bawah tenda, tempat-tempat ibadah, hingga gudang-gudang tua. Masita sendiri kini tinggal di sebuah gudang tua, 11,7 kilometer sisi utara jalan raya Medan-Binjai.
Sedikitnya 52 orang pengungsi yang masih tinggal di lokasi penampungan yang dikelola Yayasan Aceh Sepakat ini. Gudang tua berukuran 50 x 125 meter persegi ini sempat menampung 300 orang lebih beberapa saat setelah peristiwa gempa dan tsunami melanda Aceh, Minggu terakhir 2004. Posko yang berada dalam wilayah Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, ini merupakan penampungan pengungsi terbesar di Sumatera Utara. Lokasinya bekas gudang kayu yang lama tak dipakai.
"Pak Said, pemiliknya yang keturunan Aceh, menyumbangkan lokasi ini untuk tempat penampungan pengungsi," kata Ir T. Hasballah, bendahara posko, saat ditemui Tempo.
Semua pengungsi tidur beralaskan tikar dan kardus. Meski kamp pengungsi dilengkapi lampu-lampu neon yang menyala 24 jam, tusukan angin malam terasa menembus tulang, lantaran bangunan tak berdinding. Kamar mandi darurat dibuat dalam ukuran 4 x 1 meter ditutup terpal biru untuk pengungsi pria dan terpal jingga untuk perempuan.
Dua televisi berukuran 21 inci menyala sepanjang hari. Wajah traumatik terpancar dari mata-mata pengungsi yang menyaksikan tragedi mengerikan itu di layar televisi. Tak terkecuali anak-anak. Nasib Masita mungkin lebih baik dibanding teman-teman sebayanya yang berada di tenda-tenda darurat dan lapangan-lapangan terbuka. Menurut Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi, hingga kini tercatat sekitar 100-300 ribu anak yang hidup telantar di lokasi pengungsian dengan kondisi memprihatinkan. "Bagaimana mungkin anak-anak berada dalam suasana air bersih tidak ada, udara kotor, atau bau busuk yang menyengat," katanya.
Selain kondisi kesehatan yang harus diperhatikan, Seto minta pemerintah segera melakukan evaluasi darurat, khususnya terhadap penanganan masalah psikologis anak. Menurut dia, tidak mungkin anak-anak berada di tempat yang tidak layak, baik secara fisik maupun psikologis. "Pemulihan suasana psikologis menjadi prioritas yang harus dilakukan."
Anak-anak, menurut Kak Seto--sapaan akrab Seto Mulyadi--akan selalu teringat suasana yang mencekam ketika menyaksikan onggokan sampah yang berserakan di setiap tempat, sehingga perlu pemulihan psikologis untuk mengembalikan kepercayaan diri.
Kendati begitu, pemulihan infrastruktur di Aceh menjadi prasyarat dalam melakukan itu semua, termasuk pembangunan sekolah-sekolah darurat. "Kegiatan sekolah usia dini dapat menjadi terapi yang baik buat jiwa anak. Ini dapat menjadi trauma counseling yang efektif," ujar Kak Seto.
Dia juga mengusulkan agar pemerintah dapat merelokasi anak-anak pengungsi dan mendatanya dengan cermat di tempat yang steril dan jauh dari lokasi musibah. Bisa di Aceh, bisa juga di luar. Langkah ini diambil lantaran banyaknya isu adopsi dan penjualan anak korban tsunami. Namun, dia berharap lokasi relokasi tetap berada di dalam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, seperti di Aceh Timur.
Haerani, korban selamat berusia 36 tahun, menyambut baik usulan relokasi. Ia berharap mendapat penampungan di permukiman yang aman kelak. Ketiga anaknya yang selamat mengalami trauma dan tidak ingin kembali ke kampung halamannya, Desa Neuheun, sekitar 17 kilometer dari kota Banda Aceh. "Saya trauma tsunami kembali terjadi, karena kanan dan kiri rumah kami laut," katanya. Kini, mendengar gesekan kayu di sekitar tempatnya beristirahat, Haerani terjaga. Begitu juga ketiga anaknya yang selamat, hingga kini takut mendengar suara air.
Meski kini di tempat penampungan dia dan anak-anaknya mendapat makanan cukup, Haerani ingin keluar dan cepat-cepat mencari usaha sendiri. "Makanan memang berlebih, mau susu, apa pun ada. Namun, saya ingin mendapat bantuan berupa uang untuk modal usaha," kata korban yang kehilangan suami dan dua anaknya ini.
Haerani tak ingin berlama-lama menadahkan tangan, mengharap bantuan orang lain. Dia merasa tersiksa. Harapan bersambut. Pemerintah menyiapkan Panti Rehabilitasi Sosial Anak di Medan. Tempat ini akan menampung semua anak korban tsunami yang tidak memiliki keluarga lagi.
Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah menuturkan, pihaknya telah menyiapkan dana untuk biaya penampungan, pendidikan, dan pengasuhan anak. Dananya diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun ini. Saat ini, kata dia, baru sekitar 20 anak yang ditampung Panti Rehabilitasi. Kelak, anak yang ditampung lembaga swadaya masyarakat dikirim ke panti itu. Di sejumlah lokasi di Aceh, Departemen Sosial juga telah mendirikan rumah-rumah perlindungan anak.
Bachtiar menepis isu perdagangan anak. "Belum ada satu kasus yang terbukti," katanya.
Yayasan Aceh Sepakat yang banyak menampung anak korban tsunami Aceh tetap waspada. Pengambilan anak di pengungsian, terutama yang dikelola yayasan, tidak diperbolehkan. "Harus dengan izin Menteri," ujar staf yayasan, Syahrial Akbar.
Cahyo Junaedy/Badriah/Ewo Raswa/Jojo Raharjo-Tempo
|