|
Nasional
Sekondan yang Menantang Akbar
Selasa, 14 Desember 2004 | 10:58 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: MALAM sudah larut ketika Agung Laksono melangkah memasuki halaman rumah Akbar Tandjung di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu pekan lalu. Kedatangan Ketua DPR ini disambut hangat tuan rumah yang juga teman karibnya. Seperti biasa, Akbar menebar senyum ketika si tamu memasuki ruang tengah kediamannya.
Kedatangan Agung di malam buta itu membawa kabar penting. Setelah berbasa-basi sejenak, ia pun mengutarakan maksud kehadirannya malam itu. "Saya akan maju dalam Munas Golkar nanti," katanya.
Peryataan Agung dalam pertemuan empat mata yang dituturkan kembali oleh Yuddy Chrisnandi ini membuat Akbar menghela napas sejenak. Mantan Ketua DPR ini seperti menemukan tambahan rintangan untuk kembali memimpin Golkar. Pesaingnya dalam Musyawarah Nasional Partai Golkar Ke-7, 15-20 Desember 2004, di Denpasar, Bali, semakin banyak saja. Persaingan menjadi orang nomor satu di tubuh Golkar tentu makin ramai. Selain Agung, sebelumnya sudah ada deretan nama Surya Paloh, Wiranto, Marwah Daud Ibrahim, dan Slamet Effendy Yusuf.
Kesediaan Agung maju ke bursa Ketua Umum Golkar membuat Akbar agak kerepotan. Selama ini Agung dikenal sebagai pendukung setianya. Bahkan Ketua DPP Partai Golkar ini dianggap salah satu pilar penting Akbar di tubuh Beringin. "Memang Pak Akbar cukup surprised mendengar rencana itu," kata Yuddy, politikus Golkar. Begitupun, mantan Ketua PB HMI itu menilai, kesediaan anak buahnya maju ke pertempuran sebagai langkah positif. Lampu hijau ia berikan malam itu juga.
Meski memberikan lampu hijau, menurut seorang sumber di DPP Golkar, sejatinya Akbar kaget. Juga marah. Pasalnya, dua sekawan ini pernah saling berkomitmen untuk saling membantu. Kabarnya, ada transaksi politik di antara keduanya.
Menjelang pemilihan Ketua DPR lalu, Akbar disebutkan telah mendukung pencalonan Agung Laksono sebagai Ketua DPR. Sebagai imbal balik, bekas Menteri Sekretaris Negara di zaman Presiden B.J. Habibie ini meminta dukungan Agung dalam Munas Golkar. "Komitmen itu yang dipersoalkan," kata sumber itu, sebab di parlemen Agung sukses mengambil posisi ketua berkat dorongan Koalisi Kebangsaan yang dikomandani Akbar. Masih menurut sumber tadi, Akbar sangat kecewa karena harus kehilangan salah satu pilar utamanya.
Dalam pertemuan Sabtu malam itu, kali ini kembali ke cerita Yuddi, Akbar sempat bertanya tujuan Agung maju ke bursa Ketua Umum Golkar. Ia tak tahu apakah pertanyaan itu disampaikan Akbar dengan sikap marah. Hanya raut wajahnya memang memerah. "Bang Akbar tidak mau Agung maju menantang dirinya," katanya. Akbar rupanya khawatir dengan kekuatan yang dimiliki anak buahnya sekaligus teman dekatnya ini.
Agung sendiri membantah kesediaannya maju membuat Akbar kecewa dan marah. Akbar, katanya, bahkan menyatakan memberi kesempatan sama pada semua kandidat. Apalagi keinginan Agung untuk maju karena dicalonkan oleh sejumlah pengurus DPD I. "Baiklah kalau begitu keinginan Saudara," kata Agung menirukan ucapan Akbar. Ketua DPR ini tak yakin pernyataan temannya itu menunjukkan kemarahan.
Langkah kuda Agung sejatinya sudah terlihat sejak dua pekan terakhir. Namanya sering disebut sebagai calon alternatif yang cukup potensial sebagai penantang. Namun, sampai akhir pekan lalu, ia belum menyatakan kepastian bersedia atau tidak. Keputusannya maju ke bursa pencalonan Ketua Umum Golkar mulai mengkristal seusai Rapat Pimpinan Partai Golkar Jumat pekan lalu di Hotel Kartika Candra, Jakarta.
Dalam rapat itulah tiga DPD I, yakni Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten, menyebut namanya secara implisit. "Kriteria yang mereka sampaikan mengarah pada sosok Agung," kata Yuddy. Di luar tiga DPD tadi, beberapa pengurus DPD juga mengarahkan pandangan pada Koordinator Wilayah Golkar Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten itu. Sampai akhirnya 10 DPD I menyatakan memberi dukungan. Ketua Kosgoro 1957 ini pun segera tancap gas dengan membentuk tim sukses malam itu juga.
Menurut Yuddy, seusai Rapim Golkar, Agung segera membentuk tim sukses. Ia sendiri yang mengendalikan tim sukses ini. Beberapa nama seperti Andi Mattalata, Yasril Ananta Baharuddin, Ruhut Sitompul, Ketua DPD Golkar Jawa Barat Uu Rukmana, dan Ketua DPD Golkar Lampung Alzier Dianis Thabrani bergabung di dalamnya. "Terserahlah kalau nama saya dimasukkan dalam tim," kata Yasril.
Lahirnya tim sukses Agung itu bisa jadi tak diduga Akbar Tandjung. Pasalnya, dalam rapim itu Akbar menegaskan tidak ada pembicaraan tentang calon ketua umum. Tema yang diangkat dalam rapim hanya tata tertib munas, perubahan AD/ART, dan program umum partai. Kalaupun ada pembicaraan tentang calon ketua, "Fokus bahasannya cuma kriteria umum saja," kata Akbar.
Di antara para kandidat, berdasar tata tertib yang diolah DPP dan panitia munas, Agung tampaknya paling memenuhi kriteria. Syarat harus menjadi pengurus selama lima tahun terakhir ia miliki. Dukungan minimal dari 10 DPD I untuk maju di munas sudah ia kantongi. Bahkan, menurut Yuddy, kini sudah 17 DPD I di belakang pencalonannya. Nilai lebih lainnya, Ketua Kosgoro 1957 ini merupakan salah satu unsur Hasta Karya, delapan organisasi yang ikut mendirikan Golkar di akhir 1960-an. Menjelang Munas Golkar ini sesepuh Golkar dari Hasta Karya terang-terangan menolak kembali pencalonan Akbar.
Sodokan kepada Akbar memang semakin banyak dan berat. Para pendukungnya di berbagai daerah rontok dalam musyawarah daerah. Calon Ketua DPD I Golkar yang didukung Akbar seperti Sumatera Utara, Jawa Tengah, dan Yogyakarta gagal di tengah jalan. DPD DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten sudah menentukan Agung Laksono sebagai kandidat yang diajukan. Akbar masih bisa berharap dari DPD I Bali dan beberapa daerah yang belum menentukan pilihan. Begitu pula di Jawa Timur dengan syarat Ridwan Hisyam sukses memenangkan musda.
Akbar tentu saja tak tinggal diam. Apalagi pesaingnya di arena munas bukan hanya Agung Laksono. Kandidat lain seperti Surya Paloh, Wiranto, dan Marwah Daud Ibrahim gencar melakukan pendekatan ke berbagai daerah. Marwah bahkan mengaku bisa meraup suara dari kawasan Timur Indonesia yang selama ini menjadi basis konstituennya. Selain itu, pesaing Akbar akan makin berat jika Wakil Presiden M. Jusuf Kalla benar-benar mencalonkan diri. "Kemungkinan dia maju sangat besar," kata Yasril Ananta Baharuddin.
Menurut Yasril, jika tak ada halangan, Jusuf Kalla akan mengumumkan pencalonan dirinya hari ini. Kesediaan mantan Menko Kesra ini masuk bursa Ketua Umum Partai Golkar periode 2004-2009 bisa jadi mengubah peta persaingan dalam munas. Selama ini Kalla selalu dikaitkan dengan pencalonan Surya Paloh. Bos Metro TV ini selalu menghubungkan pencalonan dirinya dengan Kalla yang diproyeksi menjadi Ketua Dewan Penasihat Golkar. Namun, jika Kalla benar-benar maju, peta yang telah ditata tentu akan berubah. Tak menutup kemungkinan suara terpecah dan Akbar Tandjung kembali diuntungkan.
Arif/Ecep S Yasa/Muhammad Nafi?Tempo
|