Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Narasi  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
   

Nasional

AWAS Bersaing Rebut Golkar ? 01
Senin, 13 Desember 2004 | 17:07 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Bukan Harmoko namanya jika tidak pandai mencuri perhatian. Kepada wartawan yang mewawancarainya di sela-sela Rapat Pimpinan ke-10 Partai Golkar di Hotel Kartika Chandra, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (10/12/2004), dia melontarkan pernyataan. ?Menurut saya ada 4 nama yang akan menjadi calon kuat, sesuai berita yang disingkat AWAS, yakni Akbar Tanjung, Wiranto, Agung Laksono dan Surya Paloh. Saya kira keempatnya punya kans untuk menang,? kata mantan Menteri Penerangan di masa Orde Baru.

Keempat kandidat memang calon kuat untuk menduduki kursi nomor satu di Angrek Nely Murni (sebutan untuk kompleks kantor DPP Golkar di Jalan Anggrek Nely Murni, Tomang, Jakarta Barat). Selain mereka, disebut pula nama Marwah Daud Ibrahim dan Sultan Hamengkubuwono X. Berikut profil tiap kubu yang bersaing di Munas Golkar di Denpasar, Bali:

Akbar Tanjung

Majalah Tempo pernah membuat sampul depan Akbar Tanjung dengan hidung yang panjang, bak Pinokio. Ketika itu sedang mencuat kasus penggunaan dana Bulog yang melibatkan Akbar. Namun, orang yang percaya fengshui yakin, hidung Akbar Tanjung, yang agak besar, membawa hoki.

Kepiawaian Akbar, dan juga mungkin hoki, inilah yang membuat dirinya mampu bertahan di gelanggang politik selama tiga dasawarsa. Memang, selepas menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di awal 1970-an, dia terpilih sebagai Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Indonesa (KNPI). Dari organisasi kepemudaan bentukan rezim Orde Baru inilah Akbar merambah pusat kekuasaan.

Baik itu melalui anggota DPR, pengurus DPP Golkar sampai diangkat oleh Presiden Soeharto sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga lalu Menteri Negara Perumahan Rakyat. Ketika Habibie naik jadi RI-1, Akbar dipercaya menjadi Menteri Sekretaris Negara. Akbar mundur dari jabatan itu karena akan berkonsentrasi di Partai Golkar. Memang dalam Munas Luar Biasa partai ini, dia mengalahkan Jenderal (Purn) Edi Sudrajat (mantan KSAD dan Panglima TNI).

Meskipun cacian dan gugatan menerpa Golkar, namun Akbar berhasil membawa partai ini berada di urutan kedua dalam pemilu 1999. Malah di pemilu 2004, Golkar bertengger di urutan teratas, mengalahkan PDI Perjuangan.

Alumni Himpunan Mahasiswa Islam, jelas menjadi tulang punggung utama pendukung Akbar di Golkar. Baik itu alumni Pengurus Besar HMI atau pengurus cabang di seluruh Indonesia. Akbar jualah yang menarik gerbong alumni HMI dan kalangan santri untuk ?menghijaukan? partai berlambang Beringin ini. Sejumlah mantan Ketua PB HMI memang bergabung di partai ini. Sebut misalnya Mahadi Sinambela, Harry Azhar Azis, Ferry Mursidan Baldan, Yahya Zaini dan lainnya.

Bisa dikatakan, gerbong HMI ini meminggirkan ?warga asli? Golkar seperti pensiunan birokrat sipil dan militer (termasuk Forum Komunikasi Putera/i Purnawiran TNI/Polri) dan Kino (seperti Kosgoro, MKGR, Soksi). Baik itu di kepengurusan pusat maupun di tingkat provinsi serta kabupaten/kota.


Wiranto

Bisa jadi masih ada rasa penyesalan di hati Wiranto terhadap Akbar Tanjung. Bukan apa-apa, ketika Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Golkar Juli 1998, dia terpaksa ikut bermain. Kala itu, dalam posisinya sebagai Panglima TNI, Jenderal Wiranto mengumpulkan pimpinan TNI di daerah untuk mendukung Akbar Tanjung. Akbar akhirnya berhasil mengalahkan Jenderal (Purn) Edi Sudrajat (senior Wiranto) yang didukung keluarga besar TNI.

Ketika Presiden Abdurrahman Wahid berkuasa, Wiranto diangkat menjadi Menteri Koordinator Politik dan Keamanan. Namun baru tiga bulan menjabat, Gus Dur mencopot Wiranto dan sejumlah menteri lainnya. Setelah itu nama Wiranto tidak begitu terdengar lagi di pentas politik nasional.

Nama mantan ajudan Presiden Soeharto ini terdengar lagi ketika mengikuti Konvensi Partai Golkar untuk memilih calon presiden di Pemilu 2004. Sejumlah pensiunan jenderal menjadi tim suksesnya, antara lain Fahrul Rozi (mantan Wakil Panglima TNI), Suadi Marasabesyi (mantan Kasum TNI), Nugroho Djayusman (mantan Kapolda Metro Jaya) dan lainnya. Dalam konvensi itu, Wiranto mengungguli Akbar dengan meraih 315 suara, sedang Akbar 227 suara.

Dalam pemilu presiden, dia menggandeng Solahudin Wahid, adik Gus Dur yang menjadi pimpinan Komnas HAM. Golkar dan Partai Kebangkitan Bangsa menjadi pendukung pasangan ini. Sayang, dalam pemilu presiden ini, Wiranto-Wahid berada di urutan ketiga, kalah dibandingkan pasangan Susilo B.Yudhoyono-Jusuf Kalla dan Megawati-Hasyim Muzadi. Dengan dukungan mantan pejabat di era Soeharto, kini, Wiranto maju lagi untuk merebut kursi nomor satu di Partai Beringin. Kabar yang beredar, SBY yang pernah menjadi bawahan Wiranto, ikut mendukungnya dalam Munas Golkar 2004.


Surya Paloh

Kiprah bos grup Media Indonesia di Golkar sudah dimulai sejak mahasiswa di Sumatera Utara. Lalu pada usi 25 tahun, pria yang selalu tampil berewokan ini terpilih menjadi anggota MPR Utusan Daerah. Pria berusia 53 tahun ini ikut membidani lahirnya Forum Komunikasi Putra-putri Purnawirawan ABRI (FKPPI). Pada 1984, ia menjadi ketua FKPPI dan sekaligus Ketua Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI).

Selepas jabatan itu, Surya Paloh lebih menekuni bisnisnya di catering, property dan media. Ketika itu, banyak diberitakan dukungan dari Bambang Trihatmodjo, putera ketiga Presiden Soeharto, terhadap bisnis Paloh. Ketika Soeharto lengser, dia makin menjaga jarak dengan Keluarga Cendana.

Ketika Golkar menggelar Konvensi Nasional, Paloh yang sering tampil di Metro TV ini, ikut serta. Sayang dia kalah bersaing dengan Wiranto dan Akbar Tanjung. Menjelang Munas Golkar ini, Paloh mengklaim dirinyalah yang ?direstui? Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk bersaing dengan Akbar Tanjung. Karena tidak ada sinyal jelas dari SBY, Paloh mendekati Wakil Presiden Yusuf Kalla. Sejumlah pimpinan Golkar di daerah mengusulkan Paloh sebagai Ketua Umum Golkar dan Kalla sebagai Ketua Dewan Penasehat.


Agung Laksono

Karier politik Agung Laksono dimulai di Kosgoro, organisasi yang berafiliasi dengan Golkar. Pada 1983-1988, Agung yang lulusan Fakultas Kedokteran UI, dipercaya menjadi Ketua Umum AMPI. Oleh Presiden Soeharto, Agung diangkat menjadi Menteri Negara Pemuda dan Olahraga.

Ketika Akbar Tanjung terpilih dalam Munaslub Golkar tahun 1998, Agung dipercaya menjadi ketua Golkar yang mengurusi Organisasi, Kepemudaan dan Kekaryaan (OKK). Selain aktif berpolitik, Agung juga memiliki perusahaan dengan bendera PT HAS Muda Internusa yang memiliki aneka usaha.

Usai Pemilu 2004, dia dijagokan Koalisi Kebangsaan menjadi Ketua DPR. Dalam pemilihan dia menang mengalahkan jago Endin Soefihara, yang didukung Koalisi Kerakyatan. Agung yang berpembawaan low profile, bisa meredam konflik kedua blok kekuatan di lembaga legislaif ini. Sosok dan prestasinya ini, kabarnya membuat SBY kesengsem dan mendukungnya sebagai Ketua Umum DPP Golkar periode 2004-2009. Sampai sejauh mana kabar ini beran, kita lihat saja di Munas Golkar nanti.


Untung Widyanto-Tempo


 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Agung Laksono: DPR Bukan Monster Politik
Politikus Ramaikan Peluncuran Buku Agung Laksono
Marwah Daud: Banyak Orang Bahagia Jika Saya Terpilih
Ketua DPR Prihatin Lembaganya Masuk Survei Terkorup
Akbar: Rapim Golkar Tak Bicarakan Ketua Umum
6 DPD Golkar Tolak Hak Suara untuk Kabupaten
Golkar Sultra: Surya dan Marwah Layak Pimpin Golkar
Sesepuh Golkar Kecam Akbar Tanjung
Pengamat: Polemik Munas Golkar Bukan Masalah Akbar
Golkar Sumsel Belum Tentukan Sikap Soal Ketua Umum Golkar
> selengkapnya...


Referensi

AWAS Bersaing Rebut Golkar ? 01
"Ini Tanggung Jawab Akbar Tandjung"
"Saya Tidak Diberi Kesempatan Membela Diri"
PP RI No. 51 Tahun 2001 Tentang Bantuan Keuangan Kepada Partai Politik
Undang-Undang No. 12 Tahun 2003 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD
> selengkapnya...

Website

Akbar Tandjung
Wiranto
Situs Wiranto
Partai Keadilan
Partai Golkar


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< December,2004>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data