Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Narasi  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
   

Nasional

"Tolong Sebulan ini Jatah Kami Menindak."
Jum'at, 29 Oktober 2004 | 13:40 WIB

Jumat malam (22/10) pukul 22.00 WIB, suasana kafe Staderly di bilangan Kemang, Jakarta Selatan telah mati. Pintu kerai besi telah tertutup. Tapi sekitar setengah jam kemudian, terjadi kehebohan. Dinding kaca dipecahkan, bangku-bangku dan barang-barang lain yang diluluhlantakkan oleh anggota Front Pembela Islam (FPI).

Aksi pengrusakan tepat seminggu di bulan Ramadhan ini, berbuah kecaman. Namun FPI menampik tuduhan telah melakukan tindakan anarkis. ?Kami diserang dulu oleh preman-preman,? kata Muhammad Allawi Usman, Ketua Badan Investigasi FPI, Senin (25/10) di Jakarta. Ia ditunjuk Ketua FPI Habib Rizieq Shihab sebagai orang yang bertanggung jawab atas aksi laskar FPI.

Allawi menyatakan aksi laskar FPI itu bukan razia atau swepping tetapi lebih pada pengawasan dan pengawalan terhadap Peraturan Daerah (Perda) No 10 Tahun 2004 tentang Pariwisata dan SK Gubernur No. 98 Tahun 2004 tentang Waktu Penyelenggaran Industri Pariwisata di DKI.

Berikut ini wawancara Tempo dengan Muhammad Allawi Usman, Ketua Badan Investigasi FPI:

Mengapa FPI melakukan razia di tempat-tempat hiburan malam?

Sebetulnya bukan razia dan juga bukan swepping tapi lebih pada pada pengawasan dan mengawal Perda. Bukan juga untuk mengambil kedudukan trantib dan polisi, tapi kami lihat trantib dan polisi dan pihak-pihak terkait dalam menjalankan Perda masih menutup mata terhadap pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di lapangan. Jadi sebetulnya kita tidak berniat swepping dan itu memang itu sudah menjadi program kami yaitu safari Ramadhan di lima wilayah.

Sehabis safari kita pulang bareng namanya. Walapun pulangnya agak mutar melewati tempat-tempat yang dianggap berindikasi sebagai tempat maksiat. Apakah mereka masih menghargai atau tidak? Kalau Anda katakan terjadi tindakan anarkis itu bukan keinginan kami seperti yang terjadi di Kemang kemarin. Kami diserang dulu oleh preman-preman. Kalau pun ada tempat yang kami tindak itupun bar. Itu bar jelas-jelas dilarang oleh perda.

Tetapi mereka juga sudah mematuhi Perda itu dengan tutup lebih awal

Nggak tuh dilapangan tidak. Kita bicara ekonomi saja sekarang dengan usaha jam sembilan malam sampai pukul dua pagi kalau Anda buka kafe, bar, atau sejenis tempat hiburan seperti karaoke, apakah Anda untung atau tidak?

Mungkin bisa mungkin juga tidak?

O enggak. Karena ada biaya macam-macam, seperti biaya AC, transpor, gaji karyawannya. Ini kan nggak mungkin (jika harus buka lima jam), pasti dilanggar. Jadi secara logika, mereka tidak mungkin patuh.

Mengapa tidak dilaporkan kepada polisi?

Kalau sudah buka dua, tiga hari sampai seminggu di bulan Ramadahan, saya pikir polisinya buta atau memang karena kafenya yang terlalu hebat. Jadi saya pikir dalam setiap permasalahan polisi tidak perlu menunggu laporan dari masyarakat untuk menindak. Dengan adanya Perda itu adalah perintah untuk melaksanakan perintah gubernur.

Apakah ini selalu dengan pengrusakan?

Saya rasa enggak, itu kan hanya sebagian kecil saja dari peristiwa yang kami jalani. Kami juga melakukann tablig akbar, mengadakan santunan terhadap anak-anak miskin.

Tindakan laskar FPI itu sebenarnya juga melanggar hukum.

Kami tahu itu. Saya sendiri pernah masuk penjara dan saya syukuri itu sebagai suatu kenikamatan bahwa perjuangan bisa dengan cara-cara yang lebih baik. Saya sadari itu walaupun yang berbuat anak buah saya, tapi dituntut bertanggung jawab saya siap saja.

Ada yang bilang FPI hanya menindak tempat hiburan yang tidak dibeking oleh orang kuat. Contohnya tempat hiburan dan perjudian di kawasan Mangga Besar, Kota dan Mangga Dua tidak ditindak?

Tidak juga. Saya invetigasi dan lihat semua bar-barnya tutup. Tetapi kalau menyangkut judi, ini masalah besar. Kalau menyerbu tempat judi saya harus menyiapkan antara 1.000 sampai 2.000 orang. Kalau saya sudah bicara 1.000 dan 2.000 dalam bulan Ramadhan ini sudah berbahaya. Terus terang berbahaya. Makanya kami hanya menurunkan 300 sampai 500 orang saja. Di Kemang kami turunkan 700 orang.

FPI masih hitung-hitung kekuatan?
Pertama dalam perjuangan FPI perang untuk menang. Kami tidak mau perang untuk kalah.

Apakah FPI juga dipesan orang tertentu untuk menghancurkan pengusaha saingannya?

Oh, enggak. Saya sudah buktikan dengan mengeluarkan belasan ustad yang terlibat hal-hal seperti perkenalan, pembekingan dukungan .

Dari FPI sendiri ada sanksi organisasi?

Pasti ada. Kita keluarkan.

Tetapi itu terjadi?

Ya, dalam setiap kehidupan juga ada. Polisi juga banyak beking-beking, hakim yang menjual palunya untuk hukum dan jaksa-jaksa. Itu juga dibayar mahal pakai fasilitas mobil rumah dan mobil.

Lalu kenapa tempat hiburan saja. Banyak tempat-tempat lain yang juga tempat maksiat seperti penjualan VCD porno di kawasan Glodok. Apa tindakan Anda?

Kita sentuh itu tetapi ada satu mudhorat yang paling besar. VCD porno itu menimbulkan SARA. Sebab kalau kami tindak akan menimbulkan kerusuhan SARA. Anda tahu bahwa yang jual VCD itu adalah orang-orang Batak beragama Kristen. Kalau kami bertindak ini akan dianggap seolah-olah perang antara umat Islam dan Kristen. Ya, kami juga hitung-hitungan. Kami tidak mau. Kalau kemaksiatan itu jelas.

Tetapi kalau memang gerakan ini bertujuan untuk kesejahteraan umat faktor SARA itu kan bisa diabaikan?

Memang begini, kami melakukan pengrusakan itu merugikan orang. Tetapi Anda jangan lupa, 11 bulan mereka merusak masyarakat. Berapa banyak bapak-bapak kehilangan pekerjaannya karena main pelacur, mati diatas pusar perempuan karena dia minum obat kuat, pemuda-pemuda yang mabok-mabok, foya-foya untuk minuman keras dan main perempuan. Berapa anak ibu kehilangan keperawanannya karena jadi pelacur, itu harus dihitung. Itu tidak ternilai. Saya juga tidak membenarkan FPI harus gerabak-gerubuk menghancurkan itu. Mbok kembali ke Atas.

Kenapa waktu itu tidak ditindak?

O, nggak karena kami tahu ada dinas pariwisata, ada dinas trantib dan polisi. Apakah tiga elemen ini tidak cukup menindak mereka. Tetapi kalau bulan Ramadhan kami tidak toleransi.

Jadi ini aksi ini selalu marak di bulan Ramadhan?

Sebelas bulan dia telah berbuat anarkis terhadap masyarakat. Kita diamin. Perda jelas mengatur bahwa semua bar dan tempat hiburan buka dari pukul 19.00 sampai 03.00 dini hari. Tapi kan yang kita tahu mereka sudah buka sore dan tutup jam lima pagi. Mereka sudah anarkis sebelas bulan dan kita diam saja.

Terus kenapa yang sebelas bulan itu Anda diam saja?

Oh sudah kita beritahukan tapi karena mungkin dasar budeg, jadi tidak bisa mendengar. Makanya bulan Ramadhan ini, kalau 11 bulan ini aparat berwenang sudah diberikan kesempatan menindak, jadi tolong sebulan ini jatah kami, hak kami sebagai warga masyarakat untuk menjaga kesucian bulan Ramadhan.

Anda yakin dalam satu bulan ini apakah efektif melawan yang 11 bulan itu?

Minimal kita memberikan shock therapy bagi masyarakat bahwa maksiat merugikan umat manusia.

Minimal dalam satu perjuangan ada langkah pertama. Jadi kita tidak langsung lari. Inilah langkah pertama kami. Jika ada dukungan masyarakat terhadap langkah pertama, kita akan lanjutkan dengan langkah kedua. Ini perjuangan lima tahun kedepan. Jadi kami sudah memberi kesempatan kepada aparat dan pemda melalui dinas pariwisata, Trantib untuk menindak. Tahun ini kami melihat kok tidak ada perubahan. Perda tetap perda, buka tetap buka.

Apakah ada sanksi bagi laskar yang merusak karena tindakan itu sendiri tidak dibenarkan secara hukum?

Pimpinan kami melarang tindakan-tindakan seperti itu tetapi kami sebagai pemuda laskar juga merasa dilecehkan pengusaha. Jadi kalau pengusaha nggak mau kena panas ya jangan main api dong!

Apakah aksi ini akan tetap dilakukan?
Kalau tablig akbar tetap. Tapi kalau pulang bersama kita minta petunjuk polisi. Mau lewat mana kita mau pulang ke markas di Petamburan.

Bagaimana dengan peringatan polisi terhadap aksi laskar FPI?

Kami terima itu dengan lapangan dada. Anggaplah sebagai jeweran anak kecil dari orang tua. Bila Kapolda akan menangkap laskar, kami persilahkan. Tetapi jangan lupa preman-preman itu juga.

Edy Can ?Tempo


 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

FPI Akan Terus Sweeping Tempat Hiburan
Habib Riziq: Dakwaan untuk Ba'asyir, Dagelan
Rusuh Saat Penertiban, 3 Kamerawan TV Dikeroyok
Ketua Muhammadiyah Minta Aksi FPI Dihentikan
Pembongkaran Peninggalan Sejarah HB VII Gagal.
Ratusan Ayam Tiren Disita
Tiga Truk Minuman Keras Disita
Dinas Tenaga Kerja Sumsel Jamin Perusahaan Bayar THR
Tempat Hiburan Malam yang Tutup Dipasangi Stiker Merah
Pihak Kementrian Kesra Kunjungi Sang Timur
> selengkapnya...


Referensi

"Tolong Sebulan ini Jatah Kami Menindak."
UU RI No. 16 Thn. 2003 tentang Penanganan Bom Bali

Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [8]

Berita Terakhir

Jalur Motor Bukan Solusi Kemacetan Jakarta
Nadine Rela Menekuk Badan
Raikkonen Siap Bantu Massa
Presiden Minta Heru Lelono Jelaskan Soal Super Toy
Pajak Kendaraan Bermotor Disepakati Naik 1-2 Persen

<< October,2004>>
MSnSl RK JS
     01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data