Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Narasi  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
   

Nasional

Yayasan Pulih yang Pulihkan Trauma
Jum'at, 10 September 2004 | 20:07 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Jumlah korban meninggal dalam ledakan bom di depan Kedutaan Besar Australia, sampai 9 September 2004, sebanyak 9 orang. Korban luka-luka sekitar 108 orang. Namun, jumlah korban itu bisa bertambah berkali lipat. Yang memperpanjang daftarnya adalah mereka yang menjadi menderita secara psikis.

Yayasan Pulih, sebagai Pusat Pencegahan dan Intervensi Trauma Psikologis, bisa berbagi cerita soal ini. Sebab, lembaga yang berkantor di Jalan Kemang III/8A, Jakarta Selatan (pulih@cbn.net.id) ini punya pengalaman menangani korban yang menderita trauma psikologis dalam kasus bom JW Marriott, 5 Agustus 2003 lalu.

Menurut Pengurus Divisi Riset dan Pengembangan Yayasan Pulih, Nelden Jakaba, untuk menghitung jumlah persis korban trauma, tidak mudah. Sebab, tak semua korban bersedia membuka diri untuk mendapatkan konseling. Selain itu, tak semua korban peristiwa traumatik, seperti korban pemboman, dan semacamnya, menderita trauma berkepanjangan. Sebab, tiap orang pada dasarnya punya mekanisme alamiah untuk menghadapi kondisi semacam itu. Biasanya, masalah itu akan selesai dalam empat sampai enam minggu dari peristiwa. Dan, penyembuhan akan dipercepat oleh lingkungan yang mendukung.

Hanya saja, jika trauma belum juga reda setelah empat sampai enam minggu, maka diperlukan pertolongan dari luar. “Karena setiap orang punya resistensi tersendiri terhadap masalah seperti ini. Ini juga tergantung dari pengalaman sebelumnya dan bagaimana dia dibesarkan lingkungannya,” katanya.

Masih menurut Nelden, tidak hanya orang yang terluka parah yang mengalami trauma, tapi juga yang “hanya” luka kecil. “Mungkin dia berpikir, kenapa dia hanya luka ringan, sementara temannya luka lebih parah atau sampai meninggal. Ada rasa bersalah dalam dirinya,” katanya.

Dalam menangani korban trauma bom Marriott, Pulih melakukan sosialisasi kepada korban sekitar 2-3 minggu setelah kejadian. Para korban diharapkan dan harus diberi kesempatan menyembuhkan dirinya sendiri. Sebab, tak selamanya orang bisa lebih cepat sembuh dengan bantuan orang luar. Beberapa penelitian dalam kasus semacam ini setelah tragedi 11 September 2001 di Amerika Serikat, ada orang yang lambat sembuh jutru setelah mendapat bantuan dari luar.

Kini, setelah ledakan bom di depan Kedubes Australia, pihaknya juga berencana melakukan hal serupa. Dia juga menduga, banyak korban yang akhirnya akan ditangani lembaganya. Sebab, lembaga yang menangani kasus-kasus semacam ini tak banyak jumlahnya. Padahal, kemungkinan masih banyak peristiwa traumatis yang akan terjadi.

A Manan - Tempo


 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Pelaku Bom Braga Ditangkap
Polda Jawa Barat Kerahkan 14 Ribu Personil
Polisi Nyaris Menangkap Azahari dan Noor Din Moh Top di Cengkareng
Kedutaan Australia Tidak akan Dipindahkan
Bom Memakai 200 Kg Potassium Chloride
MK: Pelaku Bom Kedubes Australia Diancam Hukuman Mati
Tingkat Kunjungan Wisatawan Asing di Bali Menurun
Menko Polkam: Bom Kuningan Belum Terkait Pemilu
Konsulat Australia dan AS di Denpasar Tutup
Pembela Ba'asyir Cabut Permohonan Praperadilan
> selengkapnya...


Referensi

Kronologi Kasus Abdul Jabar
Perjalanan Ali Gufron
Kronologi Kasus Imam Samudra.
Yayasan Pulih yang Pulihkan Trauma
Haji Bambang : Apa Mereka Belum Puas
Profil Tim Relawan untuk Kemanusiaan
InpresRI No. 5 Thn 2002 (kepada Kepala Badan Intelijen Negara sehubungan dengan terorisme)
Inpres RI No. 4 Thn 2002 (kepada Menteri Negara Koordinator Bidang Politik dan Keamanan sehubungan dengan terorisme)
UU RI No.15 Thn 2003 Tentang Penetapan PERPU 1/2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Menjadi Undang-Undang
> selengkapnya...

Website

Majelis Mujahidin Indonesia
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta
Kepolisian Republik Indonesia
Departemen Luar Negeri


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< September,2004>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data