Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Narasi  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
   

Nasional

Haji Bambang : Apa Mereka Belum Puas
Jum'at, 10 September 2004 | 20:03 WIB

TEMPO Interaktif, Kuta: Kamis (9/9) pagi, Haji Bambang Agus Priyanto asyik mengikuti ceramah soal narkoba di Polda Bali. Tak ada firasat sedikitpun, akan ada sebuah kejadian yang membangkitkan kembali kenangannya terhadap tragedi bom Bali, 12 Oktober 2002. Siang harinya, sekitar pukul 11.00 Wita, ia pulang ke rumahnya di Jalan Pantai Kuta 47, teriakan sang istri mengagetkannya. “Pak bom lagi di Jakarta.”

Bambang langsung menyimak siaran televisi yang menayangkan kesibukan evakuasi korban bom yang meledak di depan Kedutaan Besar Australia. Ketika melihat hirup pikuk dan kepanikan yang terekam di layar kaca, rekaman atas korban-korban bom Bali pun ikut bangkit. Suara lolongan minta tolong dan rintihan kesakitan terdengar kembali di telinganya. Asap hitam mengotori seperti kembali terasa panas dan pedihnya. Gagu dan seketika tak bisa bicara. Air mata menetes tanpa terasa.

Ternyata, bagi pria berusia 45 tahun ini, menonton dari kejauhan justru jauh lebih menyedihkan dibanding saat terlibat langsung menolong para korban bom di Sari Club dan Paddy’s, dua tahun silam.

Seharian itu, Bambang seperti orang kebingungan, mencari jawab kenapa masih terus terjadi. Malam hingga dini hari, ia berkeliling di kawasan Kuta, berpikir, merenung tentang tragedi itu. Bambang langsung meronda, mengingatkan penduduk setempat agar waspada, dan yang penting agar umat Islam di Kuta tidak terpancing.

”Kalau ketemu para pelaku, saya ingin bertanya, apa mereka belum puas dengan bom Bali dan Bom Marriot, atau jangan-jangan mereka itu sudah jadi maniak, melihat korban-korban berlumuran darah, daging yang tercerai berai, dan jerit tangis korban,” tutur Bambang yang lahir di Kuta ini.

Yang bisa melakukan perbuatan seperti itu, menurutnya, hanyalah manusia yang berhati iblis. Apalagi sudah jelas kebanyakan korban pasti orang yang tak berdosa dan tidak mengerti apa-apa. “Lihat di Jakarta itu, hampir semua korbannya muslim, jadi kalau mereka bawa nama Islam, apa mereka sah? Amit-amit deh mereka itu merusak agama Islam,” katanya marah.

Bagi Bambang, peristiwa bom di Jakarta adalah pelajaran buat bangsa ini. Sementara di Kuta, orang-orang sudah mulai tersenyum. Pedagang-pedagang kecil yang jualan nasi mulai ramai, turis-turis mulai berdatangan. “Tapi sekarang semua cemas lagi. Banyak yang bilang sakit giginya kambuh kembali,” kata Bambang.

Karena tak bisa membantu langsung, ia cuma berharap, agar semua petugas dan relawan memberikan bantuan dengan ikhlas, semata-mata karena kemanusiaan dan bukan karena alasan lain.

Menolong korban bom, memang bukan pekerjaan mudah. Selesai menolong dan menguburkan para korban, tapi ingatan yang ada tetap mengganggu. Bambang sendiri mengaku sempat trauma, karena setiap saat bisa teringat kembali tragedi itu. “Seperti film yang diputar ulang karena suara jerit tangis, rasa panas kobaran api langsung bisa terasa kembali. Bahkan bisa teringat persis bagaimana posisi korban saat itu. Kadang malam enggak bisa tidur dan tak
terasa menangis karena ingat tragedi itu,” tutur Bambang.

Bambang juga berpesan kepada para saksi mata, jangan takut bersaksi karena kalau ketakutan, tujuan para teroris itu akan tercapai. Mereka itu, tegas dia, sengaja menebar ketakutan dengan perbuatan yang biadab dan kejam. “Jangan hanya mengutuk saja. Memang ada risikonya, tetapi di dunia ini apa yang tidak ada risikonya,” kata Ketua Takmir Masjid Raya Istiqomah, Kuta ini.

Bom Bali memang tak bisa dipisahkan dari perjalanan hidupnya. Kini ia menjadi penasihat Yayasan Paguyuban Isanak Dewata Bali yang anggotanya adalah istri, suami dan anak korban bom Bali. Yayasan yang berkantor di rumahnya ini beranggotakan 22 kepala keluarga dan 47 jiwa. “Ini lebih banyak untuk silaturahmi,” jelasnya.

Rofiqi Hasan – Tempo News Room


 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Polda Jawa Barat Kerahkan 14 Ribu Personil
Polisi Nyaris Menangkap Azahari dan Noor Din Moh Top di Cengkareng
Kedutaan Australia Tidak akan Dipindahkan
Bom Memakai 200 Kg Potassium Chloride
MK: Pelaku Bom Kedubes Australia Diancam Hukuman Mati
Pembela Ba'asyir Cabut Permohonan Praperadilan
Kapolri: Azahari dan Noordin Top Terus Mobile
Manuela Dipindah Ke Rumah Sakit Singapura
Downer Temui Megawati
Konjen AS dan Perancis di Surabaya Diancam Bom
> selengkapnya...


Referensi

Kronologi Kasus Abdul Jabar
Perjalanan Ali Gufron
Kronologi Kasus Imam Samudra.
Haji Bambang : Apa Mereka Belum Puas
Profil Tim Relawan untuk Kemanusiaan
Tim Relawan: Korban Biasanya Orang Kecil
InpresRI No. 5 Thn 2002 (kepada Kepala Badan Intelijen Negara sehubungan dengan terorisme)
Inpres RI No. 4 Thn 2002 (kepada Menteri Negara Koordinator Bidang Politik dan Keamanan sehubungan dengan terorisme)
UU RI No.15 Thn 2003 Tentang Penetapan PERPU 1/2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Menjadi Undang-Undang
> selengkapnya...

Website

Majelis Mujahidin Indonesia
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta
Kepolisian Republik Indonesia
Departemen Luar Negeri


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [2]


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< September,2004>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data