|
Nasional
Profil Tim Relawan untuk Kemanusiaan
Jum'at, 10 September 2004 | 20:01 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Berawal dari penyerbuan kantor DPP-PDI pada tanggal 27 Juli 1996, sejumlah LSM dan individu membentuk sebuah tim yang bertujuan membongkar kekerasan politik dan memberi pertolongan pada para korban tragedi tersebut.
Setelah itu berulangkali tim tersebut berkumpul menangani korban-korban tragedi kemanusiaan yang melanda di berbagai penjuru Nusantara. Pergaulan dengan masyarakat korban dan juga karena tuntutan agar bekerja lebih sistematis akhirnya mendorong para pengurus – saat itu di bawah koordinasi Sandyawan Sumardi, SJ – untuk melembagakan gerakan tersebut menjadi Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK), pada 24 Mei 1998.
Menurut salah seorang anggota Dewan Penasihat, Ade Rostina Sitompul, pada masa awal terbentuknya 1998-1999, yang aktif di Tim Relawan banyak dari kalangan terkenal, sehingga banyak pihak yang tertarik membantu.
Pada 2001 ke atas, kegiatan Tim Relawan lebih banyak dikoordinasikan oleh kalangan muda, baik yang berprofesi mahasiswa atau karyawan. Sekitar 20-an orang yang terlibat intens dalam kegiatan Tim Relawan.
Menurut salah seorang anggota Tim Relawan yang turun ke lapangan saat ledakan bom Kuningan kemarin, Saldi mengakui terjadi perubahan sikap aparat dalam menangani kasus bom jika dibandingkan sebelum bom JW Marriott. “Saat bom Marriott dan Kuningan korban lumayan diperhatikan, berbeda jauh dengan korban bom Natal. Secara material perhatian dari negara berbeda, dulu banyak yang tidak ada akses ke bantuan,” ujarnya.
Erwin PZ - Tempo
|