|
Jejak Langkah Azahari
Jum'at, 10 September 2004 | 13:47 WIB
Jejak Langkah Azahari
DOKTOR Azahari Husin menjadi orang yang paling dicari setelah tertangkapnya Hambali, buron kakap yang dituding berada di balik serangkaian pengeboman di Indonesia, dua pekan lalu di Ayutthaya, Thailand. Nama bekas dosen di Universiti Teknologi Malaysia ini pertama kali muncul dalam peledakan bom Bali, 12 Oktober 2002 lalu. Ia disebut oleh Ali Imron, salah seorang terdakwa peledakan itu, sebagai peracik dan perakit bahan kimia untuk dijadikan bom di rumah kontrakan Jalan Pulau Menjangan, Denpasar. Saat itu lelaki yang pernah ikut kursus bom tingkat lanjut di Kandahar, Afganistan, ini memakai nama samaran Alan. Bom yang dibuat lelaki berkacamata inilah yang meluluh-lantakkan Pady's Café dan Sari Club di Jalan Legian, Kuta, Bali, dan menewaskan 202 orang. Sebagai orang yang paling dicari, Azahari punya jam terbang lumayan. Manuvernya melintas batas antarnegara. Berikut jejak-jejaknya.
1999
Filipina Selatan
Lelaki berperawakan tinggi dan putih ini dikenal sebagai instruktur bom di kamp gerilyawan MILF (Moro Islamic Liberation Front) di Mindanao, Filipina Selatan.
2000
Kandahar, Afganistan
Bersama Hambali alias Encep Nurjaman, ia mengikuti kursus bom tingkat lanjut di Kandahar, Afganistan.
Akhir Januari-Maret 2002
Thailand
Azahari dan Nurdin Mohammad Top menyusul Ali Imron dkk., yang lebih dahulu tiba di Negeri Gajah Putih, setelah dikejar-kejar pemerintah Malaysia atas dugaan terlibat organisasi Kumpulan Mujahidin Malaysia. Mereka bertemu di Terminal Yala, Thailand Selatan. Ini dikatakan Ali Gufron alias Muchlas dalam pemeriksaan di Polda Bali.
5 Oktober 2002
Lamongan, Jawa Timur
Menurut Ali Imron, adik Muchlas, tujuh hari sebelum bom Bali, subuh-subuh Azahari alias Alan bersama dengan Dulmatin datang ke rumah Amrozi di Tenggulun, Solokura, Lamongan, Jawa Timur. Siang harinya, mereka bertiga melaju ke Bali dengan mobil Vitara hijau milik Amrozi.
Awal tahun sampai April 2003
Bengkulu
Azahari dan Nordin M. Top, keduanya warga Malaysia, bersama Idris alias Gembrot terlihat membantu usaha fotokopi Lavena milik Asmar Latin Sani di lingkungan kampus Universitas Bengkulu. Beberapa mahasiswa memastikan Idris, yang kemudian kabur dan ditangkap di Pekanbaru, berada di Lavena.
12 Oktober 2002
Legian, Kuta, Bali
Bom meledak di depan Paddy's Café dan Sari Club. Ledakan dahsyat menewaskan 202 orang, di antaranya 84 turis Australia.
7-10 Oktober 2002
Kontrakan Jalan Pulau Menjangan, Denpasar, Bali
Ia berada di rumah kontrakan Jalan Pulau Menjangan 18, Denpasar, Bali. Di sinilah Azahari meracik ramuan bom yang dibeli Amrozi, merangkai detonating cord ke rak plastik yang sudah diisi bahan peledak. Sekitar pukul 16.00 WITA, Dulmatin dan Azahari meninggalkan rumah kontrakan setelah mengajari Ali Imron cara menyalakan switch yang ada di rompi dan mobil L-300.
6 Oktober 2002
Denpasar, Bali
Azahari, Ali Imron, dan Dulmatin sempat menginap di Hotel Harum, Teuku Umar, Denpasar (berita acara pemeriksaan Amrozi).
5 Agustus 2003
Jakarta
Terjadi ledakan bom di depan Restoran Syailendra Hotel JW Marriott, kompleks Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Ledakan yang mengguncang Jakarta itu menewaskan 12 orang dan melukai ratusan warga. Polisi menuding Azahari sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas peledakan itu.
April-Juli 2003
Jakarta
Polisi memperkirakan Azahari, Nordin M. Top, Tohir, dan Asmar Latin Sani sudah berada di Jakarta.
Sumber: Majalah Tempo, Edisi 01 - 07 September 2003
|