|
Al-Qaida
Senin, 17 Mei 2004 | 00:05 WIB
Saat ini, masyarakat dunia benar-benar menghadapi ancaman terorisme. Gerakan koalisi dunia pun dibentuk Amerika Serikat, menerapkan segala cara berkekuatan nasional dan internasional dalam komandonya: diplomasi, tekanan hukum, intelijen, pemeriksaan keuangan, aksi militer dan bantuan pangan. Di tingkat diplomasi, sudah ditandatangani resolusi Dewan Keamanan PBB yang mewajibkan ke-189 anggotanya untuk mengakhiri semua aksi teroris dan bantuan terhadap teroris, serta membawa pelaku teror untuk diadili.
Al-Qaida adalah jaringan yang sudah disamakan dengan ancaman terorisme global itu. Bahkan, para penyelidik di seluruh dunia sudah menangkap ratusan orang yang diduga terkait dengan Al-Qaida. Lebih dari 112 negara mengeluarkan perintah pemblokiran dan pembekuan aset yang digunakan untuk mendanai terorisme yang ditemukan di mana saja dari rekening bank di Amerika sampai organisasi penyantun di Eropa, bahkan sampai aliran dana di toko-toko madu di Timur Tengah. Gugus Tugas Departemen Keuangan 29 negara yang tergabung dalam koalisi memainkan peran aktif khusus mengenali dan menghentikan aliran dana organisasi teroris. Kini, Al Qaida jadi buronan, dan jaringannya dibongkar sel demi sel, goa demi goa.
Negara-negara yang diduga tempat Al-Qaida dan kelompok afiliasinya beroperasi: Afganistan, Afrika Selatan, Albania, Aljazair, Amerika Serikat, Arab Saudi, Australia, Austria, Azerbeijan, Bahrain, Bangladesh, Belanda, Belgia, Bosnia, Eritrea, Filipina, India, Inggris, Iran, Irlandia, Italia, Jerman, Kenya, Kosovo, Libanon, Libya, Malaysia, Mauritania, Mesir, Pakistan, Perancis, Qatar, Rusia, Somalia, Sudan, Swiss, Tajikistan, Tanzania, Tunisia, Turki, Uganda, Uni Emirat Arab, Uzbekistan, Yaman dan Yordania
Menurut pemerintah Amerika Serikat, jauh sebelum peristiwa 11 September 2001 terjadi, Al-Qaida sudah memiliki catatan pembunuhan dan penghancuran yang panjang. Pada Oktober 1993, mata-mata yang dilatih jaringan Al-Qaida membunuh 18 tentara AS yang sedang bertugas sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB di Somalia. Pada Agustus 1998, organisasi itu juga membom kedutaan besar AS di Kenya dan Tanzania, membunuh 223 orang dan melukai lebih dari 4.000 orang yang sebagian besar merupakan warga negara Kenya. Lalu, pada Oktober 2000, para teroris itu menyerang kapal Angkatan Laut AS USS Cole dengan menabrakkan sebuah perahu kecil yang membawa bom: 17 awak kapal berkebangsaan Amerika tewas.
Al-Qaida memiliki hubungan yang erat dengan gerakan jihad Islam di Mesir, gerakan Islam Uzbekistan, dan beberapa kelompok teroris. Bila suatu aksi teror menemui kegagalan, Al-Qaida tidak mau menyatakan bertanggungjawab, meski begitu keterlibatannya pada konspirasi kelompok teroris lainnya tetap terlihat. Pada Januari 1995, petugas keamanan Filipina menemukan sebuah rencana penghancuran 12 pesawat jet yang melintas di Lautan Pasifik.
Di Yordania, petugas di sana menggagalkan rencana yang disebut Plot Milenium untuk menyerang orang-orang Barat di Yordania dalam perayaan 1 Januari 2000. Rencana untuk membom bandar udara internasional Los Angeles digagalkan para petugas di perbatasan Kanada yang menemukan bahan-bahan bom di dalam satu mobil. Pejabat di Frankfurt, Jerman, menahan anggota dari sebuah sel teroris yang merakit bom dan memiliki pita video yang merekam sebuah pasar Natal di Strasbourg, Prancis.
Pemerintah Amerika juga mengeluarkan "Daftar Teroris yang Paling Dicari". Bersama dengan para tersangka Al-Qaida, ada 22 nama para tersangka pelaku pembajakan pesawat jet TWA pada 1985 yang membunuh seorang penumpang asal Amerika; pelaku peledakan truk tanki di Menara Khobar, kompleks militer di Dhahran, Arab Saudi yang membunuh 19 personil angkatan udara AS dan melukai 280 lainnya; dan pelaku pengeboman World Trade Center pada 1993 yang membunuh enam orang dan melukai ratusan orang.
Daftar Teroris Paling Dicari FBI
- Osama bin Laden dicari dalam kaitan pengeboman kedutaan besar Amerika di Darus Salam, Tanzania, dan Nairobi, Kenya. Serangan tersebut telah menewaskan lebih dari 200 orang. Bin Laden juga dicurigai terlibat dalam pelbagai serangan teroris di seluruh dunia.
- Hasan Izz-Al-Din didakwa atas perannya sebagai perencana dan pelaku aksi pembajakan pesawat komersial pada 14 Juni 1985, yang berujung pada penyerangan pada penumpang dan awak pesawat, serta pembunuhan seorang warga Amerika.
- Imad Fayez Muqniyah didakwa atas perannya sebagai perencana dan pelaku aksi pembajakan pesawat komersial pada 14 Juni 1985, yang berujung pada penyerangan pada penumpang dan awak pesawat, serta pembunuhan seorang warga Amerika.
- Mustafa Mohamed Fadhil didakwa di New York pada 16 Desember 1998, atas keterlibatannya dalam pengeboman kedutaan besar Amerika di Tanzania dan di Kenya pada 7 Agustus 1998, serta ikut bersekongkol untuk membunuh warga Amerika.
- Fazul Abdullah Mohammed didakwa di New York pada 17 Desember 1998, atas keterlibatannya dalam pengeboman kedutaan besar Amerika di Tanzania dan di Kenya pada 7 Agustus 1998.
- Ibrahim Salih Mohammed Al-Yacoub didakwa di Virginia atas kasus pengeboman kompleks perumahan militer Khobar Towers di Dahran, Arab Saudi, pada tanggal 25 Juni 1996.
- Ahmed Mohammed Hamed Ali Ali dicari dalam kaitan pengeboman kedutaan Amerika di Tanzania dan di Kenya pada 7 Agustus 1998.
- Abdul Rahman Yasin dicari untuk peran sertanya dalam pengeboman World Trade Center di New York pada 26 Februari 1993 yang mengakibatkan enam orang tewas, banyak orang cedera, dan kerusakan harta benda dalam nilai besar.
- Ahmed Khalfan Ghailani Ghailani didakwa di New York pada 16 Desember 1998, atas keterlibatannya dalam pengeboman kedutaan Amerika di Tanzania dan di Kenya pada 7 Agustus 1998.
- Fahid Mohammed Ally Msalamdidakwa di New York pada 16 Desember 1998, atas keterlibatannya dalam pengeboman kedutaan Amerika di Tanzania dan di Kenya, serta ikut bersekongkol untuk membunuh warga Amerika.
- Ali Atwa didakwa atas perannya sebagai perencana dan pelaku aksi pembajakan pesawat komersial pada 14 Juni 1985, yang berujung pada penyerangan pada penumpang dan awak pesawat, serta pembunuhan seorang warga Amerika.
- Anas Al-Liby dicari dalam kaitan pengeboman kedutaan Amerika di Tanzania dan di Kenya pada 7 Agustus 1998
- Ahmad Ibrahim Al-Mughassil didakwa di Virginia untuk kasus pengeboman kompleks perumahan militer Khobar Towers di Dahran, Arab Saudi, pada tanggal 25 Juni 1996..
- Muhsin Musa Matwalli Atwah dicari dalam kaitan pengeboman kedutaan Amerika di Tanzania dan di Kenya pada 7 Agustus 1998.
- Abdullah Ahmed Abdullah Abdullah didakwa untuk keterlibatannya dalam pengeboman kedutaan Amerika di Tanzania dan di Kenya pada 7 Agustus 1998.
- Sheikh Ahmed Salim Swedan didakwa di New York pada 16 Desember 1998, untuk keterlibatannya dalam pengeboman kedutaan Besar Amerika di Tanzania dan di Kenya pada 7 Agustus 1998, serta ikut bersekongkol untuk membunuh warga Amerika.
- Abdelkarim Hussein Mohamed Al-Nasser Nasseer telah didakwa di Virginia untuk kasus pengeboman kompleks perumahan militer Khobar Towers di Dahran, Arab Saudi, pada tanggal 25 Juni 1996.
- Ayman Al-Zawahiri telah didakwa atas perannya dalam pengeboman kedutaan Amerika di Tanzania dan di Kenya pada 7 Agustus 1998.
- Khalid Shaikh Mohammed didakwa di New York pada Januari 1996 atas keterlibatannya dalam rencana pengeboman pesawat komersial yang terbang ke Amerika Serikat dari Asia Tenggara pada Januari 1995.
- Saif Al-Adel dicari dalam kaitan pengeboman kedutaan Amerika di Tanzania dan di Kenya pada 7 Agustus 1998.
- Muhammad Atef Atef telah didakwa atas keterlibatannya dalam pengeboman kedutaan Amerika di Tanzania dan di Kenya pada 7 Agustus 1998.
- Ali Saed Bin Ali El-Hoorie didakwa di Virginia untuk kasus pengeboman kompleks perumahan militer Khobar Towers di Dahran, Arab Saudi, pada 25 Juni 1996.
Al Qaida-Taliban
Lebih dari 20 tahun, sekitar empat juta orang Afganistan mengungsi ke luar negeri. Sejak mengambil kekuasaan pada 1996, rezim Taliban di Afganistan sudah menimbulkan malapetaka kemanusiaan. Jutaan orang melarikan diri karena kekeringan, perang dan kebijakan represif yang dilakukan rezim Taliban, termasuk 80-100 ribu yang mengungsi sejak peristiwa 11 September 2001.
Saat ini, Taliban dalam versi Amerika Serikat dan sekutunya merupakan rezim yang paling represif dan kejam dan secara sistematis melanggar hak asasi manusia. Mereka menyerang dan membakar kota, membunuhi kaum sipil, menggunakan anak-anak dalam militer dan mengambil keuntungan dalam perdagangan heroin. Serangan rezim itu terhadap kaum perempuan merupakan sesuatu yang belum pernah terjadi di zaman modern. Wanita dilarang bersekolah atau melakukan perniagaan, tidak boleh mendapat pelayanan kesehatan dan dilarang meninggalkan rumah tanpa pengawalan seorang pria. Janda atau wanita tanpa suami, dengan atau tanpa anak, diperlakukan sebagai bukan manusia oleh negara dan sering menderita kelaparan.
Tapi bukan itu yang membuat Amerika melakukan operasi militer di Afganistan. Amerika menggunakan kekuatan militer karena Taliban, meskipun berulang kali sudah diperingatkan, tetap saja mendukung dan melindungi Osama bin Laden dan jaringan Al-Qaida. Taliban diyakini sudah dibeli dan dibayar Osama bin Laden. Dalam hal ini hubungan mereka bukan lagi "negara yang mendukung terorisme", tapi Taliban lebih tepat dikatakan sebagai "negara yang didukung teroris." Al-Qaida menyediakan latihan, senjata, tentara, dan uang yang banyak bagi Taliban. Sebaliknya, Taliban menyediakan tempat yang aman dan fasilitas logistik.
Jaringan inilah -Taliban dan Al Qaida, bukan orang-orang Afganistan- yang menjadi target operasi militer Amerika. Berulang kali Amerika memperingatkan agar Taliban menyerahkan bin Laden dan para rekannya, atau mereka akan menerima akibatnya. Ternyata pilihan terakhirlah yang ada dan membuat masyarakat Afganistan ikut menderita saat jaringan Al-Qaida diketahui keberadaannya dan dihancurkan. Negara koalisi mengklaim, nasib tragis yang diderita kaum sipil Afganistan akibat serangan udara sebenarnya dapat terhindar jika Taliban dan Al-Qaida bertanggung-jawab terhadap penderitaan kaum yang tidak bersalah itu.
Terhadap masyarakat Afganistan, kelompok Talibanpun dinilai sudah berkhianat dan bertindak sewenang-wenang sejak berkuasa pada 1996. Rakyat Afganistan dipaksa menjadi tuan rumah bagi pasukan teroris asing bersenjata yang sudah mengeksploitasi dan membahayakan rakyat Afganistan serta membuat Afganistan menjadi negara paria dalam masyarakat dunia.
Ada banyak tuduhan denagn pengajuan fakta yang ditujukan negara koalisi kepada Taliban, diantaranya Taliban membunuh ratusan warga sipil Afganistan, termasuk wanita dan anak-anak, di Yakaolang, Mazar-I- Sharif, Bamiyan, Qezebalad, dan kota-kota lain. Banyak dari korban pembunuhan ini menjadi sasaran karena faktor suku atau agama mereka.
Lalu, anak perempuan secara resmi dilarang bersekolah. Dengan sedikit perkecualian, para wanita dilarang bekerja di luar rumah dan dilarang meninggalkan rumah tanpa ditemani muhrim pria. Kaum wanita juga makin sulit mendapatkan perawatan kesehatan karena Taliban menyatakan pasien wanita hanya boleh ditangani oleh dokter wanita.
Dua puluh tahun pertikaian bersenjata internal dan empat tahun kekeringan membuat situasi begitu menyedihkan. Tapi, Taliban justru membuatnya lebih buruk dengan perilaku korup. Taliban tidak ikut merasakan penderitaan rakyat Afganistan, dan tidak berbuat apa pun untuk menghilangkan penderitaan itu. Bahkan, Taliban mengganggu usaha lembaga sosial internasional yang mengirimkan makanan dan obat-obatan.
Taliban juga menggunakan Islam sebagai selubung dalam praktek pembersihan etnis di Afganistan. Sebagai upaya peringatan "agar negara kita tidak jadi Afganistan yang lain," penulis Arab Saudi Turki Al Hamad, menyatakan dalam As-Sharq Al Awsat: "…[di bawah rezim Taliban], Islam akan turun derajatnya dari agama dunia dengan misi kemanusiaan dan peradaban global menjadi sekadar ajaran kaku ala Taliban yang melarang memelihara merpati, rambut panjang, layang-layang, dan mendengarkan musik."
Selain itu, Taliban juga membengkokkan adat-istiadat, tradisi, dan praktek keagamaan rakyat Afganistan untuk kepentingan politik. Mereka menjarah dan merusak peninggalan budaya dan sejarah bangsa Afgan -Museum Kabul yang pernah dikenal sebagai museum terbaik di kawasan itu, kini kosong melompong; patung-patung Budha yang sudah berumur ratusan abad di Bamiyan dihancurkan dan menjadi puing.
Satu tekad Amerika dan negara koalisi lainnya, menamatkan cerita Taliban dan Al-Qaida. Matinya jaringan itu dinilai akan membuat masa depan Afganistan lebih cerah. Atau hanya lantaran Amerika mulai kesulitan finansial? Maklum, sebelum tragedi 11 September saja, Amerika sudah menjadi negara donor tunggal terbesar untuk bantuan kemanusiaan Afganistan dengan sumbangan sekitar $180 juta. Kali ini, Amerika “terpaksa” menyumbangkan bantuan baru senilai $320 juta untuk warga Afganistan.
Levi Silalahi, Berbagai Sumber
|