|
Nasional
Pengejaran Dr. Azahari dan Noordin Mohamad Top
Senin, 10 Mei 2004 | 17:37 WIB
TEMPO Interaktif :
Polisi hampir saja menangkap Dr. Azahari dan Noordin Mohamad Top, orang paling berbahaya di Asia Tenggara dan otak peledakan bom Bali dan Hotel JW Marriott. Sayang, dalam penggerebekan mereka di Bandung, Rabu (29/10/2003) malam, keduanya lolos di depan mata.
Perjalanan Setelah Marriott
- 22 Juni 2003: Dr. Azahari, Noordin Mohamad Top, Tohir, Ismail, dan Asmar Latin Sani tiba di Jakarta untuk mempersiapkan pengeboman Hotel Marriott. Mereka tinggal di Jalan Kemuning Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
- 4 Agustus: Sehari sebelum Hotel Marriott diledakkan, Noordin Mohamad Top dan Tohir pindah ke Bandung dan tinggal di Cibadung Raya.
- 5 Agustus: Asmar meledakkan Hotel Marriott dengan bom bunuh diri. Azahari dan Ismail menyingkir ke Bandung. - September: Dr. Azahari dan kelompoknya pindah ke Jalan Kebon Kembang No. 24A Kelurahan Balubur, Kota Madya Bandung, 500 meter dari Rektorat ITB.
- Senin, 27 Oktober 2003: Polisi mendapat informasi Tohir dan Ismail ke Cirebon, untuk menelepon mertua Noordin.
- Rabu, pukul 04.00 WIB: Polisi menggerebek Hotel Gunung Sahari, Jalan Pelajar Pejuang No. 93, Cirebon, dan menangkap Tohir/Ismail berikut sejumlah barang bukti.
Barang bukti dari Tohir, 29 tahun: tiga bom tangan, diduga untuk bunuh diri (satu dalam kemasan rokok Marlboro, dua dalam pipa paralon); paspor K.227967 atas nama Masrizal yang dikeluarkan imigrasi Pekan Baru; sebuah ponsel.
Barang bukti dari Ismail, 28 tahun: dua bom tangan (satu dalam kemasan rokok Marlboro, satu dalam kotak kacamata; sebuah ponsel.
- Rabu, pukul 21.30 WIB: Polisi menggerebek tempat tinggal Dr. Azhari dan Noordin, tapi keduanya kabur ke arah perkampungan. Awalnya polisi terkecoh oleh penampilan keduanya, kemudian tak berani mengejar ke perkampungan karena khawatir keduanya akan meledakkan bom dalam tas yang mereka bawa. Polisi menemukan empat bom rakitan dari tempat tinggal keduanya.
Pusat Data dan Analisa Tempo
|