|
Paketan Bom di Indonesia
Sabtu, 17 April 2004 | 18:13 WIB
Ada banyak kasus bom yang pernah mengguncang Indonesia. Sebagian besar mengandung unsur politik, meski sulit dikategorikan sebagai teror sistematis seperti di belahan dunia lain -di Timur Tengah, Jerman, atau Irlandia. Bom-bom ala Indonesia umumnya dipersiapkan secara amatiran. Sama amatirannya dengan penyidikan aparat terhadap setiap kasusnya. Terlalu amatirannya, sebagian besar kasus bom tetap menggantung menjadi misteri. Betapapun amatirannya, teror tetaplah teror.
Walau dipersiapkan secara amatiran, daya ledak bom di Indonesia termasuk dahsyat. Ledakan bom di tempat parkir P2 Gedung Bursa Efek Jakarta, September 2000 saja menyebabkan lebih dari sepuluh orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Berdasarkan analisa Pusat Laboratorium Forensik Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia terhadap residu bahan peledak yang diambil dari tempat kejadian perkara bom BEJ itu, dapat diidentifikasi jenis bomnya, yaitu terbuat dari bahan peledak RDX (1,3,5-Trinitro-1,3,5-triazacyclohexane). RDX termasuk salah satu jenis bahan peledak high explosive.
Setelah bom disulut dan meledak, dengan cepat bahan peledak sebagai isian utamanya berubah bentuk menjadi campuran gas berdaya tekan tinggi yang dengan segera menyebar kesegala arah dengan disertai adanya panas dan cahaya. Setelah meledak, bom akan menyisakan residu. Residu bahan peledak yang tetinggal ini biasanya berbentuk senyawa organik dan anorganik. Dari kandungan kimiawi senyawa organik dan anorganik yang terkandung dalam residu itulah, seorang pakar forensik akan dapat mengidentifikasi jenis bahan peledak yang menjadi isian utama bom.
Contoh lainnya adalah bom yang meledak pada Malam Natal 2000. Komponen bom rakitan untuk Malam Natal di Katedral Jakarta adalah:
1. Booster (penguat bahan peledak) dengan pembungkus plastik ungu berbentuk silinder. Booster seberat 1.140 gram ini terdiri dari dua bagian:
- wadah utama, berupa silinder berdiameter 10 centimeter dan tinggi 16 centimeter. Di dalam wadah ini, bahan-bahan peledak disusun secara terpisah. Di bagian atas, ditaruh serbuk hitam campuran karbon (C, Carbon), potas (KCN, kalium cianida) dan belerang (S, sulfur) seberat 330 gram yang dibungkus plastik transparan. Di bagian bawah ditaruh TNT (trinitrotoluena) seberat 800 gram.
- Tabung penutup dengan ukuran yang lebih besar yang berfungsi untuk membungkus wadah utama.
2. Detonator (pencetus ledakan) yang terdiri dari dua detonator yang dirakit menjadi detonator listrik:
- Detonaror pertama terbuat dari kawat aluminium yang memiliki panjang empat centimeter dan berdiameter enam milimeter. Diberi bahan pembakar berupa potas, belerang dan karbon yang dihubungkan dengan kabel 60 centimeter ke booster dengan suatu isolasi.
- Detonator kedua terbuat dari kawat aluminium empat centimeter dan berdiameter enam centimeter. Diberi bahan pembakar serbuk dari pentol korek berwarna cokelat yang dihubungkan dengan kabel ke booster dengan isolasi.
3. Amplifier (rangkaian penguat) yang merupakan rangkaian elektronik dengan panjang 31 milimeter dan lebar 13 milimeter. Sebagai pemasok energi rangkaian, digunakan baterai merek Hi-Watt yang berkekuatan sembilan volt. Ada empat jenis kabel yang dipakai dalam rangkaian ini:
- kabel input, berupa kabel merah-hitam
- kabel output, dua kabel (30 centimeter dan 12 centimeter) yang dirangkai secara serial
- kabel baterai
- kabel pengaman (fuse), berupa kabel merah sepanjang sepuluh centimeter
4. Jam digital Sunway yang memakai baterai 1,5 volt. Jam digital yang memiliki ukuran 6,7 x 4 x 1,1 centimeter kubik ini berfungsi untuk menentukan waktu ledakan. Jam ini dihubungkan ke amplifier dengan dua kabel yang berukuran tiga centimeter dan empat centimeter.
Untuk mengetahui jenis bom, Puslabfor Mabes Polri menguji 62 bom dari berbagai lokasi ledakan. Hasilnya, ditemukan banyak kesamaan teknis perakitan dan komposisi bahan. Hanya saja, jenis bom yang meledak di Malam Natal berbeda dengan bom yang dipasang Elize Tuwahatu di Taman Mini Indonesia Indah. Bom yang dipasang Elize menggunakan bahan TNT 400 gram dan dinamit yang kekuatannya jauh lebih besar, karena memiliki standar military explosive.
Kesamaan jenis dan komposisi itu:
- Bom di Medan dan Pematangsiantar yang dipasang 11, meledak dua dan sembilan dijinakkan. Bahan dasar: karbon, potas, belerang dan campuran TNT. Bahan perusak: bom Medan dengan patungan paku dan paku payung, sementara bom Pematangsiantar menggunakan gotri. Kedua bom dikemas dengan bungkusan karton dan dilapisi kertas kado.
- Bom di Pekanbaru dan Batam yang dipasang enam, meledak enam. Bahan dasar: karbon, potas, belerang dan campuran TNT. Bahan perusak: baut besi. Kemasannya adalah bungkusan karton dengan timer dari jam weker.
- Bom di Jakarta dan Bekasi yang dipasang enam, meledak enam. Bahan dasar: karbon, potas, belerang dan campuran TNT. Bahan perusak: gotri (bola besi berdiameter 12 milimeter, untuk roda sepeda). Kemasannya adalah bungkusan karton yang dilapisi kertas kado.
- Bom di Bandung, Sukabumi dan Ciamis yang meledak empat bom. Bahan dasar: karbon, potas, belerang dan campuran TNT. Bahan perusak: pelat besi berbentuk koin Rp. 100 lama dan paku. Kemasannya adalah bungkusan karton.
- Bom di Jawa Timur yang dipasang enam, meledak dua dan empat dijinakkan. Bahan dasar: karbon, potas, belerang dan campuran TNT. Kemasannya adalah bungkusan karton.
- Bom di Mataram yang dipasang dua, meledak dua. Bahan dasar: karbon, potas, belerang dan campuran TNT. Bahan perusak: potongan besi. Kemasannya adalah bungkusan karton.
Daya ledak bom Malam Natal 2000 jelas tidak bisa dianggap remeh. Apalag, ledakan bom di Hotel JW. Marriott sudah membuktikannya. Walau bahan peledak hanya sisa dari proyek Malam Natal 2000, ternyata ledakan bom Marriott juga dahsyat. Bahkan, sempat mengecoh pihak kepolisian. Karena bom ternyata hanya seberat 120 kilogram yang tentu saja diluar perkiraan polisi (sebelumnya menduga, mencapai 650 kilogram). Maklum, ledakan bom Marriot membuat kerusakan parah bangunan, hingga menewaskan belasan orang.
Bom Marriot diracik dengan campuran bahan peledak berdaya besar dan kecil yang dimasukkan ke dalam tiga wadah plastik bertutup kedap udara berukuran 40 x 30 centimeter persegi –jenis yang bisa dipakai ibu-ibu untuk menyimpan makanan. Setelah itu, tipa kotak diisi dengan satu detonator. Kotak plastik itulah yang kemudian terbakar hancur dan meleleh, sehingga tidak ditemukan sisanya di lokasi kejadian.
Polisi juga terkecoh, lantaran dua bahan berdaya besar dan kecil dikira dipisahkan. Lalu, serbuk TNT dimasukkan ke galon air mineral, sementara enam jerigen acetyl glacial diisi campuran bahan berdaya rendah. Kemudian, jerigen berisi bensin diletakkan di tengah-tengah rangkaian bom. Ternyata tidak. Tiga kotak plastik kedap udara diisi bahan peledak penuh. Untuk menambah daya ledak, diletakkan tiga galon wadah air mineral yang diisi beberapa puluh liter bensin. Rangkaian “maut” ini kemudian diperkuat dengan tiga jerigen acetyl glacial.
Levi Silalahi, Berbagai Sumber
|