|
Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso
Jum'at, 19 Maret 2004 | 13:21 WIB
Menjelang pergantian Gubernur DKI Jakarta bulan Oktober 1997, dengan berakhirnya masa jabatan Surjadi Soedirdja, nama Mayor Jenderal Sutiyoso, Panglima Kodam Jaya, paling ramai dibicarakan para anggota DPRD Jakarta. Ia dianggap paling pantas untuk menggantikan Surjadi.
Semula, Sutiyoso bukanlah unggulan. Dari 12 calon yang dijaring para wakil rakyat, Surjadi calon terkuat. Namun karena Surjadi mengundurkan diri, "posisinya" digantikan Letnan Jenderal A.M. Hendropriyono, Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan (Sesdalopbang). Tapi Hendro yang eks Pangdam Jaya itu juga kemudian mundur. Langkahnya diikuti M.H. Ritonga, Ketua DPRD DKI, yang juga tak bersedia dicalonkan.
Sutiyoso sebagai petinggi militer nomor satu di Ibu Kota dianggap telah memperlihatkan buah kepemimpinannya. Ia dipandang pas pindah dari markas Kodam Jaya ke Kantor Gubernur DKI. Keberhasilannya mengamankan Jakarta dalam pemilihan umum (pemilu) lalu, banyak dibicarakan orang, selain sikapnya yang tegas dalam menertibkan jajarannya. Tokoh yang dikenal akrab dengan para ulama itu sering pula mengerahkan pasukan untuk menggerebek tempat-tempat judi dan arena maksiat lainnya di Ibu Kota. Dan seperti yang diduga, Sutiyoso melenggang ke Balai Kota pada 6 Oktober 1997 sebagai gubernur DKI Jakarta.
Berbeda dengan masa jabatannya yang pertama, proses pemilihan Sutiyoso sebagai Gubernur DKI 2002-2007 diwarnai konflik dan kecurigaan. Bagaimana tidak, saat menentukan pasangan bakal calon (balon) gubernur dan wakil gubernur (wagub) periode 2002-2007 sudah ada empat fraksi yang memasang nama Sutiyoso di urutan atas, yaitu F-PDIP (30 suara), F-PPP (13), F-PG (8), dan F-PKP (1 suara).
Memang, permainan anggota DPRD DKI dalam pemilihan gubernur dan wagub sudah lama tercium masyarakat. Masyarakat menilai pemilihan yang konon anggarannya mencapai Rp 13 milyar tersebut hanya akal-akalan anggota DPRD agar pemilihan terlihat seolah-olah demokratis.
Meskipun demikian, ternyata Sutiyoso pun mulus memenangi pemilihan dan terpilih menjadi Gubernur DKI periode 2002-2007 dengan didampingi Fauzi Bowo sebagai wakil gubernur. Sempat ada kekhawatiran saat pelantikannya akan terjadi demonstrasi. Namun, itu pun tidak terjadi. Upacara pelantikan pun berjalan dengan aman. Pelantikan Sutiyoso berlangsung di gedung DPRD Jakarta Jalan Kebon Sirih 18, Jakarta Pusat, Senin (7/10/2002).
Sutiyoso memang memiliki riwayat karier militer yang membuatnya pantas memimpin pengamanan Ibu Kota. Pria berusia 60 tahun itu, lahir di Semarang, 6 Desember 1944, lulus dari Akademi Militer Nasional, Magelang, tahun 1968. Ia seangkatan dengan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn.) Wiranto dan mantan Gubernur Lemhanas Letnan Jenderal (Purn.) Agum Gumelar.
Karier Sutiyoso sebagian besar berjalan di lingkungan pasukan elite Kopassus, dimulai Komandan Peleton, Komandan Kompi, Kepala Seksi-I, Komandan Karsa Yudha, Wakil Komandan Grup I, sampai Wakil Komandan Kopassus. Sebelum menjadi Wakil Komandan Kopassus, ia sempat menjadi Asisten Operasi Kostrad. Sebelum memimpin Kodam Jaya, ia diangkat sebagai Komandan Korem 061/Surya Kencana di Bogor, Jawa Barat (1993-1994), dan Kepala Staf Kodam Jaya (1994-1996).
Biodata
Nama: Sutiyoso
Lahir: Semarang, 6 Desember 1944
Istri: Setyo Rini
Anak:
- Yessy Riana Diliyanti (Magelang, 9 Juni 1975)
- Renny Yosnita Ariyanti (Surakarta, 15 Januari 1980)
Pendidikan:
- Akademi Militer Nasional Yogyakarta (1968)
- Seskoad (1984)
- Pendidikan Latihan Brigade 5 Airbone Aldershot Inggris
- Studi Banding Army Command and Staff College Australia (1989-1990)
- Seskogab (1990)
- Lemhanas (1993)
Penugasan:
- Operasi PGRS/Paraku di Kalimantan
- Operasi Flamboyan di DI Aceh
- Operasi Aceh Merdeka di DI Aceh
- Operasi Seroja di Timtim
Penghargaan:
- Komandan Korem Terbaik se-Indonesia (1994)
Organisasi dan Karir Penting:
- Ketua Umum Independen Golf Club Indonesia
- Wakil Ketua PB Perbasi
- Wakil Ketua Umum Perbakin (1995-1997)
- Operasi PGRS/Paraku (1969)
- Operasi Flamboyan Timtim (1975)
- Operasi Seroja Timtim (1975)
- Operasi Aceh Merdeka Aceh (1978)
- Asops Kas Kostrad (1991)
- Wadan Kopassus (1992)
- Komandan Korem 062 Suryakencana Bogor (1993)
- Kepala Staf Kodam Jaya Jakarta (1994)
- Pangdam Jaya Jakarta (1996-1997)
- Gubernur DKI Jakarta (1997-2002)
- Gubernur DKI Jakarta (2002-2007)
|