Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 21/XXXVII/14 - 20 Juli 2008
   
Seni Rupa

Detail Meski tak Masyhur

Indonesia Art Award 2008 memilih 36 karya finalis. Karya seni rupawan muda yang cermat, kaya gagasan, dan peka persepsi sosial-budaya.

Pelukis Sudjojono pernah ikut lomba melukis. Lukisan ber­obyek gadis dan ku­cing itu oleh dewan juri dinya­takan sebagai pemenang pertama. Ini diceritakan oleh Ajip Rosidi dalam buku Pelukis S. Sudjojono.

Konon, kemenangan itu meyakin­kan Sudjojono muda bahwa ia memang berbakat menggambar. Tentu, bukan hanya kemenangan ini yang membuat Sudjojono kemudian diakui sebagai salah satu pelukis besar Indonesia—bahkan sebagai bapak seni lukis modern Indonesia. Namun tak juga bisa diabaikan ihwal lomba itu. Terutama bagi mereka yang masih mencoba tampil, lomba adalah salah satu jalan, bisa jadi malah jalan pintas, untuk diakui dan dikenal lebih luas.

Persepsi umum bahwa lomba sebagai jalan untuk menjadi tenar inilah yang memicu keengganan para seni rupawan yang sudah terkenal untuk mengikuti lomba. Ini pula yang terjadi dengan Indonesia Art Award (IAA) 2008, yang diselenggarakan oleh Yayasan Seni Rupa Indonesia. Di antara 36 karya finalis yang dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta, hingga akhir pekan lalu tak seorang pun seni rupawan yang sudah amat dikenal.

Namun ada atau tak ada seni rupawan yang sudah masyhur ikut serta dalam Indonesia Art Award 2008 ini tak menjadi soal. Ternyata—bisa dilihat dalam pameran karya finalis tersebut—Indonesia menyimpan sejumlah seni rupawan muda yang kaya gagasan, terampil mengolah medium yang dipilihnya, peka persepsi sosial-budayanya. Dewan juri, terdiri dari Enin Supriyanto, Aminudin Siregar, Agus Burhan, Farah Wardani, dan Jean Couteau, amat pemilih. Karya yang masuk lomba lebih dari 3.000 dan juri hanya memilih 36 karya finalis, rata-rata mereka kelahiran 1970-an dan 1980-an, kecuali lima orang kelahiran 1960-an dan seorang kelahiran 1950-an.

Banyak karya yang masuk lomba mungkin karena Indonesia Art Award membebaskan medium, tema, dan usia peserta. Namun ajang ini tetap membatasi jenis karya yang bisa diikutsertakan, yakni karya seni rupa yang berbentuk dan final, bukan karya seni rupa pertunjukan, happening art, dan seje­nisnya, yang lebih bersifat konsep.

Dari ketentuan ini, segera terlihat ke-36 karya finalis mencerminkan pengerjaan bentuk yang cermat. Bisa dikatakan tak ada hal yang kebetulan. Salah satu contoh, karya seni rupa video Water Gun. Bila selama lima menit tak sedetik pun ada gambar tersaji dengan jelas apalagi tajam, ini bukan kekurangan teknis. Bila figur perempuan berkebaya tradisional itu bergerak menabrak ”batas”, ini juga kesengajaan yang diperhitungkan (Pamali Siah, seni rupa video).

Pun karya instalasi tertata dengan rapi dan pas. Love menyuguhkan sekitar 200 gelas diisi batu ditata pada pasir putih. Pengaturan jarak antargelas terkesan akurat, dan ketidakrataan hamparan pasir diatur dengan perhitungan. Apalagi sebuah karya berjudul War for Fun, satu ”etalase” yang mempertunjukkan bangunan, mungkin sebuah benteng, dan ratusan prajurit berperang, tak terlihat ada sudut yang diatur secara sembrono.

Singkat kata, detail dari 36 karya fi­nal­is meyakinkan bahwa para penciptanya adalah seorang perfeksionis. Itulah menurut saya yang paling berharga dalam pameran 36 karya finalis Indonesia Art Award 2008 ini. Dalam ingatan saya, sejumlah pameran karya instalasi dari pameran Seni Rupa Baru pada 1975 hingga Jakarta Biennale 2006 yang lalu, banyak karya yang tersaji ”cacat”, gara-gara misalnya, sambungan kayu yang tidak persis, bidang kaca yang seharusnya lurus terlihat miring, dan sebagainya. Ibarat sebuah novel, pameran ini hampir tanpa sehuruf pun salah cetak.

Memang, menjelajahi seluruh ­ruang pameran Anda mungkin tak menemukan karya yang mengejutkan. Pada masa ketika apa saja bisa menjadi karya seni rupa, keterkejutan itu langka. Mungkin Anda tak bisa menerima sebuah kotak kaca yang diisi dengan banyak sekali tali senar yang ditata sedemikian rupa hingga serupa rumbai-rumbai menjalar ke samping dan me­nembus kotak kaca itu sebagai karya seni. Tapi Anda tak terheran-heran dan kaget, karena itu tadi—karya seni rupa bisa apa saja.

Harga pameran ini dengan demikian bukan pada soal ada-tidaknya karya yang benar-benar baru dan lain dari­pada yang lain. Nilai pameran ini, selain pada hampir bisa dikatakan karya-karya dibuat dengan sangat cermat dan pas, adalah hadirnya keberagaman bahasa rupa aktual yang kita temukan sehari-hari. Oleh para seniman itu bahasa rupa tersebut digunakan sebagai medium menghadirkan karya seni rupa.

Kita sehari-hari melihat televisi, maka bahasa televisi ini digunakan dan lahirlah seni rupa video. Kita melihat baliho-baliho di jalan raya, di pameran ini kita melihat karya poster berjudul Pos­ter Awal Tahun dalam ”BBM”. Kita melihat benda-benda termasuk jerigen minyak 20-an liter, lalu kita temukan I Want Your Oil, sebuah jeriken mengkilat dari (mungkin) stainless steel, dipasangi dua kaca spion motor, diberi roda di bawahnya. Dan sebagainya.

Dari ketentuan itu—mengubah bahasa rupa sehari-hari menjadi bahasa seni rupa—pelan-pelan kita akhirnya bisa menemukan karya yang lebih baik daripada yang lain. ”Baik” itu bisa berarti jamak. Di dalamnya terkandung bermacam makna: karya itu komunikatif, mencerminkan gagasan yang kaya, menyentuh rasa estetik kita, dan lain sebagainya, yang membuat kita menjadi merasa mendapatkan pengalaman baru.

Saya pun ikut tersesat dalam enam menit mengikuti karya seni rupa video Jalan Tak Ada Ujung karya Maulana M. Pasha. Dan di tengah ketersesatan itu muncul berbagai ”rasa”: tiba-tiba kita merasa hilang mengikuti jalan-jalan di gang-gang sempit yang terus bersambung-sambung tanpa putus; tiba-tiba kita tak tahu lagi sebenarnya kita hadir di dunia ini untuk apa. Ini salah satu dari lima karya pilihan dewan juri.

Adalah terasa seperti mendengar dongeng dari Agus Nur Amal yang dikenal sebagai PM Toh berdiri di antara enam monitor berjudul Seeing the Paradise karya Banung Grahita. Di masing-masing monitor ada jendela terbuka, dan ­menengok di jendela itu segera tersaji berbagai kisah: ada bunga merah, muncul burung terbang berkelompok, dan di satu monitor lagi gambar kaca spion yang menampangkan wajah seseorang. Gambar-gambar itu bukan gambar biasa, ada pohon perdu yang di pokoknya nongol sebiji bola mata. Ini salah satu pilihan dewan juri.

Lalu saksikanlah Rumah, seni rupa video karya Otty Widasari. Rekaman adegan disajikan dalam bentuk yang ”dibalik-balik”. Misalnya, separuh layar menyajikan orang berjalan ke depan, separuhnya lagi orang yang sama berjalan ke belakang. Demikian adegan-adegan itu disajikan dan di tengah delapan menit pemutaran video ini menyuruk pertanyaan transendental itu: siapa kita ini, di mana kita, apa yang kita lakukan, ke mana kita nanti. Karya ini bukan termasuk pilihan dewan juri. Ini memang subyektif, tapi itulah yang disampaikan oleh karya seni yang berbobot.

Demikian juga pengalaman ”berdialog” dengan Coagulation # 1. Ini sebuah kursi biasa dengan sandaran punggung dan palang samping untuk menaruh tangan. Namun kaki kursi dari kayu pi­nus ini bukan empat batang tonggak, melainkan dua lengkung kayu, dipa­sang di depan dan belakang. Dari depan, kursi ini berkaki berbentuk ”U”, satu di depan, satu lagi di belakang. Benda ini pun ”berhenti” menjadi kursi. Sebuah ruang yang tak jelas, terbentuk dari sandaran kursi dan kedua tangan kursi—ruang yang lepas karena di depan tanpa batas. Kaki berbentuk ”U” itu menghadirkan gerak imaji­ner: benda ini bergoyang terus-menerus ke samping kanan-kiri. Ruang itu seperti meminta kita untuk duduk di situ, tapi rasa gamang menyergap, karena taka ada jaminan duduk di situ aman, apalagi nyaman. Di ruang itu, yang salah satu sisinya tanpa batas, siapa atau apa pun seperti akan terlempar entah ke mana. Karya Faisal Habibi ini termasuk pilihan dewan juri.

Akhirnya adalah sebuah ke­san yang jarang muncul di berbagai pameran belakangan ini. Ke-36 karya ini bukan untuk dibeli, dilelang, atau dikoleksi. Ini adalah karya-karya untuk dikunjungi, dilihat, dan di dalamnya kita mengembara dengan bebas. Pameran ini mengingatkan beberapa pameran yang berkesan mirip: pameran karya Günther Uecker, pameran dunia kuda Ugo Untoro, Eko Nugroho, dan pameran Shawnee Puti.

Bambang Bujono


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data