Anak Tetangga di Kedokteran Ribuan mahasiswa Malaysia kuliah di Indonesia. Sumber devisa sekaligus pengakuan kualitas pendidikan. |
MENTERI Kesehatan Siti Fadilah Supari heran melihat begitu banyak mahasiswa kedokteran berwajah India sedang berpraktek kerja (clinical internship) di Rumah Sakit Sanglah, Denpasar, bulan lalu. Apalagi ketika mendengar mereka berbicara dengan dialek Melayu yang kental.
Mereka memang mahasiswa asal Malaysia yang kuliah di Universitas Udayana, dan jumlah mereka tidak hanya satu-dua, tapi ratusan. Bukan hanya Denpasar yang kebanjiran mahasiswa dari negeri jiran itu. Perguruan tinggi negeri lain, mulai dari Universitas Sumatera Utara Medan sampai Universitas Hasanuddin Makassar, juga kebagian.
Hal inilah yang membuat Ibu Menteri Siti masygul. Masalahnya, probabilitas siswa asal Malaysia yang masuk fakultas kedokteran di Indonesia mencapai 30 persen, padahal pelajar lokal hanya 4 persen. Lalu muncul kecurigaan, universitas negeri mencari mahasiswa asing untuk mengejar status perguruan tinggi bertaraf internasional. Satu hal lagi, mereka berpraktek di rumah sakit pendidikan yang dibiayai pemerintah.
Dalam lima tahun terakhir, mahasiswa kedokteran asal Malaysia terus bertambah. Di Medan, jumlahnya sudah 1.250 orang. Di Universitas Udayana, ada 330 mahasiswa asing, yang 180 di antaranya kuliah di kedokteran dan semuanya berasal dari Malaysia. Universitas Hasanuddin setiap tahun menerima 50 mahasiswa kedokteran asal Malaysia, sehingga saat ini jumlahnya sudah 300-an.
Universitas lain juga tidak kalah agresif. Universitas Brawijaya Malang dalam tahun ajaran ini berhasil menarik 45 mahasiswa asing. Begitu juga Universitas Sriwijaya Palembang, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, atau Universitas Padjadjaran Bandung, tiap tahunnya menggaet 60-an mahasiswa asing.
Meski menerima banyak mahasiswa asing, para pengelola universitas negeri menolak tuduhan Siti Fadilah bahwa jatah murid lokal berkurang. Itu karena mahasiswa asing masuk kelas khusus yang disebut kelas internasional. ”Kuota mahasiswa lokal yang diterima tidak terganggu dengan penerimaan mahasiswa asing ini,” kata Rektor Universitas Hasanuddin, Idrus Paturusi, Selasa pekan lalu. Setiap tahun, kampusnya menerima 250 mahasiswa kedokteran lokal ditambah 50 dari Malaysia.
Banyaknya mahasiswa dari Malaysia tidak lepas dari kurangnya jumlah dokter di negeri itu. Saat ini, rasio jumlah dokter dengan penduduk masih 1:1.200. Padahal pemerintah ingin memperkecil perbandingan itu menjadi setengahnya pada 2020. Artinya, diperlukan 21 ribu dokter lagi dalam 12 tahun. Delapan universitas yang ada di sana tidak mungkin bisa memenuhi kebutuhan itu.
Maka, belajar di luar negeri adalah jalan keluarnya. Meski begitu, Indonesia bukan pilihan pertama pelajar Malaysia. Ong Poh Wei, mahasiswa angkatan 2006 di Universitas Indonesia, mengaku sebenarnya ingin kuliah di Australia atau Irlandia. ”Tapi pemerintah memutuskan saya ke sini,” katanya.
Kebanyakan mahasiswa Malaysia mendapat beasiswa berupa pinjaman pemerintah sampai 200 ribu ringgit (sekitar Rp 573 juta), yang bisa dicicil dalam sepuluh tahun. Peluang inilah yang ditangkap perguruan tinggi di Tanah Air. Dengan membuka kelas internasional, mereka bisa mematok tarif tinggi.
Universitas Hasanuddin, misalnya, memungut uang pendaftaran US$ 12 ribu (Rp 110 juta) dan bayaran US$ 6 ribu per semester. Di Udayana sedikit lebih murah: US$ 10 ribu untuk pendaftaran dan US$ 4 ribu per semester. Biaya ini jauh di atas pungutan untuk mahasiswa lokal. Di Hasanuddin, uang kuliah hanya Rp 750 ribu per semester, sedangkan di Bali Rp 1 juta ditambah uang masuk Rp 25 juta.
Meski selangit, biaya itu masih murah dibandingkan dengan di Malaysia sendiri. Kathyrason Perumal, 23 tahun, menganggarkan 143 ribu ringgit sampai tamat. ”Di Malaysia, bisa habis dua kali lipat,” kata mahasiswa Udayana ini.
Menurut dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Hardiyanto Soebono, biaya tinggi bagi mahasiswa asing itu karena semua fasilitas harus dibayar. Materi kuliah di kelas reguler dan internasional sama. Yang membedakan cuma bahasa pengantar untuk mereka bahasa Inggris. Sayangnya, tidak sepenuhnya kelas internasional ini seusai dengan namanya. ”Dosennya masih ada yang belum lancar berbahasa Inggris. Fasilitasnya seperti perpustakaan juga kurang nyaman,” kata Ong Poh Wei.
Yudono, Bunga, Rurit (Yogyakarta), Irmawati (Makassar), Anang (Denpasar)
|