Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 21/XXXVII/14 - 20 Juli 2008
   
Laporan Utama

Semua Bermula di Jalan Lengkong

Natsir menggagas lahirnya perguruan tinggi swasta Islam di Indonesia. Memadukan pendidikan Barat dan Timur.

Jika tembok di bengkel di Jalan Lengkong Besar Nomor 16, Bandung, bisa bica­ra, sungguh banyak kisah ten­tang Natsir dan kegeli­sah­annya. Tembok-tembok itu akan­ lebih fasih bertutur—daripada para pemiliknya sekarang—bahwa nun pada 1931, bengkel mobil yang dulu sebuah rumah milik Haji Yunus yang disewa Mohammad Natsir tersebut adalah sebuah tempat lahirnya Pendidikan Islam (Pendis).

Tembok-tembok nun di Jalan­ Lengkong Nomor 74 juga bisa bercerita—dengan keahlian bu­ku sejarah, karena kini tak ada lagi yang tahu—bahwa alamat ini adalah tempat tinggal Natsir bersama istrinya yang sekaligus memperlakukan rumah itu sebagai sekolah.

Bukan hanya warga Bandung, melainkan sebagian besar masyarakat Indonesia tak mengenal Natsir dan perhatiannya terhadap pendidikan Islam. Padahal Natsir adalah salah satu penggagas lahirnya perguruan tinggi swasta Islam yang pertama di Indonesia. Syahdan di Bogor pada 17 Juni 1934, Natsir menyampaikan pidatonya dalam rapat kaum muslim. Maju atau mundurnya salah satu kaum, kata Natsir seperti yang termuat dalam kum­pulan tulisan pemikirannya, Capita Selecta Jilid I, bergantung sebagian besar kepada pelajaran dan pendidikan yang berlaku dalam kalangan mereka itu. Ketika usianya masih 26 tahun, Natsir sudah memikirkan bagaimana harus memajukan bangsanya: lewat pendidikan.

Sistem pendidikan ala Barat juga menjadi keprihatinannya yang lain. Menurut Natsir, pendidikan Barat yang diberikan pada masa penjajahan Belanda semata-mata untuk mengisi otak. Natsir menilai jiwa murid tetap saja kosong. Sementara itu, pendidikan di pondok pesantren dan madrasah memang bisa menghasilkan orang-orang yang ber­iman serta berakhlak baik, tapi sayangnya mereka buta terhadap perkembangan dunia.

Kegelisahan inilah yang menyebabkan Natsir nekat mendirikan perguruan Pendis. Keprihatinannya terhadap kondisi dunia pendidikan kala itu yang dianggapnya kurang lengkap serta persoalan jumlah sekolah yang tak memadai dan ditambah lagi banyaknya anak yang tak punya kesempatan belajar membuat Natsir bersemangat terjun dalam dunia pendidikan. Tentu saja karena modalnya sangat minim, Pendis pada masa kelahirannya lebih mirip tempat kursus yang terdiri atas murid-murid yang terbatas.

Secara perlahan jumlah murid­ bertambah dan mendapat sun­tikan dana dari Muhammad Yunus, tempat kursus itu pun berubah menjadi sekolah yang memadukan sistem pendidikan ala Barat dan Islam. Semua mata pelajaran yang ada di sekolah versi pemerintah Belanda juga diajarkan di Pendis. Selain itu, Pendis tetap menyelenggarakan pela­jar­an kesenian, menyanyi. Sekali setahun Pendis menyelenggarakan acara sandiwara, musik, dan tari-tarian. Sandiwara Pendis waktu itu sangat terkenal di Kota Bandung. Perbedaan Pendis dengan sekolah peninggalan Belanda hanyalah mata pelajaran agama Islam yang menjadi pelajaran wajib serta salat Jumat dilakukan bersama-sama di sekolah. Inilah konsep yang selalu didengungkan Natsir bahwa pendidikan harus integral, bersatu padu, di antara elemen-elemen yang bisa menjadikan manusia sebagai sosok yang lengkap.

Lulusan sekolah guru dan se­tingkat sekolah menengah pertama Pendis waktu itu, seperti termuat pada buku Mohammad Natsir: 70 Tahun Kenang-kenang­an Kehidupan dan Perjuangan yang disusun Yusuf Abdullah Puar, banyak mengajar di sekolah-sekolah swasta Muhamma­diyah. Ada juga alumni Pendis yang mendirikan HIS Pendis di kota-kota lainnya di luar Bandung. Meski saat sekolah yang dibangunnya sedang tak ada dana, Natsir terpaksa harus tega menggadaikan gelang emas istrinya, Nurnahar. Gelang itu akan ditebus kembali setelah punya uang. Nurnahar adalah guru taman kanak-kanak di Pendis dan setelah menikah dengan Natsir pada 1934 lebih dikenal dengan sebutan Ummi.

Dari Pendis, berkembanglah­ pe­mikiran dan gagasan Natsir berikutnya. Lahirlah sekolah-sekolah yang lain, seperti Universitas Islam Indonesia; Universitas Islam Bandung; Universitas Islam Sumatera Utara, Medan; dan Universitas Muslimin Indonesia Makassar.

Universitas Islam lahir dari pemikiran tokoh-tokoh pergerakan sebelum Indonesia merdeka. Waktu itu Indonesia yang masih dijajah Belanda hanya memiliki dua perguruan tinggi negeri: Universitas Indonesia dan Bandung Technische Hooge School, embrio Institut Teknologi Bandung, yang pendiriannya dimotori pemerintah Belanda. Satu lagi, Institut Pertanian Bogor masih menjadi bagian dari Universitas Indonesia. Belum ada satu pun sekolah atau perguruan tinggi swasta yang didirikan oleh orang-orang pribumi muslim. Setelah Jepang masuk pada 1942, pada 19 April 1945 dibentuk Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (Dokuritsu Junbi Cosakai). Lembaga ini dibentuk pemerintah Jepang sebagai janji untuk memerdekakan Indonesia.

Setelah BPUPKI terbentuk, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Ahmad Mas’oed Lutfie menjelaskan para tokoh pergerakan kemerdekaan, seperti Mohammad Hatta, waktu itu berpikir untuk membuat sekolah. ”Mereka berpikir, masak nanti Indonesia sudah merdeka tapi tidak mempunyai tempat untuk melahirkan calon-calon penerus bangsa,” katanya.

Waktu itu sekolah memang masih sangat kurang. Jadi, menurut Lutfie yang juga menjabat Ketua Badan Pembina Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar, tokoh-tokoh pendiri negara ini sudah memikirkan visi jauh ke depan bagaimana meningkatkan kualitas sumber daya manusia lewat pendidikan.

Rencana pendirian Sekolah Ting­gi Islam pun dimatangkan dengan dibentuknya panitia yang diketuai sendiri oleh Hatta. Nat­sir, yang sudah memiliki pengalaman ketika memimpin perguruan Pendis selama 1932-1942, ditarik Hatta ke Jakarta. Natsir duduk dalam susunan peng­urusan Badan Wakaf pendirian Sekolah Tinggi Islam sekaligus menjadi Sekretaris Dewan Peng­urus dan anggota Dewan Kurator. Pada 8 Juli 1945 berdirilah perguruan tinggi ini di Jakarta, sehingga perguruan tinggi ini ­lahir sebelum Hari Kemerdeka­-an 17 Agustus.

Namun, karena situasi genting, kata Rektor Universitas Islam Indonesia Edy Suandi Hamid, pemerintah memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Yogyakarta pada 1946. Sekolah Tinggi Islam pun ikut pindah ke Yogyakarta dan dibuka kembali. Setahun kemudian, sekolah ini berganti nama menjadi University Islam Indonesia dan pada 1963 berubah lagi menjadi Universitas Islam Indonesia.

Saat pertama kali didirikan,­ jumlah mahasiswa hanya 14 orang, jumlah pengajar tetap tiga orang, dan hanya terdiri atas empat fakultas. Setelah 63 tahun, wajah Universitas Islam Indonesia banyak berubah. Bahkan ­Hatta atau Natsir pun mungkin tidak mengira sekolah ini bisa berkembang pesat. Jumlah mahasiswa yang aktif kini 20 ribu orang, dosen tetap dan tidak tetap 900 orang, serta ada delapan fakultas yang siap menampung. Bahkan sekolah ini sudah berhasil membangun rumah sakit bertaraf internasional di Yogyakarta.

Tak hanya sekolah, kata Lutfie, Natsir juga turut memberikan sumbangan Rp 60 juta pada 1972 ketika Masjid Salman di ITB yang mulai dibangun sejak 1957 tak kunjung selesai karena kekurangan dana. Masjid itu akhirnya selesai juga dan menjadi masjid kampus pertama di Tanah Air. Gagasan mahasiswa mendirikan masjid di kampus itu lagi-lagi juga diilhami oleh pemikiran Natsir.

Natsir pula yang ikut mencarikan dana bagi pendirian Akademi Agama dan Bahasa Arab Bukittinggi yang didirikan pada 1975. Menurut Sekretaris Yayasan Aqabah Indra Syam, setelah dua tahun berdiri dan menumpang di gedung Sekolah Teknik Menengah Muhammadiyah, Natsir berhasil mengumpulkan dana untuk membangun kampus Aka­bah di Jalan Sutan Syahrir.

Sayang, sejak pemerintah meng­ubah kurikulum pendidik­an pada 1996, akademi ini berubah fungsi menjadi sekolah da­sar, sekolah menengah pertama, dan madrasah diniyah alawiyah. Kurikulum akademi ini harus disamakan dengan sekolah tinggi Islam lainnya. Tak ada lagi akademi yang tadinya bertujuan mendidik calon ulama.

Sampai akhir hayatnya, Natsir tetap konsisten dengan pilih­annya. Baginya, kaum muslim wajib memberikan suar kepada tiap-tiap pendidik muslim dalam mengemudikan perahu pendi­-dik­annya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data