Persembahan untuk Anak Kita Satu lagi film musikal untuk anak. Menghibur meski masih ada kekurangan. |
Liburan Seruuu...!!
Produksi: Alenia Pictures, 2003
Sutradara: Sofyan D. Zursa
Penulis naskah: Tian Pranyoto Gafar
Pemain: Ken Nala Amrytha, Arsenna Moch. Rahadi, Minus C. Karoba
NILAI rapor yang buram hampir membatalkan liburan ”lima sekawan”: Nala, Tama, Reno, Inka, dan Momo. Sudah terbayang hari-hari yang membosankan di rumah saja. Untunglah, kesedihan itu tak berumur panjang. Para orang tua mengizinkan anak-anak mereka bertamasya. Dan ketika kereta berlari meninggalkan Stasiun Kota, petualangan seru pun dimulai.
Nala dan Tama—bersama kakak angkat mereka asal Papua, Momo—adalah saudara sepupu Reno dan adiknya, Inka. Rehat sekolah kali ini diisi dengan acara berkemah di kawasan peternakan milik Tante Canda nan cantik (Cynthia Lamusu) di Ambarawa, Jawa Tengah. Kedamaian liburan mulai terusik ketika Nala mendapat hadiah secarik peta tua dari Baja, temannya dari desa. Peta lusuh itu ternyata petunjuk ke lokasi harta karun yang sedang diburu penjahat.
Alih-alih gentar, para detektif cilik ini malah melawan. Mereka mempertahankan peta dan berusaha menyibak rahasia di dalamnya. Perseteruan para bocah dan penjahat yang konyol dan ceroboh masih jadi favorit para pembuat film anak. Hollywood sudah memulainya dengan Home Alone. Demikian pula, Indonesia sudah pernah menggunakan resep serupa dengan Petualangan Sherina.
Meski begitu, bukan berarti Liburan Seruuu…!! menjadi tidak seru. Kita ucapkan selamat kepada Ken Nala Amrytha, Raja Intan Permata, Arsenna Moch. Rahadi, dan Quinsha Jasmine Haq—para pemeran yang andal. Film ini juga menjadi kaya karena pilihan lagu yang bagus—termasuk karya legendaris A.T. Mahmud—yang bertaburan di sela-sela adegan dan dialog.
Berlatar pemandangan alam yang molek, film berdurasi 97 menit ini juga menampilkan ikon yang ”eksotis”: rumah tua yang terpelihara, lokomotif yang meliuk di atas rel peninggalan Belanda, serta kawasan peternakan yang jauh dari kesan dekil dan bau.
Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen—produser yang sukses memproduksi Denias, Senandung di Atas Awan—harus dipuji untuk keberaniannya menghasilkan sebuah film anak di tengah menjamurnya film hantu dan komedi seks. Belakangan ini hanya ada sedikit judul yang mungkin bisa dihitung hanya dengan satu tangan, yaitu Petualangan Sherina (2000), Joshua oh Joshua(2001), dan Janus: Prajurit Terakhir (2003).
Padahal, di era sebelumnya, Indonesia cukup kaya akan film anak. Dua nama yang identik dengan film anak masa lalu adalah Adi Bing Slamet dan Chicha Koeswoyo. Film kanak-kanak Adi, antara lain, Anak Emas (1976), Koboi Cilik (1977), dan Sinyo Adi (1977). Chicha juga sukses dengan film Chicha (1976). Di era berikutnya, penonton mungil mengenal Kiki Sandra Amelia, Ryan Hidayat, dan Ira Maya Sopha lewat film Tangan-tangan Mungil (1981) dan Nakalnya Anak-anak (1980).
Film ini tentu saja masih memiliki beberapa catatan. Dalam hal dialog, misalnya, para pemainnya kadang masih dibebani kalimat-kalimat panjang dan penuh jargon. Kehadiran sosok Momo (Minus C. Karoba) terasa hanya tempelan dan sarana pemancing tawa. Padahal, masih banyak sisi seorang Momo yang masih bisa diramu lebih baik. Atau sosok Tante Canda, peternak kampung yang selalu berkostum bak pemilik ranch di Texas: berkemeja kotak-kotak, celana jeans, dan rompi koboi.
Andari Karina Anom
|