Dosen/Peneliti PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Suatu hari saya tiba-tiba ditanya seorang mahasiswi: apakah bahasa Indonesia memiliki kata yang diawali dengan huruf ”q”? Kalau ada, berapa jumlahnya? Pertanyaan tak diduga ini mendorong saya membuka kamus bahasa Indonesia. Setelah saya mengecek Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, edisi ketiga, 2005), ternyata bahasa Indonesia hanya mempunyai 11 kata yang diawali huruf ”q”; yaitu Q, qaf, qari, qariah, qasar, qi, qiamulail, qiraah, qiraat, qudsi, dan Quran.
Pada cetakan ke-3 (1990), kamus ini hanya mencantumkan enam kata. Jadi, selama 10 tahun, perbendaharaan kata yang diawali huruf ”q” dalam kamus Indonesia hanya bertambah lima kata. Coba kita simak pula Kamus Umum Bahasa Indonesia (Kubi) yang ditulis J.S. Badudu dan Sutan Mohammad Zain (1996). Jumlah kata yang diawali huruf ”q” ternyata hanya enam kata. Kata-kata yang tercantum pun tidak jauh berbeda dengan KBBI, yaitu Q, qari, qariah, qiraah, qiraat, dan Quran.
Kalau kita perhatikan secara seksama, semua kata yang diawali huruf ”q” itu berasal dari bahasa Arab. Bahkan lima kata di antaranya berasal dari akar kata yang sama, yaitu qa-ra-a, yang berarti ”membaca”. Kelima kata itu adalah qari (pembaca laki-laki), qariah (pembaca perempuan), qiraah atau qiraat (pembacaan), dan Quran (bacaan). Sedangkan empat kata lainnya berasal dari akar kata yang berbeda; qaf, qasar, qiamulail, dan qudsi.
Sebenarnya, deretan daftar kata itu bisa diperpanjang. Misalnya, kita memasukkan kata qa’idah, qabilah, qadha, qadhar, qadhi, qadim, qadir, qahar, qalam, qamar, qarib, qawl, qawm, qawi, qibas, qiblat, qisah, qiyamah, qiyas, qubur, qudrah, qudus, qunut, qurban, dan quwah. Semua kata tersebut berasal dari bahasa Arab.
Kata-kata tersebut ternyata sudah masuk ke daftar kata pada kamus bahasa Indonesia, namun dimasukkan ke kelompok kata dengan awal huruf ”k”.
Awal huruf dalam kata-kata tersebut telah mengalami perubahan, dari huruf ”q” menjadi huruf ”k”. Kata-kata itu berubah menjadi kaidah, kabilah, kadha, kadhar, kadhi, kadim, kadir, kahar, kalam, kamar, karib, kaul, kaum, kawi, kibas, kiblat, kisah, kiamah, kias, kubur, kudrah, kudus, kunut, kurban, dan kuat.
Huruf ”q” juga sangat jarang kita temui di tengah atau akhir kata. Sama dengan kata-kata di atas, kita sebenarnya bisa mengambil/menyerapnya dari kata bahasa Arab. Misalnya, aqal, aqidah, aqiqah, haqiqah, maqalah, maqam, muqaddimah, rizqi, dan aqsha. Juga, ada kata akhlaq, haq, mantiq, dan tawfiq. Sekali lagi, huruf ”q” pada kata-kata tersebut diubah menjadi huruf ”k”. Kata-kata itu pun berubah menjadi akal, akidah, akikah, hakikat, makalah, makam, mukadimah, rezeki, aksa, akhlak, hak, mantik, dan taufik.
Perubahan huruf ”q” menjadi ”k” ini bukan tanpa persoalan, karena bisa mengubah makna kata tersebut. Misalnya, kata qurban menjadi korban. Akar kata qurban adalah qa-ru-ba, yang berarti dekat. Menurut Cyril Classç (1999), dalam Ensiklopedi Islam, qurban adalah ”segala jenis tindakan atau amalan yang membawa seseorang lebih dekat kepada Allah”. Secara khusus, kata qurban berarti ”penyembelihan hewan pada Idul Adha”, seperti dicontohkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Qurban dalam pengertian ini memiliki makna spiritual; yaitu usaha mendekatkan kepada Tuhan.
Lalu, apa arti kata ”korban”? Hampir serupa dengan arti qurban di atas, KBBI memberi arti korban dengan ”pemberian untuk menyatakan kebaktian, kesetiaan”. Pada sisi lain, KUBI memberi arti korban dengan ”orang yang menderita, luka”. KBBI juga mengartikan korban dengan ”orang atau binatang yang menjadi menderita (mati) akibat suatu kejadian, perbuatan jahat”.
Pengertian korban semacam ini berarti penderitaan yang bisa jadi tidak bermakna spiritual. Coba kita perhatikan contoh kalimat berikut; ”seratus orang korban tabrakan itu dirawat di rumah sakit; seribu hewan qurban itu akan diberikan kepada kaum papa; dan korban banjir membutuhkan hewan qurban”. Begitu pula kalau kita mau mengubah kata qamar menjadi kamar. Dalam kamus bahasa Arab, qamar berarti ”bulan”, sedangkan kamar dalam bahasa Indonesia berarti ”ruang yang bersekat (tertutup) dinding yang menjadi bagian rumah, atau bangunan yang biasanya dibatasi empat dinding”.
Perhatikan juga kata qalam bila diubah jadi kalam. Qalam artinya pena, adapun ”kalam” berarti ”perkataan”—yang kalau dirujuk kepada akar katanya memang berasal dari bahasa Arab (kalaam). Jadi, qalam dan kalaam sama-sama berasal dari bahasa Arab, dengan makna yang berbeda. Karena itu, kalau qalam diubah menjadi kalam akan mengaburkan makna dan asal-usul katanya. Ada persoalan lain yang lebih menyangkut pada soal ejaan dalam bahasa Inggris, yakni kata quran yang dalam bahasa Inggris berubah menjadi Koran. Quran dan koran memang sama-sama berarti ”bacaan”. Dalam Islam, Quran berarti Kitab Suci umat Islam yang berisi wahyu-wahyu dari Tuhan, yang diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad. Dalam Kamus Inggris Indonesia (John M. Echols dan Hassan Shadily, 1996), Quran ditulis dengan Koran (K kapital), yang bukan berarti harian (newspaper). Dalam bahasa Inggris, Quran memang diucapkan ”koran”.
Masalahnya adalah bila kata Quran diubah menjadi Koran (untuk mereka yang menggunakan bahasa Inggris), ternyata dalam bahasa Indonesia itu memiliki makna lain, yakni harian atau surat kabar, yaitu ”lembaran kertas bertuliskan informasi yang dibuat para wartawan. Jadi, ada baiknya para penulis kamus Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris tetap mempertahankan keaslian ejaan Quran sesuai dengan aslinya.