Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 21/XXXVII/14 - 20 Juli 2008
   
Laporan Utama

  Sebuah Pemberontakan tanpa Drama
Hidupnya tak terlalu berwarna. Apalagi penuh kejutan ala kisah Hollywood: perjuangan, petualangan, cinta, perselingkuhan, gaya yang flamboyan, dan akhir yang di luar dugaan, klimaks. Mohammad Natsir menarik karena ia santun, bersih, konsisten, toleran, tapi teguh berpendirian. Satu teladan yang jarang.

• Lelaki dari Lembah Gumanti
• Dendam Anak Juru Tulis
• Menunggu Beethoven di Homan
• Setelah Diskusi Sore di Kampung Keling
• Bersikap Melalui Tulisan
• Saat Mesra dengan Bung Karno
• Menteri dengan Jas Bertambal
• Arsitek Negara Kesatuan
• Bung Besar dan Menteri Kesayangan
• Kalau Aku Mati, Ikuti Natsir
• PRRI: Membangun Indonesia tanpa Komunis
• Dalam Masa Pengasingan
• Seorang Besar dengan Banyak Teman
• Mohammad Natsir
• Adnan Buyung Nasution:
Dasar Negara Islam tak Bisa Dipaksakan

• Tangis untuk Mangunsarkoro
• Mohammad Natsir, Pemikir-Negarawan
• Surat untuk Tengku Abdul Rahman
• Baju Pengantin buat Bambang
• Natsir, Politikus Intelektual
• Berpetisi tanpa Caci Maki
• Generator Lapangan Dakwah
• Aba, Cahaya Keluarga
• Semua Bermula di Jalan Lengkong
• Beberapa Kenangan

Ekonomi & Bisnis
Empat Pungutan, Satu Tujuan
Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat menyepakati pajak tambahan bagi mobil pribadi. Hasilnya harus dikembalikan ke sektor transportasi.
 
Hukum
Akhir Bengkel Suap Ayin dan Urip
JAKSA Komisi Pemberantasan Korupsi menuntut Artalyta hukuman lima tahun penjara. Tak ada hal yang meringankan dari perempuan yang dikenal memiliki banyak kawan di Kejaksaan dan Mahkamah Agung itu.

Di sidang muncul proposal jaksa Urip Tri Gunawan tentang pengajuan bisnis bengkelnya untuk Artalyta, lengkap dengan daftar barang yang dibutuhkan dan harganya. Jaksa menganggap itu tameng belaka.

 
  Nasional
Hujan Duit dari Kebon Sirih
Korupsi di bank sentral direncanakan dengan rapi. Yang terlibat pucuk pemimpin sampai sopir. Uang mengalir tidak hanya ke parlemen.
 
Opini
Politik Santun Mohammad Natsir
 

 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Komisaris Telkom Diganti - 05 Sep 2008 | 16:01 WIB
Polisi Panggil Saksi Kunci Kematian Sophan Sophiaan - 05 Sep 2008 | 15:55 WIB
Pertamina Akan Impor Tabung Gas Elpiji - 05 Sep 2008 | 15:54 WIB
PGRI Awasi Penggunaan Anggaran Pendidikan - 05 Sep 2008 | 15:53 WIB
Yudhoyono Terima Gubernur Bali dan Kalimantan Barat - 05 Sep 2008 | 15:48 WIB
Swasta Dominasi Proyek Listrik Tahap Dua - 05 Sep 2008 | 15:46 WIB
Polisi Sita 3,5 Kilogram Ganja - 05 Sep 2008 | 15:45 WIB
Malaysia Bakal Deportasi Pengungsi Tsunam - 05 Sep 2008 | 15:42 WIB
BP Solar Jual Pembangkit Tenaga Surya - 05 Sep 2008 | 15:41 WIB
Minyak Tanah Subisidi Dijual Lewat Operasi Pasar - 05 Sep 2008 | 15:36 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data