Hemat dengan Kalkulator Karbon Sebuah kompetisi menghitung tingkat polusi berhasil mengubah pola pikir anak sekolah menengah atas di Bandung tentang lingkungan. |
Fauzan Abdul Syukur berubah. Bukan dari tampilan fisik, tapi cara pandangnya tentang lingkungan. Pemuda 17 tahun ini tak lagi seenaknya memakai alat listrik. Lampu, jika tak perlu, ia matikan. Siswa kelas II SMA 12 Bandung ini mengaku juga tak lagi boros. Sesekali saja ia bawa motor ke sekolah. Jika ada yang menjemput, ia memilih nebeng temannya.
Bagi pemuda belia ini, hidup tak perlu dijalani dengan boros. ”Kalau bisa jalan kaki atau naik sepeda, ya itu dilakukan,” ujarnya.
Kesadaran ini muncul sejak Fauzan tahu betapa besarnya polusi yang ia buang tiap hari dan apa akibatnya bagi lingkungan sekitarnya. Lewat mesin penghitung karbon, pemuda ini bisa tahu berapa energi yang terbuang lewat tangannya.
Semua berawal pada pertengahan Mei lalu. Salah satu guru meminta Fauzan dan kawan-kawan, mewakili sekolahnya, ikut kompetisi Act Now! Commitment Gathering Towards a Low Carbon Society. Kompetisi lingkungan hidup ini digelar Greeners Magazine, Departemen Kehutanan, dan Eco Trust Fund di Gedung Sasana Budaya Ganesha Bandung, awal Juni lalu.
Yang dilombakan adalah sekolah yang paling banyak menghitung dan mengkompensasi emisi karbon (CO2) murid-muridnya sesuai dengan tenggat yang diberikan. Caranya, sekolah harus menghitung berapa karbon yang dihasilkan para murid setiap hari hingga setahun. Juga bagaimana kompensasinya.
Untuk itu, peserta mesti mengoperasikan kalkulator karbon. Panitia melatih mereka dulu sebelum perlombaan dimulai. Kalau Anda bayangkan kalkulator karbon adalah semacam mesin penghitung, Anda salah. Ini Cuma peranti lunak yang dengan rumus tertentu memudahkan siapa pun menghitung dengan serius jumlah karbon yang dihasilkan tiap hari.
Peranti lunak itu sangat sederhana. Menurut Fauzan, pemakai tinggal memasukkan data energi yang dihabiskan setiap hari. Misalnya berapa bensin yang dipakai tiap hari, lalu berapa tagihan listrik satu bulan. Juga berapa tabung elpiji yang dipakai sebulan. ”Begitu data masuk, nanti akan keluar berapa jumlah karbon yang dihasilkan dan berapa denda yang harus dibayar. Biasanya nanti ketahuan berapa pohon yang harus ditanam sebagai denda selama setahun,” ujarnya.
Fauzan mulai mencoba perhitungan dengan menghitung energi yang ia buang selama ini. Lalu merambat ke keluarga dan kawan-kawan terdekatnya di sekolah. Ia pun terperangah. ”Ternyata saya ini boros sekali,” katanya terbahak. Dihitung-hitung, Fauzan mengaku harus menanam beberapa puluh pohon dalam satu tahun.
Percobaan lancar, Fauzan mulai mengaplikasikan kalkulator itu untuk kawan-kawan sekolahnya. Ada 14 kelas di sekolahnya yang dilibatkan. Ia minta kawan-kawannya di OSIS memobilisasi data dan mulai menghitung.
Panitia memberikan waktu dua pekan untuk menyelesaikan perhitungan. Proses itu berakhir pada 28 Mei lalu dan mereka berhasil menghitung 712 siswa. Ini jumlah terbanyak yang dapat dibukukan dalam kompetisi tersebut, dan SMA 12 pun dinyatakan sebagai pemenang. ”Total siswa yang ikut dites sebagai peserta se-Bandung sekitar 4.012,” kata Syaiful Rohman, anggota panitia.
Bagi Fauzan, kemenangan dan hadiah bukan yang terpenting, tapi ia dan kawan-kawannya jadi tahu karbon yang dihasilkan itu bisa dikonversi menjadi duit. Artinya, selama ini mereka tak hanya melakukan pencemaran, juga membuang duit. ”Setelah dihitung, kompensasi untuk 712 siswa di sekolah kami rata-rata tiap siswa harus menanam tiga puluh pohon setiap tahun,” ujarnya.
Model penghitungan karbon yang dikompetisikan ini sebenarnya bukan hal baru. Menurut Syaiful Rohman, proyek bersama Greeners Magazine, PT Indonesia Power, dan Ecotrust Fund ini pernah dipresentasikan di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat Conference of the Parties 13 di Bali, Desember 2007.
Adapun software kalkulator ini diadaptasi dari Ecological Footprint Network di Amerika Serikat. Perangkat ini pertama kali lahir di Amerika pada 2005, ketika perbincangan tentang emisi karbon sedang ramai-ramainya. Pada 2007, Greeners meminta izin mengembangkan peranti lunak itu di Indonesia. ”Tapi aspek yang dihitung berbeda dan tergantung daerahnya,” ujar Syaiful.
Misalnya, ketika sistem ini dipakai di Amerika, warga Amerika sering memakai pesawat terbang dalam melakukan perjalanan. Maka, pesawat terbang termasuk aspek yang dihitung—hal yang belum bisa dilakukan di Indonesia.
Sejauh ini, untuk Indonesia, parameternya baru menghitung pemakaian bahan bakar kendaraan pribadi, penggunaan gas per bulan, dan nilai uang yang harus dikeluarkan dari penggunaan listrik. Tahun depan, rencananya, akan dibuat lebih lengkap. ”Mungkin juga kontribusi gas emisi karbon yang disebabkan rokok,” katanya.
Yang jelas, kata Syaiful, intinya adalah menghitung berapa karbon dioksida yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari dalam satu tahun, serta jumlah kompensasi yang harus dibayar. ”Biasanya, ketika dihitung, hasilnya selalu mengejutkan,” ujar Syaiful.
Sebagai contoh, dengan penggunaan bensin dua liter per hari, satu tabung elpiji 12 kilogram, plus pemakaian listrik hingga Rp 70 ribu per bulan, kompensasi yang harus dibayar mencapai 100 batang pohon per tahun.
Piranti ini bisa diunduh gratis di www.greeners.or.id. Sejumlah lembaga dan perusahaan telah menerapkannya untuk karyawan. Namun muncul pemikiran, kalkulator ini bisa dipakai sebagai ajang permainan bagi siswa. Apalagi selama ini lingkungan hidup dianggap ranah yang menjenuhkan, sehingga dijauhi siswa. ”Kami menargetkan kompetisi seperti ini membentuk pola pikir yang ramah lingkungan dari sekolah dulu, ” katanya
Dari segi peserta, Syaiful mengaku belum bisa merangkul semua siswa. Dari 220 sekolah setingkat SMA di Bandung, hanya 10 persen yang menjadi peserta. Meski begitu, Syaiful sadar betul, tak mudah mengubah atau membentuk pola pikir jadi lebih ramah lingkungan. Namun ia optimistis, setidaknya dari yang 10 persen itu, 1 persen pola pikir para remaja itu sedikitnya mulai berubah terutama setelah melihat hasil kompetisi itu.
Rata-rata kontribusi emisi karbon setiap siswa sekolah menengah dan keluarganya di Bandung lumayan besar, sampai 1.500 kilogram per tahun. Bahkan ada keluarga yang memberikan kontribusi hingga 9.000 kilogram. Jika dikalkulasi, tiap anak harus membayar kompensasi atas gaya hidup mereka itu dengan menanam 50-70 pohon per tahun. Bahkan ada juga anak yang harus memberikan 300 pohon.
Umumnya, menurut Grace Elizabeth, Direktur Ecotrust, orang kaget ketika melihat banyak pohon yang harus mereka tanam karena boros memakai energi. Jika tak bisa menanam pohon keras, bisa tanaman hias atau pohon yang bisa berfotosintesis. ”Jadi, jika seorang siswa harus menanam 50 pohon, keluarga tersebut bisa saja menanam beberapa jenis tanaman,’’ kata Grace.
Masalah yang muncul kemudian, menurut Grace, adalah bukan sekadar komitmen membayar kompensasi, tapi komitmen untuk terlibat. Ini sama juga dengan pertanyaan, di mana harus menanam pohon mengingat lahan yang semakin terbatas. ”Bisa di mana saja, di atap rumah atau juga sekadar memperbanyak tanaman hias. Yang jelas, benefitnya ada,” ujarnya.
Semua memang kembali pada komitmen untuk menjaga lingkungan. Itulah yang dirasakan Fauzan dan kawan-kawannya. Tatkala melihat kalkulator karbon dikonversi dalam kalkulator yang sebenarnya, Fauzan memilih untuk terus melangkah. Selain mengusulkan materi ini jadi bagian mata pelajaran lingkungan hidup di sekolahnya, ia mendapat ide cemerlang lain. ” Kami akan mengenalkan kalkulator ini saat penerimaan siswa baru nanti,” katanya.
Widiarsi Agustina, Rana Akbari Fitriawan (Bandung)
|