A.M. Hendropriyono: Untuk Apa Membunuh Munir? |
ABDULLAH Mahmud Hendropriyono selalu disebut-sebut sebagai figur terpenting yang wajib ditanyai di balik kasus pembunuhan aktivis Munir. Apalagi setelah Muchdi Purwoprandjono, bawahannya di Badan Intelijen Negara pada 2004, baru saja dijadikan tersangka. ”Ini pembunuhan secara perdata terhadap saya,” kata kepala lembaga telik sendi 2001-2004 itu saat ditemui Budi Setyarso dari Tempo di rumahnya di kawasan Cibubur, Depok, Jumat pekan lalu.
Apalagi belakangan muncul pernyataan Soeripto, pensiunan intelijen, yang menyebutkan adanya rapat rencana pembunuhan Munir oleh petinggi Badan Intelijen. Hendropriyono malah balik mempertanyakan motif pernyataan anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Keadilan Sejahtera itu, yang menurut dia, ”Akan mengaburkan pengungkapan kasus Munir.”
Benarkah Badan Intelijen Negara terlibat pembunuhan Munir?
Kami mengabdi tidak pernah setengah-setengah untuk keselamatan rakyat. Tentu kaget kalau dituduh menyuruh pembunuhan. Buat saya, itu tidak masuk akal. Mengapa? Karena sasarannya tak seimbang. Kalau saya dituduh menyuruh membunuh seorang presiden, misalnya, mungkin cocok. Tapi membunuh anak muda? Masih banyak cara lain jika memang ia dianggap membahayakan negara. Tidak ada persinggungan antara Badan Intelijen Negara atau saya dan almarhum.
Mungkinkah Munir dibunuh lantaran getol mengusut kasus Talangsari, Lampung, yang meletus ketika Anda menjadi petinggi militer di sana?
Masak, karena itu, dia saya bunuh? Yang benar saja? Yang ngangkat masalah Talangsari banyak, bukan cuma almarhum. Saya juga tidak pernah gentar dengan pengusutan kasus Talangsari, karena dulu, ketika menjadi komandan resor militer, saya sudah bertindak hati-hati. Jadi untuk apa saya membunuh (Munir)?
Siapakah yang dianggap Badan Intelijen membahayakan negara?
Teroris. Mereka yang mengebom rakyat tak berdosa. Nama negara kita menjadi jelek, investasi pun tak masuk. Itu pekerjaan orang gila. Kalau saya disuruh mengejar mereka dan terpaksa menembak mati, itu mungkin biasa. Dalam situasi tenang, ada urusan apa membunuh orang yang tak membahayakan negara?
Soeripto mengaku memiliki dokumen tentang adanya rapat perencanaan pembunuhan Munir. Benarkah?
Aneh benar. Memangnya rapat mau goreng ayam? Saya heran, Soeripto yang pernah di intelijen, walau sebentar, kok kelakuannya seperti begitu? Kalau dia punya sesuatu (bukti), kenapa tidak melaporkannya ke polisi? Dia justru mengaburkan pengungkapan. Kalau informasi itu betul, orang yang disebutkan bisa lari semua.
Bagaimana sebuah operasi intelijen direncanakan?
Selama saya memimpin Badan Intelijen Negara kurang dari tiga tahun, tak pernah ada operasi intelijen. Untuk menggelar operasi intelijen, mereka yang terlibat mesti ditunjuk proporsional. Operasi untuk penyelidikan pasti menunjuk Deputi Penyelidikan. Operasi penggalangan seperti menggalang media massa dan melakukan ceramah-ceramah pasti dilakukan Deputi Penggalangan. Tak ada operasi A diberikan kepada Deputi B. Kelengkapan, infrastruktur, dan pengetahuannya tidak mendukung. Tanggung jawab operasi rahasia selalu tegak lurus. Misalnya, operasi untuk menghilangkan pengkhianat, yang bertanggung jawab pasti sampai presiden. Semua jalurnya tahu, enggak boleh ada yang kelewat. Kalau dilakukan perorangan, namanya bukan operasi intelijen.
Pembunuhan bukan bagian dari Deputi Penggalangan?
Bukan, dong. Penggalangan itu merombak opini. Senjatanya ceramah dan hal-hal yang sifatnya agitasi-propaganda. Makanya dulu ada Direktur Agitprop (Agitasi Propaganda). Zaman saya tidak ada lagi. Sedihnya, undang-undang untuk mengatur intelijen dari dulu enggak jadi-jadi.
Hal itu juga yang membuat Anda dikaitkan dengan pembunuhan. Bukankah Munir sangat giat menentang Rancangan Undang-Undang Intelijen?
Ha-ha-ha…. Saya juga tidak tahu dia menentang. Yang menentang justru orang pemerintahan Megawati sendiri: Menteri Kehakiman dan Menteri-Sekretaris Negara. Mereka bilang belum waktunya ada Undang-Undang Intelijen. Presiden lalu memutuskan: ya sudah, nanti saja. Padahal saya ingin ada pembatasan agar bisa mengontrol.
Mungkinkah ada operasi intelijen yang dilakukan atas inisiatif bawahan Anda, Muchdi misalnya?
Susah ngomong-nya, ya, karena kami tidak 24 jam selalu sama-sama. Tapi orang yang sudah dididik dalam satu korps, berdisiplin, profesional, punya semangat dan tanggung jawab, rasanya (Muchdi) kok enggak sampai hati (membunuh). Enggak mungkin.
|