Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 19/XXXVII/30 Juni - 06 Juli 2008
   
Laporan Utama

Muchdi Purwoprandjono:
Saya Akan Balik Menuntut

Inilah teman-teman baru Muchdi Purwoprandjono: Roesdihardjo, Irawady Joenoes, Rusli Simanjuntak, Hamka Yandu, dan Urip Tri Gunawan. Mereka, para tersangka berbagai kasus korupsi itu, kini ”hidup seatap” dengan mantan Deputi V/Penggalangan Badan Intelijen Negara ini di Blok A rumah tahanan Markas Komando Brigade Mobil Kepolisian, Kepala Dua, Jakarta Timur. Muchdi memang tidak ditahan karena kasus korupsi. Ia ditahan lantaran kasus kematian Munir.

Muchdi menghuni kamar 3 x 3 meter persegi. Ada delapan kamar lengkap dengan kamar mandi di blok itu. Hanya satu yang kosong. Ruang tahanan juga dilengkapi pengatur suhu yang dipasang secara sentral. Jumat pekan lalu, Urip berjalan-jalan di selasar ruang tahanan. Adapun Roesdihardjo ikut salat Jumat di masjid kompleks, sekitar 200 meter dari sel.

Sepekan ditahan sebagai tersangka kasus pembunuhan aktivis Munir, Muchdi bersedia menjawab beberapa pertanyaan Budi Setyarso dari Tempo dalam sebuah kesempatan dan melalui telepon seluler pengacaranya, Muhammad Ali. Sang pengacara tak mengizinkan mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus itu menjawab pertanyaan seputar substansi kasus.

Anda dituduh terlibat pembunuhan Munir. Komentar Anda?

Saya anggap ini hanya cobaan, suatu musibah, yang justru patut disyukuri. Mungkin ada hikmah di balik semua ini, yang merupakan rahasia Tuhan. Ini kan baru sangkaan dan dugaan, yang menurut saya merupakan hasil tekanan dari beberapa orang dengan mengatasnamakan masyarakat. Mungkin juga ini pesanan dari orang-orang asing untuk memecah belah bangsa kita.

Bagi saya, ini masalah kecil saja. Saya sudah biasa menghadapi desingan-desingan peluru di medan perang.

Di mana Anda pernah berperang?

Lo, saya pernah ke Timor Timur beberapa kali. Lalu, dalam operasi di Kalimantan, saya membawa peleton dan kompi Parako. Saya pun pernah menjadi Komandan Satuan Tugas Perbatasan Irian Jaya. Operasi di Aceh juga pernah. Sekali lagi, saya sudah biasa menghadapi masalah. Jadi ini masalah kecil saja.

Anda dituduh membunuh. Mengapa itu dianggap masalah kecil?

Silakan saja orang menuduh, nanti kita buktikan saja di pengadilan. Nanti kita lihat. Kalau tidak terbukti, saya akan menuntut balik orang-orang yang menuduh saya. Ini fitnah dan, Anda tahu, fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.

Karier Anda di militer berakhir karena aktivitas Munir. Anda sakit hati?

Saya tidak akan menjawab pertanyaan Anda.

Anda punya motif menyingkirkan Munir?

Tanya saja pengacara saya. (Telepon lalu diambil alih Muhammad Ali: ”Tanya pertanyaan lain.”)

Benarkah polisi menemukan file konsep surat permintaan Badan Intelijen Negara agar Pollycarpus Budihari Priyanto ditugasi ke Unit Keamanan Penerbangan Garuda?

Itu substansi penyidikan. (Muhammad Ali kembali menyahut: ”Tolong, jangan masuk substansi penyidikan.”)

Pada Kamis malam itu, Anda sebenarnya ditangkap atau datang sendiri?

Saya memenuhi undangan polisi. Saya menghormati, karena diundang, ya, saya datang. Masalah waktu, karena kesibukan, saya baru bisa datang pada malam hari. (Muhammad Ali mengingatkan bahwa masalah ini sudah dibahas dalam penerbitan Tempo sebelumnya. ”Jadi tidak perlu ditanyakan lagi,” katanya.)

Setelah dinonaktifkan dari jabatan militer karena dianggap terlibat penculikan aktivis mahasiswa pada 1998, Anda sempat ”diparkir”. Tiga tahun kemudian, A.M. Hendropriyono menarik Anda ke Badan Intelijen Negara. Anda punya kedekatan khusus dengannya?

Kami sama-sama orang Komando Pasukan Khusus. Ketika saya masuk pada 1970-an, dia sudah lebih dulu masuk. Dia itu kawan, atasan, dan sahabat saya. Sahabat itu kelihatan bila ada orang sengsara. Pada dasarnya, saya baik dengan semua orang. Kalau orang baik kepada saya, saya bisa bersikap lebih baik kepadanya. Sebaliknya, kalau orang jahat kepada saya, saya bisa lebih jahat kepada orang itu.

Anda banyak aktif di berbagai kegiatan sosial akhir-akhir ini. Apa motifnya?

Sebagai warga negara, saya dibesarkan oleh tentara. Tiga puluh tujuh tahun saya mengabdi demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semangat itu tidak bisa hilang begitu saja. Saya tidak ingin negara kita terpecah belah sesuai dengan skenario orang lain.

Memangnya ada gejala seperti itu?

Kita lihat semua, belakangan ini saya merasakan seperti itu.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data