Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 19/XXXVII/30 Juni - 06 Juli 2008
   
Laporan Utama

Kisah Penyerang dari Kalak Ijo

Muchdi Purwoprandjono sibuk dengan segudang kegiatan sejak tak aktif di Badan Intelijen Negara. Ia aktif di perguruan pencak silat, memimpin partai politik, hingga bergabung dengan klub Harley Davidson.

DALAM foto berpigura ke-emasan itu tampak enam orang berdiri tegak. Mereka mengenakan seragam pencak silat berwarna merah dengan garis kuning di tepi. Seorang di antaranya berompi hitam, berambut cepak, dengan sorot mata tajam. Dialah Muchdi Purwoprandjono, sang Ketua Umum Pengurus Pusat Tapak Suci, sebuah perkumpulan silat terkemuka milik Muhammadiyah.

Gambar ini menempel di dinding sekretariat organisasi bela diri itu, di gedung Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat. Di perguruan silat itu, Muchdi bergelar pendekar besar, jenjang paling puncak yang sangat disegani. Muchdi juga menjadi Ketua Harian Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia, payung perkumpulan pencak silat. Ketua umum ikatan ini Letnan Jenderal Purnawirawan Prabowo Subianto, mantan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat.

Menurut agenda di papan sekretariat, mestinya Muchdi membuka kejuaraan daerah pencak untuk wilayah Sumatera Barat, Riau, dan Jambi, Jumat-Sabtu dua pekan lalu. Tapi polisi keburu ”menjemput” Muchdi di Apartemen Sahid, Jakarta, sehari sebelum acara itu. Muchdi mengaku telah berlatih silat sejak 1963. ”Jadi, saya bukan orang baru di dunia pencak,” kata Muchdi kepada Tempo, Jumat pekan lalu.

Muchdi juga pernah aktif di organisasi pandu milik Muhammadiyah, Hizbul Wathan, ketika duduk di sekolah rakyat pada 1960. Hizbul Wathan, gerakan kepanduan yang dulunya dipaksa mengubah namanya menjadi Pramuka, lahir kembali setahun setelah Orde Baru tumbang. Muchdi kini menjadi anggota Majelis Penyantun Hizbul Wathan Jakarta.

Ia juga aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Sugeng, 62 tahun, sahabat sepermainan Muchdi di sekolah rakyat, mengisahkan bahwa fisik Muchdi memang kuat. Ia, bersama 15 remaja sebayanya di kampung kelahiran, Dusun Kalak Ijo, Desa Triharjo, Sleman, Yogyakarta, berkemah ke Kaliurang. Untuk mencapai sana, kata Sugeng, mereka berjalan kaki sejauh 20 kilometer. Sugeng kini Ketua RW 03 Kalak Ijo.

Muchdi juga suka ngebut. Sejak tiga tahun lalu, ia bergabung dalam Harley Davidson Club Indonesia. Dialah salah seorang penggagas Tour Jalur Merah Putih menyambut 100 tahun Kebangkitan Nasional pada Mei lalu. Tur ini yang membawa Sophan Sophiaan tewas kecelakaan di Ngawi, Jawa Timur. Muchdi berada di urutan konvoi nomor lima, sedangkan Sophan nomor enam. Kegiatan ini terinspirasi Tour Gemilang, nama bendera Malaysia, yang kata Muchdi ”mampu membangkitkan nasionalisme yang luar biasa”.

Firman Wijaya, pengurus bidang hukum perkumpulan hobi motor besar ini, mengatakan bahwa Muchdi bergabung karena diajak Ketua Umum Harley Suyono, sesama pensiunan jenderal. Muchdi tidak menjabat di struktur organisasi. ”Dia sesekali saja ikut kumpul,” kata Firman.

Muchdi juga berpolitik. Lewat Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), dia bergabung dan menjadi wakil ketua umum. Partai yang didirikan pada akhir 2007 itu dibidani Prabowo Subianto. Partai ini lolos verifikasi di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, dan sedang menunggu hasil verifikasi faktual Komisi Pemilihan Umum. Sekretaris Jenderal Gerindra Ahmad Muzani mengatakan, Muchdi tak terlalu aktif di partai. Ketua umum partai itu, Suhardi, menyatakan bahwa pada siang sebelum ditangkap, Muchdi hadir di kantor Dewan Pengurus Pusat Gerindra, Jalan Brawijaya 1, Jakarta, untuk menerima tim verifikasi faktual Komisi Pemilihan Umum.

Muchdi lahir di Yogyakarta pada 15 April 1949. Ia menamatkan sekolah rakyat hingga sekolah menengah atas di Yogyakarta. Pada 1970 ia masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Ia memulai karier militer dari bawah, sebagai komandan peleton dan komandan kompi. Kariernya terus menanjak. Ia dipromosi menjadi Komandan Distrik Militer Jayapura (1988-1993) dan Kepala Staf Komando Resor Militer Biak pada 1993-1995, lalu menjadi Komandan Resor Militer Garuda Putih Jambi.

Ia lalu dipindah ke Jawa, menjadi Kepala Staf Komando Daerah Militer Brawijaya, Jawa Timur. Pada 1997 menjadi Asisten Operasi Komando Daerah Militer Udayana, Bali, dan pada tahun yang sama ia menjadi Panglima Komando Daerah Militer Tanjungpura, Kalimantan.

Pada 1998 kariernya makin kinclong. Muchdi diangkat menjadi Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus atau Kopassus. Muchdi dekat dengan Prabowo, menantu Jenderal Besar Soeharto, yang saat itu berpangkat letnan jenderal dan menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat. Muchdi dan Prabowo pun pernah dikait-kaitkan dengan peristiwa pembantaian 116 orang yang dianggap sebagai dukun santet di Banyuwangi.

Muchdi, yang bersama Prabowo dan Chairawan tergabung dalam Tim Mawar, disebut juga terlibat penculikan aktivis anti-Orde Baru pada 1997-1998. Mereka yang diculik adalah tujuh aktivis, antara lain Andi Arief, Nezar Patria, Faisol Reza, dan Haryanto Taslam. Selain itu, 13 aktivis hingga kini tidak diketahui nasibnya dan diduga mati terbunuh. Mereka antara lain Yani Apri, Noval Alkatiri, Dedy Hamdun, Hendra Hambali, Suyat, Wiji Thukul, Bimo Petrus, Herman Hendrawan, Ucok Siahaan, Soni, dan Ismail.

Muchdi, Prabowo, dan Chairawan dibawa ke Dewan Kehormatan Perwira yang diketuai Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Subagyo H.S. pada 1998. Seiring dengan itu, Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Wiranto membebastugaskan ketiganya. Saat itu Prabowo menjabat Komandan Sekolah Staf Komando, Muchdi Wakil Inspektur Jenderal Angkatan Bersenjata, dan Chairawan Komandan Grup IV Sandi Yudha Kopassus.

Zaenal Maarif, kuasa hukum Muchdi, mengatakan bahwa persoalan dukun santet dan penculikan itu sudah berlalu. Pula, tidak ada bukti yang menyebutkan mereka terlibat. Tudingan itu, kata Zaenal, lebih sebagai upaya untuk melemahkan posisi Tentara Nasional Indonesia dalam kancah politik. ”Kan sudah selesai dan tidak ada bukti apa pun,” katanya kepada Tempo.

Muchdi kemudian direkrut A.M. Hendropriyono, Kepala Badan Intelijen Negara, di era Presiden Megawati. Ia diangkat sebagai Deputi V/Penggalangan hingga 2005. Muchdi disebut juga berbisnis batu bara di Kalimantan Timur. Tapi soal ini Zaenal menyatakan belum mengetahui. Sang pendekar juga peduli pendidikan. Pada 2003, Muchdi mendirikan Sekolah Menengah Atas International Islamic Boarding School di Cikarang, Bekasi. ”Saya dirikan bersama sejumlah pengusaha,” kata Muchdi.

Meski banyak di Jakarta, Muchdi kerap berkunjung ke kampungnya. Biasanya untuk berziarah ke makam orang tuanya dan silaturahmi Lebaran. Beberapa kali Muchdi bertemu dan ngobrol dengan Sugeng. Dalam kenangan Sugeng, Muchdi bukan anak bandel yang suka berkelahi. Sugeng juga tak menjumpai masa kecil Muchdi terlibat nakalnya anak kampung, misalnya mencuri buah dari pohon milik tetangga. ”Dia agamanya kuat, rajin mengaji ke langgar,” ujar Sugeng.

Di Sekolah Rakyat, kata Sugeng, Muchdi masuk 10 besar dari 25 murid. Meski bukan juara kelas, menurut dia, Muchdi jago berhitung. Ia juga lincah bermain sepak bola. Setiap ada pertandingan bola antarkampung, Muchdi selalu masuk tim utama Kalak Ijo. Untuk urusan tendang-menendang bola, kata Sugeng, Muchdi adalah penyerang tengah hebat tim Kalak Ijo.

Sunudyantoro, Iqbal Muhtarom, Bernarda Rurit (Yogyakarta)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data