|
 Tempo Edisi 7-13 Maret 2005
PENYELIDIKAN kematian aktivis hak asasi manusia Munir mulai merasuk ke tubuh Garuda. Tim pencari fakta kasus itu, yang dibentuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dua kali memeriksa Direktur Utama PT Garuda Indra Setiawan sebagai saksi. Indra dicecar tim itu seputar penugasan Pollycarpus, pilot Garuda yang berada di pesawat GA-974 yang ditumpangi Munir, 6 September 2004. Dalam penerbangan Jakarta-Singapura itu pula racun arsenik masuk ke tubuh Munir, yang mengakibatkan kematiannya.
Munir meninggal di langit, dua jam sebelum pesawat mendarat di Bandar Udara Schiphol, Belanda. Dokter dari Lembaga Forensik Belanda yang mengotopsi jenazahnya menemukan timbunan arsenik di dalam darahnya. Tim pencari fakta mengungkapkan ada indikasi Indra dan beberapa bawahannya terlibat dalam konspirasi pembunuhan Munir.
Tiga surat menjadi bukti. Surat-surat yang dikeluarkan Garuda itu dianggap penuh kejanggalan. Selain itu, semua surat berhubungan dengan satu orang, Pollycarpus Budihari Priyanto, yang sejak awal sudah disebut-sebut terkait dengan kasus Munir.
Keping-keping puzzle baru dalam penyidikan kasus Munir sedikit demi sedikit ditemukan. Menyusul penahanan mantan Deputi Kepala Badan Intelijen Negara Bidang Penggalangan Muchdi Purwoprandjono dua pekan lalu, giliran dinas intelijen yang kini menjadi sorotan.
Catatan
Seabad Tunguska
30 Juni 1908
HARI ini, seabad lalu, ledakan hebat yang diduga disebabkan pecahan komet meratakan sekitar dua ribu kilometer persegi hutan cemara Podkamennaya, Tunguska, di Siberia Tengah, Rusia. Ledakan terjadi di udara pada ketinggian 5-10 kilometer. Kekuatannya setara dengan 15 megaton bom biasa atau seratus kali lipat bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki.
Untunglah, komet itu jatuh di tempat tak berpenduduk. Baru pada 1920-an ilmuwan bisa mengunjungi wilayah itu.
A.V. Voznesenskij, direktur observatorium meteorologi dan magnetik di Irkutsk, Danau Baikal, 1.000 kilometer dari Tunguska, melaporkan bahwa ledakan itu mengakibatkan embusan angin yang cukup untuk menerbangkan orang. Panasnya seperti jika pakaian kita terbakar.
Sejawat Voznesenskij, G. K. Kulesh, yang menjadi kepala stasiun meteorologi di Kurensk, sekitar 200 kilometer dari pusat ledakan, memiliki laporan yang lebih dahsyat. ”Sebuah meteor besar telah jatuh,” katanya kepada Voznesenskij.
Meteor itu membentuk tiang api. Jatuh ke bumi seperti tombak yang dilemparkan. Lalu, terdengar lima ledakan kuat, diikuti guncangan.
|