Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 19/XXXVII/30 Juni - 06 Juli 2008
   
Ekonomi dan Bisnis

Saling Salip dengan Minyak

Harga batu bara terus melambung. Menjadi perburuan investor dan terjadi kepanikan konsumen.

REKOR harga itu tak henti-hentinya tumbang di Pelabuhan Newcastle, Australia. Di pesisir Negara Bagian New South Wales itu, yang setiap tahun menjadi pintu keluar-masuk 1.500 kapal pengangkut, harga batu bara melonjak setiap pekan. Jumat pekan lalu, harga batu bara hitam di indeks Newcastle menyentuh US$ 172,10 per ton, naik US$ 9,44 dari pekan sebelumnya.

Panasnya harga itu tentu saja menggiurkan produsen sekaligus bikin ketar-ketir konsumen. Padahal tahun lalu di bulan yang sama, harga satu ton batu bara termal masih di kisaran US$ 66. Setapak demi setapak, nilai batu bara di berbagai indeks dunia melejit. Kenaikannya bahkan lebih ngebut ketimbang minyak mentah di Bursa Komoditas Berjangka New York. Saat harga minyak menyentuh US$ 100 per barel pada Februari lalu, nilai batu bara di Newcastle sudah US$ 120-130 per ton.

Keduanya memang tidak bisa dipisahkan. ”Bila minyak naik, sumber bahan bakar yang dikonsumsi untuk mengganti minyak dan gas turut melambung,” kata Jeffrey Mulyono, Chairman Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia. Jumat pekan lalu, harga minyak juga nyaris menembus US$ 143 per barel. Kenaikan harga minyak yang tak putus-putus itu mendorong banyak negara yang rakus energi berlomba-lomba mencari alternatif. Salah satunya batu bara.

Tak mengherankan bila beberapa negara penghasil batu bara juga menjadi importir. ”Cina berada pada posisi untuk melangkah antara menjadi importir dan eksportir,” kata Henry Liu, analis di Macquarie Bank. Feng Zhang, analis di JP Morgan, menambahkan, Cina bisa beralih menjadi importir penuh pada tahun ini.

Cina, dengan produksi 2,5 miliar ton, mengimpor 38 juta ton batu bara termal dan coking dua tahun lalu. Adapun India, dengan produksi 427 juta ton, 10 persennya dipasok negara lain. Perusahaan asal negara itu bahkan belakangan makin rajin memburu batu bara dengan membidik kuasa pertambangan di Indonesia.

Jumlah kebutuhan batu bara kedua negara itu diperkirakan masih terus membengkak. Ini karena Cina, yang punya pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dengan kapasitas terpasang 500 ribu megawatt, akan menggandakan kapasitasnya dalam lima tahun ke depan. ”Kebutuhan energi sebuah negara setara dengan pertumbuhan produk domestik brutonya,” ujar Jeffrey.

Negeri itu sendiri dipastikan akan mengurangi pasokan ekspornya hingga tiga tahun ke depan. Dengan proyeksi pertumbuhan 10 persen, kebutuhan energi negeri itu meningkat dengan jumlah yang sama. Jim Lennon, analis Macquarie Group Ltd., percaya, dengan kekuatan ekonomi seperti itu, pertumbuhan permintaan batu bara Cina lebih cepat ketimbang pertumbuhan produksinya. ”Ini menyebabkan suplai batu bara di pasar terbatas dan harga terus melonjak,” kata Jim Lennon.

India juga tengah menyiapkan pembangkit listrik berkapasitas 50 ribu megawatt. Akibat tambahan kapasitas itu, kata Jeffrey, India membutuhkan 175-200 juta ton batu bara per tahun. Indonesia sendiri membutuhkan tambahan pasokan 35-47 juta ton per tahun bila program pembangkit listrik 10 ribu megawatt beroperasi dua tahun mendatang.

Namun melesatnya permintaan batu bara dunia tak diimbangi dengan pasokan. Pasarnya sangat sempit. Tahun lalu, dari hampir 6 miliar ton total produksi dunia, jumlah batu bara termal yang diperdagangkan antarnegara hanya 525 juta ton—di pasar Asia Pasifik mencapai 375 ton. Selebihnya digunakan untuk kebutuhan domestik. Itu pun masih kurang. Satu persen saja jumlah yang diperdagangkan antarnegara berkurang, pasar batu bara guncang.

Itu sebabnya, untuk mengamankan pasokan, konsumen kini berlomba-lomba meneken kontrak jangka panjang—dari yang biasanya kontrak untuk memenuhi 60 persen kebutuhan meningkat menjadi 80 persen. Pembelian dengan harga spot berkurang. ”Karena kepanikan akan pasokan menjangkit di mana-mana,” kata Jeffrey. Apalagi laju kecepatan produksi tidak sebanding dengan meningkatnya konsumsi. Ini menyebabkan permintaan semu.

Tak aneh bila kontrak batu bara untuk pengiriman 2010 sudah diteken dari sekarang. ”Padahal barangnya masih berada di dalam bumi,” kata Singgih Widagdo, Direktur Indonesian Coal Society. Situasi ini bertambah parah karena batu bara itu juga kerap dijadikan spekulasi. ”Batu bara yang diperjualbelikan lewat secarik kertas itu mengakibatkan tata niaga menyimpang dan harga melonjak tajam sejak kuartal kedua,” kata Singgih. Nilai kontrak pengapalan batu bara untuk triwulan keempat tahun ini, misalnya, sudah menyentuh US$ 170,44 per ton.

Kepanikan akan pasokan yang mendorong harga melambung itu juga dipengaruhi oleh banjir yang menerjang Queensland dan hujan lebat di New South Wales sejak awal tahun hingga Februari. Gejala alam itu, kata Singgih, menyebabkan gangguan pengiriman batu bara ke pasar dunia pada kuartal pertama. Akibatnya, ekspor batu bara Australia turun 700 ribu hingga 1 juta ton per bulan. Negeri Kanguru itu kehilangan potensi ekspornya hingga 15 juta ton pada tahun Tikus ini.

Berkurangnya pasokan di pasar dunia juga terjadi karena pemerintah Afrika Selatan mengalihkan batu bara tujuan ekspor untuk kebutuhan pembangkit dalam negeri. Langkah serupa diambil Cina. Gara-gara dilanda badai pada Februari-Maret lalu, negeri itu mengalihkan 9 juta ton batu bara untuk kebutuhan domestik.

Pengalihan itu mengakibatkan pasokan batu bara di pasar dunia berkurang. Setumpuk persoalan itu memicu munculnya psikologis pasar akan ketersediaan batu bara. Para trader memanfaatkan situasi itu. Ini terlihat pada perdagangan di indeks Newcastle. Dampaknya, harga menjulang tajam. Tak aneh bila harga batu bara untuk kontrak fiskal 2008 antara Xtrata Mining, eksportir batu bara terbesar di dunia asal Australia, dan Chubu Electric Power Co. dari Cina pada April silam naik 145 persen menjadi US$ 125 per ton—tahun sebelumnya US$ 55,65.

Gonjang-ganjing harga di Newcastle yang naik 81 persen sejak awal tahun itu mau tak mau berdampak pada harga indeks batu bara Indonesia (ICI). Pada Jumat dua pekan lalu, harga batu bara Indonesia kelas 6.500 kilokalori sudah menyentuh angka US$ 128,97 per ton. Sedangkan harga batu bara 5.000 kilokalori dan 5.800 kilokalori masing-masing US$ 77,86 dan US$ 99,58.

Sedangkan harga batu bara yang dipatok PT PLN Persero dalam rencana kerja anggaran perusahaan untuk memenuhi kebutuhan pembangkit hanya US$ 50-55 per ton. ”Perkembangan harga batu bara sudah mengkhawatirkan,” kata Murtaqi Syamsuddin, Direktur PLN untuk Jawa-Bali, kepada Muchamad Nafi dari Tempo. Harga hasil bumi itu bisa membuat kantong PLN jebol. Tren kenaikan harga itu sendiri dipercaya bakal berlanjut hingga 2009.

Padahal, menilik peta pasar regional serta proyeksi pertumbuhan ekonomi negara importir terhadap kebutuhan listrik tahun depan, harga hasil bumi itu sewajarnya tidak naik tajam. Namun, bukan tak mungkin, aksi para trader di Newcastle, ditambah kepanikan konsumen, bisa menjungkirbalikkan keadaan.

Beroperasi sejak 1799, fasilitas maritim dan bongkar muat kapal yang dikelola oleh Newcastle Port Corporation itu memang menjadi pusat perdagangan batu bara Australia dan dunia. Menurut data World Coal Institute, Australia sempat menjadi eksportir terbesar dua tahun lalu—231 juta ton. Setiap tahun, minimal 70 juta ton batu bara dikapalkan melalui pelabuhan ini. Pada 2004-2005, total perdagangan yang melalui pelabuhan itu sekitar 83,5 juta ton, dengan nilai US$ 7 miliar. Tak pelak, Newcastle pun menjadi pelabuhan ekspor batu bara terbesar di dunia.

Padatnya aktivitas di Newcastle dan pergerakan harga batu bara yang melaju kencang itu mendorong JP Morgan mengubah proyeksinya. John Bridges, analis JP Morgan, menaksir, rata-rata harga perdagangan batu bara termal tahun depan sekitar US$ 150 per ton, naik dari sebelumnya US$ 100 per ton. Sedangkan indeks Barlow Jonker memprediksi harga jual rata-rata batu bara tahun depan US$ 145 per ton. Bahkan Merrill Lynch, perusahaan penasihat keuangan dan investasi perbankan, pada Maret lalu sempat memprediksi harga batu bara akan naik hingga 200 persen.

Tetap tingginya harga ini didasari kenyataan bahwa 25 persen energi dunia digerakkan oleh batu bara. Hampir 40 persen pembangkit listrik dunia dan 50 persen listrik di Amerika Serikat juga memakai sumber baru bara. Bahkan 70 persen produksi baja dunia berbasis bahan bakar batu bara. ”Batu bara kini menjadi pilihan buat investor,” kata Stan Lock, seorang pedagang di Brewin Dolphin, perusahaan penyedia jasa manajemen investasi di Inggris. Tapi, kalau harganya melonjak-lonjak seperti sekarang, posisi batu bara sebagai alternatif minyak layak dipertimbangkan kembali.

Yandhrie Arvian

Eksportir Pasar Asia Pasifik (Juta Ton)
Negara20072008*2009*
Indonesia170185200
Australia108116125
Cina504540
Vietnam191817
Rusia181818
Lain-lain3,54,55
Total368,5386,5405
*Proyeksi; Sumber: Indonesian Coal Society

Importir Pasar Asia Pasifik (Juta Ton)
Negara20072008*
Jepang118118
Korea6069
Taiwan6165
Cina5050
India3133
Malaysia1418
Hong Kong1212
Thailand1112
Filipina88
Total365385
*Proyeksi; Bahan: Indonesian Coal Society

Eksportir Batu Bara Dunia 2006 (Juta Ton)
NegaraTotal
Australia231
Indonesia129
Rusia92
Afrika Selatan69
Cina63
Kolombia60
Amerika Serikat45
Bahan: World Coal Institute


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data