Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 19/XXXVII/30 Juni - 06 Juli 2008
   
Agama

Membrahmana di Jalur Sulinggih

Bali menyaksikan pelurusan kasta melalui pemahaman Hindu. Semua orang lahir sebagai Sudra.

BULAN penuh di langit Pujungan, Rabu dua pekan lalu. Suhu tiga belas derajat Celsius. Hanya ada sebutir bintang di keluasan tawang. Selebihnya gemerincing genta, asap dupa, aneka puspa, dan gumam mantra mendaki angkasa.

Malam ini Purnama Sada, kata orang Bali. Malam baik untuk menyelenggarakan upacara. Sejak lepas isya, tamu berdatangan—jumlahnya dua ratusan—ke Pasraman Dharmasastra Manikgeni di Banjar Taman Sari, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan.

Itulah kompleks kediaman Putu Setia, yang bersama istrinya, Ni Made Sukarnithi, akan menjalani upacara Yadnya Pawintenan Diksa Bhawati, sebuah jenjang spiritual dalam agama Hindu. Sebentar lagi, pasangan yang menikah pada Desember 1972 itu akan dibuat ”mati raga”—sebelum menjalani ”hidup yang baru”.

Upacara ini merupakan proses awal menjadi sulinggih, yakni orang yang diberi kedudukan terhormat dalam tatanan keagamaan. Setelah malam ini, Putu Setia, wartawan-penulis yang pernah mengetuai Forum Cendekiawan Hindu, akan menyandang gelar Ida Bhawati—hanya setingkat di bawah Ida Pandita Mpu.

”Upacara seperti malam ini memang jarang terjadi,” kata Pandita Mpu Dharnika Tenaya, satu di antara hadirin. Terasa suasana gembira di tengah atmosfer khusyuk. Para tamu berbincang dalam kesetaraan. Pidato-pidato sambutan sebelum ritual menyiratkan semangat pembaruan dalam pemaknaan ”kasta”—semacam kesalahkaprahan berabad-abad.

Ketut Wiana, tokoh Hindu terkemuka di Bali yang menghadiri upacara, mengakui kesalahkaprahan ini memiliki sejarah panjang. ”Hindu hanya mengenal catur warna,” kata Wiana. ”Pada awalnya, lapis yang meliputi brahmana, ksatria, waisya, dan sudra itu berdiri sejajar dan merujuk fungsi,” Ida Pandita Mpu Dharma Rekatenaya menimpali.

Adalah feodalisme, kemudian kolonialisme, yang mengubah kesejajaran lapis itu menjadi jenjang bertingkat-tingkat. Di bawah feodalisme pula muncul sebelas subkasta yang lahir dari perkawinan campuran di antara kasta semula. Padahal, seperti ditulis Radhakrishnan di dalam bukunya, Eastern Religions and Western Thought, ”…semua orang dilahirkan sebagai Sudra.”

Maka malam ini Putu Setia membuktikan, siapa pun berhak menjadi brahmana selama ia bertekun mendalami ajaran agama dan menyucikan diri. Tapi bukan persoalan ”kasta” banget yang mendorong Putu Setia, 57 tahun, menjadi sulinggih. ”Ini cita-cita,” kata Putu, yang leluhurnya pernah menjabat pemangku—”jabatan” awal sebelum bhawati.

”Ayah saya mestinya pemangku di Pura Dalem, satu di antara Pura Kahyangan Tiga,” Putu menambahkan. Entah mengapa, sang ayah akhirnya memilih ”jalan dunia”. Pada usia dua puluhan, Putu berniat kembali ke jejak leluhur itu, terutama setelah melewati usia lima puluhan.

l l l

DI panggung upacara itu, tiga sulinggih, dalam busana ritual dan posisi bersila, khusyuk memainkan genta dan berbagai gerak tangan. Mereka adalah Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Rekananda dari Griya Nataran, Kayumas Kelod, Denpasar, yang sekaligus bertindak sebagai Guru Nabe; Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Prateka Tanaya dari Griya Padangsari, Tabanan (Guru Waktra); dan Ida Pandita Mpu Nabe Dharmika Tanaya dari Griya Pasek Kauripan Padang Jerah, Tabanan (Guru Saksi). Masing-masing sulinggih didampingi dan dilayani istri mereka, yang disebut Guru Istri.

Mantra dan genta sambut-bersambut dengan perangkat gamelan yang dipimpin Wayan Kolen dari sisi selatan kompleks, yang berseberangan dengan ”bale gede”. Di situlah Putu dan istrinya akan dibaringkan ketika mengalami keadaan ”mati”.

Pada 22.50, upacara itu mendaki puncaknya. Setelah diurapi dan diberi minum oleh Ida Pandita Mpu Nabe Dharmika Tanaya—yang bersama Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Rekananda bertelanjang dada di bawah suhu membeku itu—Putu Setia dan Ni Made Sukarnithi, 53 tahun, sekujur tubuhnya dibalut kain putih.

Keduanya dibawa ke depan sang Guru Nabe, Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Rekananda. Sang Guru Nabe, yakni guru pembimbing Putu di sepanjang jalan spiritualnya mencapai peringkat bhawati, setelah serangkaian mantra, mengurapi pasangan itu dengan masing-masing semangkuk air, dan keduanya langsung lunglai.

Delapan pria dan delapan perempuan menggotong tubuh kedua ”orang mati” itu ke bale gede—tiga puluh langkah dari panggung upacara—untuk dibaringkan di semacam ”altar” yang dibalut kain berwarna merah emas berkilauan. Altar itu kemudian ditutup seluruhnya.

Inilah saat-saat kritis. Karena itu, seraya ketiga sulinggih tetap berkhidmat di panggung upacara, beberapa pandita—juga para guru istri—”berjaga” di atas bale gede. Di bawah, sejumlah pemangku juga merapat membentuk semacam ”pagar betis”, siap menangkal segala kemungkinan.

Sejak awal, Putu sudah ”bersiap-siap” dengan mendatangkan seorang ”pintar” yang berumah di tepi Danau Batur, Kintamani. Nenek berusia lebih dari seratus tahun ini konon ”ahli leak”, tapi orangnya lucu dan menyenangkan. Ke sana-kemari ia menawarkan sirih pinang untuk dicicipi.

Suasana memang agak mencekam ketika seorang ipar perempuan Putu mendadak terkulai pingsan. Setelah sadar, ia bercerita melihat mendiang kedua orang tua Putu hadir di tengah upacara dengan wajah bangga. Ia merasa tak kuat menerima ”penampakan” ini.

Tepat dua puluh lima menit setelah ”dimatikan”, Guru Nabe memberi isyarat kedua jasad boleh ”dihidupkan”. Tirai disingkap, seorang pandita memercikkan air suci ke wajah Putu dan membisikkan sesuatu. Sang bhawati tampak bangun perlahan, begitu pula istrinya, dengan air muka seperti terbingung-bingung.

Para pandita, yang kini statusnya saudara seperguruan, menuntun Putu untuk dimandikan, pada suhu tiga belas derajat Celsius itu, sebagaimana para istri mereka kemudian menuntun dan memandikan pula Ni Made Sukarnithi. Keduanya lalu diberi pakaian—hakikatnya kain putih yang dibelit-belitkan—dan aksesori yang mengisyaratkan ”status” baru mereka.

Secara bahasa, bhawati dibentuk dari kata bhawa (kesucian) dan ti (sifat). ”Arti kata bhawati, sesungguhnya, adalah mereka yang menapaki jalan spiritual sehingga memiliki jiwa suci dan bijaksana,” kata Made Mulia dalam sambutannya mewakili Mahagotra Pasek Sanak Sapta Rsi, organisasi klan tempat Putu Setia terhisab.

Upacara diksa bhawati, kata Ketua Harian Parisada Hindu Darma Indonesia Bali, I Gusti Ngurah Sudiana, merupakan amanat kitab suci Weda bagi mereka yang berniat menjadi sulinggih. ”Menjadi bhawati adalah menjadi siswa ajaran-ajaran yang bersifat rahasia dari sulinggih nabe,” katanya sebelum upacara.

Sudiana berwasiat agar masyarakat Bali melepaskan diri dari pandangan ”kasta” ketika memilih sulinggih. Dia sendiri, yang berdasarkan ”kasta” tergolong ksatria, pada berbagai upacara keluarga menggunakan sulinggih dari berbagai klan. ”Terbukti saya sehat-sehat saja,” katanya, disambut tawa hadirin.

Ida Bhawati Putu Setia kini berhak memimpin semua upacara keagamaan Hindu, kecuali Pitra Nyadnya (pengabenan). Upacara yang satu ini harus dipimpin pandita. Bhawati adalah jenjang ketiga, setelah pemangku dan jro gede, dan jenjang terakhir sebelum pandita. Putu sudah menjadi pemangku sejak 2002.

Ada yang berubah dalam hidup Putu, memang, setelah mencapai ”makam” bhawati ini. Ia harus berpakaian khusus sehari-hari, misalnya tak boleh bercelana panjang, tapi berkain, dan tak boleh menutup kepala karena rambutnya bersanggul di bagian belakang. Ia masih boleh bekerja, tapi tak boleh menuntut upah.

Ketika ditanyai mengapa ia memilih Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Rekananda sebagai guru pembimbing, wartawan yang pandai menulis jenaka itu menjawab rasional. ”Beliau bekas pegawai negeri, bekas tentara, lama di luar Bali, dan beristrikan perempuan Jawa,” katanya. Kemudian ia menambahkan, ”Putrinya kawin sama orang Islam, jadi saya pikir dia pluralis.”

Dan bulan di langit Pujungan tetap purnama hingga upacara berakhir seutuhnya, menjelang pukul tiga, Kamis dinihari.

Amarzan Loebis, Rofiqi Hasan, Made Mustika (Pujungan, Tabanan, Bali)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data