Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXXVII/19 - 25 Mei 2008
   
Laporan Utama

Logika Si Misterius

LELAKI berwajah tirus itu memiliki banyak nama alias: Ong Soong Lee, Elias Fuentes, Ramli Husein, Ilyas Husein, Cheng Kun Tat, Eliseo Rivera, dan Howard Law. Tentu bukan tanpa sebab bila Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka melakukan penyamaran. Nama-nama itu merupakan tameng pria kelahiran 2 Juni 1896 ini dari kejaran intel kolonial yang selalu memburunya.

Dia juga kerap hidup berpindah tempat. Tidak mengherankan jika tak banyak orang mengenalnya secara dekat. Kisah tentang pria kelahiran Suliki, Sumatera Barat, itu pun kerap bercampur antara mitos dan fakta. Tak ubahnya cerita legenda yang banyak beredar di berbagai pelosok Tanah Air.

Kendati kisah hidupnya menyimpan banyak misteri, tidak dengan karya intelektualnya. Sejak terjun ke dunia politik pada 1921 hingga kematiannya yang misterius pada 19 Februari 1949, sudah beberapa buku lahir dari tangannya, di antaranya Menuju Republik Indonesia (1925), Massa Actie (1926), Madilog (1943), dan Dari Penjara ke Penjara (1948).

Menuju Republik Indonesia ditulis Tan Malaka saat berada di pembuangan dan menjadi salah seorang agen Komintern di Kanton, Cina. Ia menuangkan pemikirannya tentang program politik, ekonomi, sosial, dan militer yang diperlukan untuk memerdekakan Indonesia. Dalam Dari Penjara ke Penjara, Tan Malaka menuangkan pandangan dan perjalanan hidupnya. Berawal dari kepulangannya dari sekolah di Belanda sampai penangkapan dirinya di Madiun, 1948.

Dari empat buku itu, Materialisme-Dialektika-Logika (Madilog) dianggap menempati posisi istimewa. ”Madilog memang merupakan karya terbaik Tan Malaka. Paling orisinal, berbobot, dan brilian,” tulis peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Dr Alfian (almarhum), dalam kata pengantar buku Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik 1897-1925 karya Harry A. Poeze.

Madilog ditulis di sebuah rumah berdinding bilik bambu yang sudah reyot di Rawajati, Cililitan, Jakarta Timur. Penulisannya makan waktu kurang-lebih delapan bulan sejak 15 Juli 1942 sampai 30 Maret 1943. Dalam buku Tan Malaka: Pejuang Revolusioner yang Kesepian (LP3ES, 1988), Dr Alfian menyatakan, meski Tan Malaka kerap memakai terminologi Marxis-Leninis, yang ditekankannya adalah ”kekuatan ide sebagai perangsang perubahan sosial, bukan kekuatan dinamis dari pertentangan kelas”.

Sementara Massa Actie merupakan kritik atas kegagalan pemberontakan Partai Komunis Indonesia 1926-1927, Madilog merupakan refleksi atas nasib buruk bangsa Indonesia yang dinilainya tak pernah keluar dari belenggu perbudakan. Sebelum diperbudak penjajah, bangsa ini juga diperbudak sistem feodal. Feodalisme ini yang menyebabkan orang takut atau malas berpikir dan mudah menyerah.

Untuk keluar dari krisis, Tan Malaka menawarkan perubahan mental dengan mengembangkan pola pikir baru yang diperkenalkannya dengan formula materialisme-dialektika-logika. ”Inti Madilog adalah mengajarkan cara berpikir logis,” kata sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam.

Buku yang tergolong berat bagi orang awam itu amat mempengaruhi aktivis Partai Musyawarah Rakyat Banyak alias Murba yang didirikan Tan Malaka pada 7 November 1948 di Yogyakarta. Bahkan pengaruh buku yang ditulis pada 1943 itu masih terasa berpuluh-puluh tahun sesudahnya.

Bagi Andi Irawan, aktivis mahasiswa Surabaya pada 1990-an, Madilog cukup populer di kalangan aktivis, meski tak semua bisa mendapatkan buku itu, apalagi membacanya. ”Kami mendapatkannya dalam bentuk fotokopian. Diterimanya pun dengan sembunyi-sembunyi seperti orang bertransaksi narkoba,” ujarnya.

Pada 1990-an, kata Tri Agus Siswomihardjo, popularitas buku Tan Malaka di kalangan aktivis lebih-kurang sama dengan karya-karya sastrawan kiri Pramoedya Ananta Toer dan karya pemikir pendidikan bagi kaum tertindas, seperti Ivan Illich dan Paolo Freire. ”Tan Malaka populer karena aksi dan pemikirannya dinilai lebih progresif dibanding tokoh pergerakan di masanya,” kata bekas editor majalah Kabar dari PIJAR ini.



(8)
Dari Pendjara ke Pendjara
Terbit: 1948

(9)
Madilog
Terbit: 1943


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data