Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXXVII/19 - 25 Mei 2008
   
Laporan Utama

Denyut Demonstran dalam Puisi

Sebuah kumpulan puisi mengobarkan semangat mahasiswa melawan pemerintah pada akhir masa Orde Lama.

Anakmu yang berani
Telah tersungkur ke bumi
Ketika melawan tirani

—Salemba, Taufiq Ismail, 1966


SEBAIT sajak dalam kumpulan puisi Tirani dan Benteng itu menyeruak di tengah pergolakan politik 1966. Penyair Taufiq Ismail menulis puisi itu tatkala suhu politik negeri ini memanas. Gelombang demonstrasi pelajar dan mahasiswa menuntut pembubaran Partai Komunis Indonesia, Kabinet Dwikora, dan penurunan harga—dikenal dengan Tiga Tuntutan Rakyat—sedang marak-maraknya.

Ketika itu Jakarta membara oleh lautan demonstran. Di jalanan Ibu Kota, di tengah ingar-bingar pengunjuk rasa, puisi-puisi Taufiq hadir dalam bentuk stensilan bersama ratusan pamflet dan spanduk, yang meneriakkan protes terhadap pemerintahan Demokrasi Terpimpin di bawah Presiden Soekarno.

Puisi-puisi yang sarat dengan tema sosial itu berisi kecemasan, kesangsian, kebebasan, harapan, cita-cita, dan tekad. Taufiq baru saja dua tahun lulus dari Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan Universitas Indonesia, dan langsung berada di tengah hiruk-pikuk demonstrasi. Ia mengabadikan momen bersejarah itu melalui puisi-puisi yang ditulis sepanjang Februari-Maret 1966.

Taufiq menuliskan baris kata-katanya pada tumpukan kertas yang dijepit rapi dalam map merah cokelat. Ke mana-mana ia membawa map yang ditaruh dalam ranselnya. Menurut Taufiq, hampir setiap hari ia mengikuti demonstrasi mahasiswa. Ia merekam denyut demonstran. ”Biasanya puisi saya tulis malam hari di asrama mahasiswa Pal Putih 6,” katanya mengenang.

Tirani dan Benteng pertama kali diterbitkan di majalah Gema Psychologi Universitas Indonesia atas upaya sahabat Taufiq, Arief Budiman. ”Ketika terbit, sebetulnya saya waswas juga, karena setiap saat tentara bisa menangkap,” ujarnya. Makanya, waktu itu ia memakai nama samaran Nur Fadjar.

Boleh jadi, kalau tak ”diselamatkan” Arief, puisi-puisi Taufiq akan ikut hilang bersama catatan hariannya di dalam tas ransel hijau kumal yang dicuri di halaman stasiun kereta Gambir, Jakarta Pusat, pada suatu pagi. Naskah yang selamat itu kemudian diterbitkan Penerbit Faset. Selain memuat Tirani dan Benteng, Faset menambahkan 32 puisi lagi, yang ditulis Taufiq sepanjang 1960-1965. Karya-karya yang melengkapi itu diberi subjudul: Puisi-puisi Menjelang Tirani dan Benteng.

Melalui 73 sajaknya dalam Tirani dan Benteng, Taufiq telah membangun tonggak penting dalam perjalanan sastra Indonesia. Penyair kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935 itu turut berkontribusi mengobarkan semangat melawan penguasa pada masanya.

Selain menyebar di jalanan Ibu Kota, puisi Taufiq dalam bentuk stensilan juga diperbanyak mahasiswa dari luar Jakarta, yang saat itu ikut berdemonstrasi di Jakarta. Merekalah yang menyebarkannya ke kota asal masing-masing, seperti Bandung, Bogor, dan Yogyakarta.

Di Jakarta, gaung Tirani dan Benteng kian bergema karena kerap dibacakan di radio Ampera. Ini stasiun radio bawah tanah milik mahasiswa yang getol menyiarkan berita demonstrasi. Menurut Taufiq, salah satu yang sering membacakan puisinya di radio itu adalah Salim Said.

Taufiq menyatakan, ketika menulis puisi-puisi itu tak sedikit pun berniat membakar militansi demonstran. ”Waktu itu mengalir saja,” katanya. ”Situasi dan kondisi sungguh luar biasa. Itulah yang menginspirasi saya untuk menuliskannya”. Dengarkan ini:

Kami tidak bisa dibubarkan
Apalagi dicoba dihalaukan
Dari gelanggang ini

Karena ke kemah kami
Sejarah sedang singgah
Dan mengulurkan tangannya yang ramah

Tidak ada lagi sekarang waktu
Untuk merenung panjang, untuk ragu-ragu
Karena jalan masih jauh
Karena Arif telah gugur
Dan luka-luka duapuluh satu

—Horison, Taufiq Ismail, 1966




(86)
Tirani dan Benteng
Penerbit: Yayasan Ananda, Jakarta (1993 - edisi baru)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Apel Pagi Diganti Baca Alquran Bersama - 05 Sep 2008 | 14:03 WIB
Pertamina Berharap Dividen Tak Ganggu Investasi - 05 Sep 2008 | 14:03 WIB
Agus Condro Pertimbangkan Tuntut PDI Perjuangan   - 05 Sep 2008 | 14:02 WIB
Canna Menemani Azzurri - 05 Sep 2008 | 13:56 WIB
Agus Condro Pertimbangkan Tuntut PDI Perjuangan - 05 Sep 2008 | 13:54 WIB
Mengunduh Aplikasi Islami ke Ponsel - 05 Sep 2008 | 13:52 WIB
Tahun Depan, Lajur Khusus Motor di Samping Lajur Busway - 05 Sep 2008 | 13:44 WIB
Tangerang Harus Bebas Atribut Kampanye - 05 Sep 2008 | 13:44 WIB
Aksi Jalan Mundur Demi Pencabutan Konversi - 05 Sep 2008 | 13:37 WIB
Polisi Periksa Saksi Pembunuhan Putri Azhar - 05 Sep 2008 | 13:28 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data