Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXXVII/19 - 25 Mei 2008
   
Laporan Utama

Bertukar Gagasan di Jalan Sunyi

Dua kepala lebih baik dari satu.

Dimulai dari Soetatmo Soerjokoesoemo yang beradu gagasan soal nasionalisme dengan Tjipto Mangoenkoesoemo pada 1918. Lalu Sanusi Pane dan kawan-kawan berdebat soal kebudayaan dengan Sutan Takdir Alisjahbana pada 1935. Hampir 30 tahun kemudian, Njoto berpolemik dengan Burhanudin Muhammad Diah soal manifesto politik Soekarno.

Di sudut lain, tak hirau oleh tempik sorak perdebatan, ada yang memilih jalan sunyi: menulis catatan harian. Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib, untuk menyebut dua di antaranya. Tapi pengaruh catatan itu merentang jauh bertahun-tahun kemudian, melampaui zamannya. Semuanya, langsung atau tidak, membentuk konsep ”Indonesia” di kepala kita.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
29/XXXVII/08 - 14 September 2008

 

Berita lainnya

Pemilu 2009 Kemungkinan Pakai Marker Warna Orange - 08 Sep 2008 | 16:01 WIB
Arsenal Segera Berpindah Tangan ? - 08 Sep 2008 | 15:59 WIB
Pemudik ke Gunungkidul Perlu Waspadai Tanjakan - 08 Sep 2008 | 15:56 WIB
Pasokan Air PDAM Purwokerto Terancam Digilir - 08 Sep 2008 | 15:55 WIB
Schiavone: Sandy Bukan Lawan Mudah - 08 Sep 2008 | 15:50 WIB
Polisi Malaysia Tangkap 27 Warga Vietnam - 08 Sep 2008 | 15:40 WIB
KPUD Nusa Tenggara Barat Telusuri Putusan Mahkamah Agung - 08 Sep 2008 | 15:38 WIB
Korea Selatan tanpa Park Ji Sung - 08 Sep 2008 | 15:35 WIB
Makanan Rusak Banyak Ditemukan di Yogyakarta - 08 Sep 2008 | 15:33 WIB
Habis Puasa, Listrik di Pemukiman Padat Dirazia - 08 Sep 2008 | 15:26 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data