Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 07/XXXIV/11 - 17 April 2005
   
Televisi

Sang Ustad di Sudut Sinetron

Tayangan-tayangan yang diangkat dari pengalaman religius bermunculan di layar kaca. Ada drama, ada pesan moral yang amat gamblang.

Sang ustad, ubannya mencorong, kumis dan jenggotnya sarat?sesarat pengalaman hidupnya. Pagi itu, di hadapan ratusan jemaah masjid di sebuah perumahan mewah, ia berbagi cerita. Dan itulah perjalanan spiritualnya yang berawal dari suatu pojok pasar, tempat ia "berdinas" sebagai centeng.

Bang Malik?demikian panggilan centeng itu?berkeyakinan: kekerasan adalah "bahasa" terbaik. Semua seakan berlangsung wajar, sampai akhirnya ia kehilangan orang-orang tercinta: istrinya, kemudian putrinya. Ia meradang keras. Tangannya semakin ringan dan hidupnya semakin limbung, lalu muncullah seorang kiai yang sanggup memperlihatkan hubungan kondisinya saat itu, kematian istri dan anaknya dengan perbuatannya yang serba beringas. Ia bertobat, dan di layar kaca, ratusan jemaah yang menyimak ceramah Ustad Malik menitikkan air mata.

Kisah centeng menjadi ustad itu merupakan satu episode sinetron Takdir Ilahi berjudul Dikejar Dosa. Ditayangkan TPI saban Kamis pukul 20.30-22.00, sinteron bernuansa religius itu pekan lalu memasuki episode 7.

Menurut produsernya, Dondy B. Sudjono, Takdir Ilahi berkisah tentang "tercerahkannya" seseorang dari masa lalunya yang kelam. Kisah sinetron itu bersumber pada dua kitab kumpulan hadis Bukhari dan Muslim, yakni Mi'ah Qishshah wa Qishshah fi Anis ash-Shalihin wa Samir al-Muttaqin yang ditulis Muhammad Amin al-Jundi al-Muttaqin dan Madarijus Salikin (Pendakian Menuju Allah) karangan Ibnu Qayyim al-Jauziyah.

"Dalam setiap episodenya, Takdir Ilahi mengangkat kisah-kisah lepas yang berbeda," kata Dondy dari rumah produksi Kusuma Esa Permata Media.

Diakui oleh Artine S. Utomo, Wakil Direktur TPI, Takdir Ilahi adalah upaya untuk mengulang sukses Rahasia Ilahi, sinetron serupa yang juga disiarkan televisi itu tiap Senin malam. Hingga awal April, Rahasia Ilahi mencatat rating 14,9 dengan share 40,2 persen. Sedangkan Takdir Ilahi rating-nya 9,8 dengan share 29,8 persen. Artinya, pada jam itu 29,8 persen pemirsa televisi menonton Takdir Ilahi yang ditayangkan sejak 24 Februari lalu.

Keberhasilan itu rupanya memicu stasiun-stasiun lain menayangkan acara sejenis. SCTV, misalnya, sejak 28 Maret lalu menyiarkan Astaghfirullah setiap Senin pukul 20.30-21.30. Sinetron produksi Sinemart itu diangkat dari kisah nyata yang dimuat di rubrik "Kesaksian" majalah Ghoib. Disutradarai Chaerul Umam, sinetron itu memusatkan perhatian pada kisah seputar proses penyembuhan manusia yang terkena pengaruh negatif makhluk gaib. "Metode penyembuhannya lewat metode ruqyah, penyembuhan lewat doa-doa dan ayat-ayat yang sesuai syariat," kata sutradara yang akrab disapa Mamang itu.

Selain SCTV, Jumat malam pekan lalu, Stasiun Lativi juga menggelar tayangan perdana sinetron bernuansa agama: Azab Ilahi. Sinetron produksi Makemotion Films itu juga mengangkat kisah nyata tentang seorang manusia yang terkena "azab" Ilahi atas kejahatan yang diperbuatnya. Episode perdana yang bertajuk Istri yang Teraniaya mengisahkan seorang suami yang lumpuh karena menendang istrinya yang hamil.

Maraknya sinetron religius di luar Ramadan memang cukup menarik. Lihat saja Astaghfirullah. Manajer Humas SCTV, Haryanto, menyatakan, baru memasuki episode 2, sinetron itu telah mencatat rating cukup bagus, 5,4, dengan share 13,8 persen. Menurut Haryanto, hadirnya sinetron itu merupakan bagian dari strategi SCTV supaya tak kehilangan pemirsa. Hal senada diungkapkan Raldy Doy, Manajer Humas Lativi. Menurut dia, tayangan Azab Ilahi bertujuan memberi alternatif tontonan bagi pemirsa setia stasiun itu.

Yang jelas, semua sinetron religius itu dalam tayangannya selalu menampilkan sosok ustad, entah di awal, dalam keseluruhan cerita, atau di akhir kisah. Dalam Takdir Ilahi, misalnya, setiap akhir cerita ditampilkan Ali Mustafa Yaqub. Lalu Azab Ilahi menampilkan ulama yang populer di kalangan anak muda, Ustad Jefry al-Buchory. Dan Astaghfirullah menghadirkan seorang ustad yang menyodorkan solusi mengusir pengaruh jahat dalam diri si tokoh utama.

Dondy B. Sudjono menyatakan, kehadiran ustad di setiap akhir cerita Takdir Ilahi dikarenakan tak semua orang paham benar mengenai hadis. Kalau dibiarkan begitu saja, takut orang terjebak pada penilaian berbau klenik. Harus ada penjelasan yang disampaikan orang yang kompeten tentang kejadiannya seperti apa. "Makanya ada Mustafa Ali Yaqub dari MUI sebagai supervisi," ujarnya.

Sutradara Astaghfirullah, Chaerul Umam, mengatakan, kehadiran ustad dimaksudkan untuk memberikan informasi yang benar, yakni informasi tentang metode penyembuhan yang sesuai syariat lewat ruqyah. Sedangkan Kiki Thaher, sutradara Azab Ilahi, menyatakan bahwa ustad mewakili sesuatu yang bisa menjadi cermin. Sesuatu yang bisa menjadi media introspeksi. "Bisa menjadi tempat introspeksi itu kan ada di mana-mana, lalu dalam bentuk visual diwakili oleh sosok ustad," Kiki menjelaskan.

Begitulah. Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Quraish Shihab, mengatakan bahwa tayangan sejumlah sinetron itu boleh-boleh saja. Toh, banyak metode orang dalam berdakwah. Yang penting, pemirsa tetap harus rasional. Dalam drama, sinetron, dan film, unsur imajinasi pengarang sangat terlibat.

Nurdin Kalim, Evieta Fadjar


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data