Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 07/XXXIV/11 - 17 April 2005
   
Opini

Menangkal Kasak-kusuk Bencana

Ribuan orang di Nias, Padang, dan Jakarta panik karena rumor tentang gempa dan tsunami susulan. Pemerintah tak punya sistem informasi bencana yang andal.

TRAUMA mudah berakibat panik. Fenomena itulah yang terasa?terutama di lokasi bencana?setelah Aceh dan sebagian Sumatera Utara dilanda gempa dan gelombang tsunami, 26 Desember lalu. Apalagi setelah gempa juga menggoyang Nias dan Simeulue, dengan korban yang tak layak disebut kecil. Sedikit "rumor" tentang ancaman gempa baru sudah membuat kalang-kabut banyak orang.

Di Nias terutama, trauma itu berbuntut eksodus. Ribuan orang seperti berlomba meninggalkan "Banua Niha" itu dalam dua pekan terakhir. Entah di mana ujung-pangkalnya, beredar cerita Nias bakal tenggelam?konon begitu kata "orang pintar". Bahkan ada "rincian"-nya: Nias akan tenggelam sebelum 10 April 2005, didahului gempa dahsyat dan terjangan tsunami.

Kecemasan terhadap gempa baru itu ternyata juga menyebar ke Padang dan Jakarta. Di Padang, banyak penduduk penghuni pesisir mengungsikan keluarganya karena takut terkena gempa dan disapu tsunami. Ketakutan serupa melanda Jakarta. Pertengahan pekan lalu, misalnya, beredar pesan pendek yang mengabarkan, "Menurut CNN, Jakarta bakal terkena gempa besar." Sampai-sampai Badan Meteorologi dan Geofisika kebanjiran telepon dari pagi hingga petang.

"Kasak-kusuk" hanya bisa subur ketika sistem informasi yang resmi tersumbat atau lamban. Pada waktu sela itulah "sumber-sumber informasi" yang tidak bertanggung jawab, atau sengaja hendak mengeruhkan keadaan, berpeluang mengambil kesempatan. Jika pemerintah memiliki sistem informasi bencana yang andal dan akurat, kebingungan masyarakat tentu bisa diredam dalam waktu singkat. Sistem itu juga sekaligus memberikan peringatan dini sebelum bencana datang.

Pada saat ini penjelasan resmi BMG tentang ancaman bencana sulit didapat oleh masyarakat. BMG cuma memasok informasi ke lembaga tertentu, dan tidak proaktif menjelaskan ke khalayak. Tengoklah kejadian di Nias. Di sana pejabat setempat berpidato di radio delapan kali sehari, mengimbau warga agar tak melakukan eksodus. Tapi masyarakat tahu, pejabat itu juga bagian dari korban, dan tidak mewakili lembaga yang berwenang menerangkan hal-ihwal cuaca dan malapetaka alam. Pada saat ini diperkirakan, lebih dari 16 ribu warga Nias sudah hijrah ke Sumatera Utara.

Indonesia perlu belajar dari Jepang. Negeri yang sering dilanda gempa itu pada 1995 pernah dihantam gempa dahsyat. Getaran gempa saat itu meluluh-lantakkan Kota Kobe dan menewaskan 6.500 orang. Namun, setelah itu, negeri itu membangun sistem informasi bencana yang canggih, yang bisa menyampaikan kabar langsung hingga ke ruang tamu rumah penduduk. Dengan sistem itu, penduduk bisa tahu kapan bencana akan datang, sekaligus mengabaikan rumor tentang bencana.

Indonesia sebenarnya sudah lama merintis pembangunan sistem informasi bencana dan peringatan dini ini. Hanya, tak digarap serius, sampai tsunami menghantam Aceh. Saat ini, untuk memantau bencana di seluruh Nusantara, BMG cuma punya 31 titik pengamatan. Bayangkan: 31 titik untuk mengawasi wilayah yang terbentang 12 ribu kilometer. Idealnya, menurut Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, setiap radius 60 kilometer harus ada satu titik pengamatan.

Inilah yang mestinya segera dirampungkan pemerintah. Sudah saatnya negeri ini punya sistem informasi bencana yang andal, akurat, dan mudah diakses masyarakat.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
27/XXXVII/25 - 31 Agustus 2008

 

Berita lainnya

Elpiji Tidak Akan Naik Selama Puasa - 29 Ags 2008 | 20:48 WIB
Gadai Saham Bakrie Dianggap Wajar - 29 Ags 2008 | 20:33 WIB
Pemerintah Jamin Pasokan Kebutuhan Pokok menjelang Lebaran - 29 Ags 2008 | 20:32 WIB
Massa Gus Dur Demo KPU Jawa Timur - 29 Ags 2008 | 20:28 WIB
BI Siapkan Rp 77 Triliun untuk Lebaran - 29 Ags 2008 | 20:26 WIB
Kejaksaan Bojonegoro Periksa Staf Sekretariat Dewan - 29 Ags 2008 | 20:26 WIB
Puluhan Ribu Ton Gula Petani Tidak Laku - 29 Ags 2008 | 20:24 WIB
Lokalisasi Seks di Malang Tutup, Takut Diancam Banser - 29 Ags 2008 | 20:21 WIB
Lapangan Terbang Jember Dioperasikan Secara Komersil - 29 Ags 2008 | 20:18 WIB
Pindad Rancang Panser Canon - 29 Ags 2008 | 20:14 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data