Opera yang Mengejar Tenggat Turridu mati sia-sia karena cintanya pada Lola. Lakon cinta berakhir tragis selalu mengundang perhatian. |
Hanno ammazzato Turiddu...," para wanita menjerit, memproklamasikan kematian Turridu. Ya, Turridu mati di tangan Alfio, dan Santuzzadengan wajahnya yang pilumenelan dua kepahitan: pengkhianatan Turridu, kekasihnya, kemudian kematiannya.
Kisah cinta Turridu dan Santuzza ini menjadi bagian dari pertunjukan Opera Cavalleria Rusticana di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu (2/4) dan Minggu (3/4). Sebuah opera satu babak berdurasi 50 menit yang dipersembahkan Paduan Suara Mahasiswa Universitas Parahyangan (PSM Unpar) bekerja sama dengan Jakarta Chamber Orchestra dan Actors Unlimited.
Opera Cavalleria Rusticana karya Mascagni mengambil setting masyarakat kelas bawah di akhir abad ke-19. Tokoh Turridu dianggap mewakili golongan itu. Sebagai bekas tentara yang baru kembali ke desanya, Turiddu bukanlah sosok borjuis. Ibunya, Mama Lucia, cuma penjual anggur yang memiliki warung kecil.
Sebelum berangkat berperang, Turridu memiliki kekasih bernama Lola. Sayang, ketika kembali ke desanya seusai perang, gadis itu sudah disunting Alfio, sahabatnya yang berprofesi sebagai kusir. Turridu kemudian menjalin kasih dengan Santuzza. Namun, dia tidak bisa berhenti mencintai Lola. Secara diam-diam, Turridu tetap menjalin cinta lamanya. Santuzza mencium hubungan gelap kekasihnya itu dan menceritakannya kepada Alfio. Maka Alfio menghabisi nyawa Turridu.
Binu Dalip Sukaman mampu membawakan peran Santuzza (sopran) dengan baik. Penjiwaannya kuat. Dan Farman Purnama yang dipercaya memerankan Turridu (tenor) pun tidak mengecewakan. Dia bisa mengimbangi permainan Binu yang terhitung lebih berpengalaman. Tahun lalu, keduanya pernah tampil berpasangan dalam opera Dido and Aeneas karya Henry Pucell yang tampil di Gedung Kesenian Jakarta.
Meskipun tidak istimewa, penampilan Daniel Christianto sebagai Alfio (alto) juga tidak bisa dikatakan buruk. Begitu pula dengan Fitri Muliati yang menjadi Mama Lucia (alto) dan Rozana Unsulangi sebagai Lola (mezzo soprano). Mereka mampu memukau penonton dalam dua kali pertunjukan di Jakarta.
Catharina W. Leimena, Kepala Sekolah Pusat Pendidikan Musik Vokal Gita Svara, memuji keberanian PSM Unpar untuk menampilkan sebuah pertunjukan opera secara lengkap.
Catharina pernah memerankan Mama Lucia pada 1978 dan 1980. Dia menilai, pementasan itu menyimpan sejumlah kekurangan. Ia mengkritik akting para pemain, terutama yang berdiri di barisan koor.
Untunglah, kemampuan akting para solois mampu menutupi semua, terutama penampilan Binu Dalip. Dia benar-benar menjiwai lakonnya sebagai Santuzza. Padahal, kata Catharina, sangat berbahaya jika solois terlalu larut dalam perannya. "Kalau sampai nangis kan ngeri. Suaranya tidak bisa keluar," kata wanita yang pernah mendalami musik klasik di Italia itu.
Masalah akting ini sebenarnya sudah menjadi permasalahan klasik dalam pertunjukan opera. Sering kali pemain berkonsentrasi pada teknik vokal untuk mencapai nada-nada tertentu sehingga melupakan masalah penjiwaan peran. Padahal, opera menuntut lebih dari itu. Pemain bukan hanya diharuskan menguasai bidang tarik suara, tetapi juga kemampuan seni peran. Begitu pula sebaliknya.
Opera memang belum populer di Indonesia. Menurut Avip Priatna, konduktor sekaligus penata musik pertunjukan ini, hampir semua pendukung paduan suara belum memiliki pengalaman dalam pertunjukan opera. Latihan yang terpisah antara solois dan pa-duan suara membuat Avip harus sering pulang-balik Jakarta-Bandung setiap minggu. "Solois-solois ada di Jakarta, sementara paduan suara ada di Bandung," kata dia.
Suseno
|