Bebel, Bossa, dan Brasil Bebel Gilberto menggelar konser di Jakarta. Albumnya laku, lagunya sarat sentuhan akustik dan musik elektronik. |
Do you know how it is without anyone
Do you know anyone
Don't let it go
Never forget that when
I think of you
You're not alone
(potongan lirik lagu All Around)
WAnita itu, Bebel Gilberto, 38 tahun, seakan hanya ingin memperlihatkan dirinya yang terperangkap. Pada rintik gerimis, pagi berkabut, mendung di langitpada segalanya yang berakhir pada kesimpulan: hidup ini sendu.
Di ruang utama Hotel Gran Melia, awal bulan ini, ia bersenandung melukiskan dirinya yangujung-ujungnyadikelilingi sepi. Sebagaimana bisa kita dengar saat ia menyanyikan All Around, suaranya menjadi selirih angin manakala ia menyentuh nada-nada rendah. Di antara perkusi dan gitar akustik, mungkin kita bisa menangkap suaranya yang mendekati saksofon: kadang semakin keras (kresendo), kadang semakin sayup (dekresendo).
Kita tahu, mantan Presiden Amerika Bill Clinton, David Bowie, dan Janet Jackson mengaguminya. Demikian pula sebagian masyarakat di negeri ini yang berkumpul di Gran Melia malam itu. Bebel menyukai dan memilih lagu-lagu sendu, tapi albumnya yang pertama, Tanto Tempo, terjual lebih 700 ribu keping. Album dengan lagu-lagu yang menduduki anak tangga puncak pada tahun 2000. Setahun berselang, Tanto Tempo merebut Grammy Award.
Bebel Gilberto lahir dengan bakat musik melimpah. Tapi ia mesti memilih: tenggelam di antara nama besar keluarganya, atau menegakkan identitas musiknya sendiri. Ayahandanya artis istimewa, pencipta lagu-gitaris-penyanyi, Joao Gilberto. Sosok yang sangat berjasa memperkenalkan jazz-samba ke Amerika. Astrud Gilberto, istri kedua Joao, juga amat dikenal. Merekalah wakil musik Brasil dan Latin di dunia internasional yang sedang jatuh cinta pada jazz.
Dan Bebel mencium kekayaan musikal di halaman rumahnya sendiri: Brasil. Lalu lahirlah lagu-lagu berlatar Brasil berbahasa Portugis seperti Aganju, Cada Beijo, O Caminho, atau Jabuticaba.
Aganju musik yang dibawakan secara istimewa, musik yang berkembang perlahan: dari sederhana menjadi kompleks. Gitar akustik di barisan paling depankita mendengar bunyinya yang jernih sebelum suara lain. Suasana lengang masih terjaga ketika suara Bebel mengambil alih melodi. Suasana yang ternyata tak berlangsung lama setelah aneka perkusi ambil bagian. Terakhir, pada bagian pertengahan kita mendapati suasana pasar malam yang riuh rendah: drum, bas, synthesizer, atau suara-suara sahutan seorang lelaki yang muncul tiba-tiba di saat tak terduga.
Bebel Gilberto tentu sanggup menulis dan menyanyikan lagu-lagu gembira. Tapi mungkin kita bisa menebak: ia jenis orang yang tak akan terbahak ketika hatinya senang dan tak meratap ketika hatinya hancur. Karakter yang menyerupai akor-akor dalam musik Brasil: tidak mayor, juga tidak minor.
Evieta Fadjar P.
|