Seribu Peristiwa di Bulan Suro |
Sebagian masyarakat Jawa percaya adanya pantangan menggelar hajat pernikahan di bulan Suro. Jika pantangan ini dilanggar, pengantin atau keluarganya bisa mendapat kesengsaraan (kesialan) di masa datang. Entah benar atau tidak, yang jelas masyarakat Jawa secara turun-temurun menghindari bulan Suro untuk menikahkan anak.
Anggapan tersebut ada kaitannya dengan sosok supranatural Nyi Roro Kidul. Konon, penguasa Laut Selatan (Samudra Hindia) itu selalu menikahkan anaknya di bulan Suro, sehingga menjadi pantangan bagi masyarakat Jawa untuk ”menyaingi” hajatan yang digelar di kerajaan Laut Selatan itu. Kemalangan akan menimpa siapa saja yang tidak mengindahkan pantangan ini.
Menjadi bagian dari sistem penanggalan Jawa, bulan Suro erat kaitannya dengan bulan Muharam dalam sistem penanggalan tahun Hijriah (Islam). Titik awal penanggalan Jawa diperkenalkan pertama kali oleh Raja Mataram, Sultan Agung, pada 1633 M. Sultan mengubah tahun Saka menjadi tahun Jawa, yang mengikuti penanggalan Hijriah. Jadi, tanggal 1 Suro 1555 tahun Jawa sama dengan tanggal 1 Muharam 1043 Hijriah dan bertepatan pula dengan tanggal 8 Juli 1633 Masehi.
Seperti halnya bulan Suro, Muharam juga memiliki tradisi panjang yang dianggap sakral. Sejumlah peristiwa penting terjadi di bulan ini. Antara lain dijadikannya 1 Muharam sebagai awal penanggalan Islam oleh Khalifah Umar bin Khatab, pemindahan arah kiblat dari Yerusalem ke Mekah pada 16 Muharam, dan terbunuhnya cucu kesayangan Rasulullah, Imam Husein bin Ali, di Karbala pada 10 Muharam 81 H (680 M).
Terbunuhnya Imam Husein—oleh pasukan Yazid bin Muawiyyah— menimbulkan duka mendalam bagi penganut Syiah. Peristiwa itu memunculkan kepercayaan baru di kalangan Syiah. Mereka menganggap Muharam sebagai bulan kesedihan dan bulan sial. Entah berhubungan atau tidak, kepercayaan tentang Muharam (Suro dalam tahun Jawa) itu sampai juga ke Tanah Air, khususnya masyarakat Jawa.
Secara tradisi, masyarakat Jawa selalu memperingati datangnya bulan Suro dengan berbagai laku. Tradisi ini sebagai salah satu bentuk perenungan, introspeksi, dan pendekatan diri kepada sang Pencipta. Ada yang melakukan meditasi di tempat-tempat (yang dianggap) keramat atau dengan cara lek-lekan (begadang). Sebagian lainnya melakukan cara sendiri dengan tapa bisu mengelilingi benteng keraton.
Di lingkungan Keraton Surakarta dan Yogyakarta, peringatan tahun baru Jawa ini tidak pernah absen. Tapa bisu dengan mengarak pusaka keraton sudah menjadi pemandangan biasa, namun selalu menarik perhatian.
Di Kaliurang, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, pergantian tahun Jawa itu diperingati dengan tapa bisu sambil mengarak benda-benda pusaka milik sesepuh masyarakat setempat. Kirab itu dilakukan laki-laki dan perempuan yang mengenakan pakaian adat Jawa. Mereka berjalan kaki mengelilingi kawasan Kaliurang.
Untuk menciptakan suasana khusyuk, seluruh alat penerangan dipadamkan, kecuali obor yang memang telah disiapkan sebelumnya. Seluruh peserta kirab pun telah mensucikan diri dengan air yang diambil dari tujuh sumber mata air di lereng Gunung Merapi.
Di pantai Parangkusumo, Parangtritis, Yogyakarta, ribuan orang tumpah-ruah setiap malam menjelang 1 Suro. Mereka menaburkan bunga dan membakar kemenyan seraya memanjatkan doa. Lewat juru kunci, mereka memohon limpahan rezeki, enteng jodoh, atau lainnya. Pantai ini dianggap keramat karena dipercaya menjadi tempat pertemuan Raja Mataram dengan Nyi Roro Kidul.
Suseno
|