Oleh: Abdul Munir Mulkhan*
Gempa tektonik disusul gelombang tsunami adalah gejala alam wajar. Tapi kita pun tahu, yang wajar bagi alam bisa menjadi bencana dahsyat bagi manusia. Ribuan manusia tewas, bangunan yang disusun berdasar teori ilmiah dirajut dari pengalaman ratusan tahun hancur berantakan. Dan tertib jagat kehidupan yang mengalami chaos ini diyakini bisa dipulihkan melalui pengurbanan magis. Ketika mekanisme alam tak seluruhnya bisa dijelaskan dengan teori ilmiah, kekacauan tertib jagat selalu kembali terulang, ritual magis akan terus dihidupkan dalam beragam bentuk sesuai dengan pengalaman tiap-tiap kelompok masyarakat.
Semua agama mengenal pengurbanan magis sebagai negosiasi dengan Tuhan dan alam. Hampir semua kegiatan keagamaan, termasuk salat di semua agama, merupakan bentuk ritual magis. Para nabi dan rasul atau penganjur agama-agama besar dunia melakukan pengurbanan bagi pemulihan harmoni hidup duniawi. Yesus anak Maryam, Islam menyebutnya Isa As, diyakini kaum Kristiani mengurbankan diri bagi pemulihan krisis kehidupan manusia.
Nabi Ibrahim mengurbankan anaknya, Ismail. Ketika Ismail ditelentangkan di atas batu, pedang Ibrahim hampir menebas leher sang anak, tubuh Ismail itu diganti Tuhan dengan seekor hewan. Peristiwa ini ditradisikan dalam ritual kurban menyembelih hewan tiap tahun di bulan Haji (Zulhijah). Ritual magis juga dilakukan dalam siklus kehidupan dengan tujuan serupa saat manusia tidak bisa mengontrol seluruh dinamika alam dan kehidupannya sendiri.
Ritual kurban bisa dikenali di berbagai kawasan Nusantara dan dunia sejak zaman purba hingga era telepon seluler. Pengalaman tragis dan unik hubungan dengan alam dari tiap kelompok masyarakat membentuk ritual kurban dan siklus kehidupan beragam. Berbagai ritual dilangsungkan setiap momen dalam siklus kehidupan dari saat tanam padi dan panen, masa paceklik, hingga perkawinan (pertunangan), hamil, lahir, dan kematian.
Di daerah Gamping, sisi barat Kota Yogya, setiap pertengahan bulan Sapar (Shafar) di hari Jumat, diselenggarakan ritual Saparan dengan puncak upacara penyembelihan bekakak (pasangan boneka makanan). Tujuannya ialah membangun kembali harmoni jagat dalam interaksi manusia dengan alam tempatnya hidup dan Tuhan. Ketika bencana alam diyakini sebagai cermin kehendak Tuhan, ritual magis pengurbanan bekakak itu dilangsungkan agar Tuhan atau yang dipercaya sebagai kekuatan supernatural bersedia memulihkan kembali tertib jagat kehidupan.
Penduduk Gamping di masa lalu adalah penambang batu gamping (kapur) dengan menggali bukit membentuk lorong-lorong gua. Sering gua-gua runtuh dan bukit kapur longsor dengan korban jiwa tidak sedikit. Upacara Saparan dilakukan agar tertib jagat dan harmoni bukit kapur yang dikendalikan kekuatan supernatural atau Tuhan itu pulih kembali. Ketika tragedi akibat bencana alam itu terus berulang, ritual magis dilakukan secara periodik.
Masyarakat tradisional memandang bencana alam telah mengacaukan tertib jagat dan tertib kehidupannya. Ritual magis dilakukan agar alam bersahabat dan Tuhan atau kekuatan supernatural yang mbaurekso bumi berkenan dengan hidup dan tindakan manusia. Orang modern memandang bencana alam sebagai daur-ulang alam atau akibat eksploitasi alam secara berlebihan.
Kurangnya pengetahuan tentang daur-ulang alam, gejala alam itu menimbulkan bencana dengan kerusakan hebat dan ribuan korban jiwa. Mekanisme alam selalu menyimpan misteri (gaib) ketika teori ilmiah belum mampu memprediksi secara akurat. Dalam situasi demikian, ritual magis semacam Saparan akan terus hidup dalam beragam bentuk, seperti ruwatan atau bersih desa hingga upacara formal keagamaan: zikir, doa, dan pertobatan.
Karena itu, jika agama-agama formal gagal menjawab fenomena alam dan iptek gagal menjelaskan secara rasional dengan prediksi akurat, besar kemungkinan upacara-upacara sakral seperti Saparan dengan bekakaknya akan terus hidup dengan berbagai inovasi kreatif sesuai dengan pola hidup dan jalan pikiran peradaban modern. Gejala semacam ini bisa dilihat dari berbagai ritual pengorbanan dalam kasus Heaven Gate, Aumshinrikyu, Sekte Kiamat, dan berbagai gerakan keagamaan lainnya.
Penelitian ilmiah dilakukan guna memprediksi gejala alam secara lebih akurat. Berbagai teori disusun sebagai referensi pembangunan kawasan rawan gempa dan peringatan dini. Ritual magis dan ritual ilmiah (etis, meminjam terma Weber) bertujuan serupa, yaitu untuk membangun harmoni kehidupan manusia dengan alam (bumi). Ritual magis dilakukan berdasar mitos yang hidup dalam tradisi lokal atau wahyu untuk bernegosiasi dengan kekuatan supernatural. Ritual etis dilakukan berdasar teori ilmiah agar manusia bisa mengelola gejala alam lebih produktif bagi kepentingan hidupnya.
Sayang, teori ilmiah tetap menyisakan misteri alam dan kehidupan manusia. Akibatnya, gejala alam yang berlangsung natural (lumrah) memungkinkan terjadinya bencana dahsyat seperti gempa tektonik diikuti badai tsunami akhir tahun lalu. Manusia seperti terempas dalam labirin misteri alam dan kehidupan serba rahasia penuh kegaiban yang tak pernah atau belum mereka pahami. Ritual magis menjadi kebutuhan spiritual agar sekurangnya manusia bisa menerima bencana alam yang mereka hadapi untuk terus membangun hubungan dengan alam secara lebih harmonis.
Ketika manusia seperti tanpa pilihan kecuali hidup di bumi, temuan iptek berguna untuk membangun harmoni dengan alam, selanjutnya dengan Tuhan sang Pencipta. Sementara di masa lalu bencana alam menempatkan pawang, dukun, dan ahli agama sebagai pemandu ritual, di zaman modern fungsi itu diperankan ahli geofisika, khususnya ahli gempa. Gempa tektonik berkekuatan 8,9 skala Richter di pantai barat Aceh diiringi gelombang dahsyat tsunami, yang 100 hari kemudian disusul gempa serupa di Nias dan Simeulue yang berkekuatan 8,7 skala Richter, menempatkan ahli geofisika ke pentas nasional.
Sisa-sisa ritual magis zaman purba guna merajut kembali harmoni jagat itu kini bisa disaksikan di semua kawasan negeri ini dan dunia. Sebagian ritual magis itu terus lestari, walaupun fungsinya untuk sebagian besar orang berubah menjadi sekadar tontonan. Ritual magis itulah yang kita kenal dalam upacara Saparan di daerah Gamping, yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Upacara ritual magis pengurbanan, lengkap dengan pedoman bagaimana manusia berhubungan dengan alam dan Tuhan, juga bisa dikaji dari berbagai kitab suci agama.
Ritual magis mencerminkan dilema manusia yang menyimpan inti realitas. Jika malaikat dicipta dari cahaya, setan dari api, tumbuhan dan hewan dari tanah, ketiganya berada dalam tubuh manusia. Roh manusia berasal langsung dari Tuhan sendiri. Dari bahan api, manusia cenderung rakus, culas, dan sembrono. Dari bahan cahaya cenderung saleh, dari rohnya berbakat mencapai tahap kehidupan lebih tinggi dibandingkan dengan malaikat. Hidup luhur itu dalam tradisi sufi dicapai melalui teknik hulul saat hasrat api diabdikan bagi kesalehan kemanusiaan dan alam. Soalnya, bagaimana manusia memahami dirinya dan gejala alam, membangun harmoni dengan alam, sesama dan dengan Tuhan?
* Penulis guru besar IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta