Penolak Bala Pengantin Baru Sebuah prosesi penolak bala sekaligus tradisi Saparan paling khas dan legendaris di tanah Jawa. |
Hari itu mereka mempersiapkan upacara Bekakak. Pagi baru merangkak tatkala hujan masih merintik di Dusun Gamping Kidul. Tanah basah, udara dingin menusuk. Namun suasana dusun di Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Sleman, Yogyakarta, itu telah riuh-rendah. Sejumlah penduduk sibuk luar biasa. Kesibukan berpusat di rumah kepala dusun, Bambang Cahyono, 52 tahun.
Jumat pekan kedua di bulan Maret, di teras ru-mah, ibu-ibu sibuk menata sesajen dalam beberapa wadah yang terbuat dari anyaman bambu dan daun pisang. Sesajen untuk genderuwo berisi beberapa ayam bakar utuh, penganan kecil, buah-buahan. Sesajen untuk Ki Wirosuto dan Nyi Wirosuto lebih istimewa: ada jagung bakar, jadah bakar, emping melinjo, kopi bubuk, enting-enting, rengginang, singkong bakar, roti tawar, karak (kerupuk nasi), jenang ayu, ditambah beberapa bungkus rokok kretek.
”Sesaji itu merupakan makanan kesukaan Ki Wi-rosuto sekeluarga ketika masih hidup,” kata Cahyo-no. Siapa Ki Wirosuto?
Alkisah, sekitar tahun 1757, Ki Wirosuto—seorang abdi dalem penongsong (pembawa payung) kesa-yangan Sultan Hamengku Buwono I—beserta kelu-ar-ganya meninggal secara misterius. Pada suatu Jumat bulan Sapar menjelang purnama, Ki Wiro-suto sekeluarga terkubur reruntuhan gua di Gunung Gamping, tempat mereka tinggal. Tapi jasad mereka tak ditemukan. Masyarakat setempat yakin jiwa mereka masih menghuni gunung itu.
Sultan Hamengku Buwono (HB) I, dikenal juga se-bagai Pangeran Mangkubumi, begitu meradang kehilangan abdi setianya itu. Demi mengenang kepergian Ki Wirosuto, sultan pertama Yogyakarta itu memerintahkan warga menggelar upacara penyem-belihan bekakak setiap bulan Sapar. Penyelengga-ra-annya biasanya pada Jumat antara tanggal 10 dan 20. Sejak itu, warga Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Sleman, Yogyakarta, selalu menggelar acara yang kemudian dikenal upacara Sapar-an Bekakak.
Kenapa di Ambarketawang, yang berjarak sekitar tujuh ki-lo-meter sebelah barat Keraton Yogyakarta sekarang? Ter-nya-ta, dulu HB I memi-lih ka-wasan pegunungan kapur itu sebagai singgasana semen-tara sambil menunggu selesainya pembangunan Ke-r-aton Yogyakarta, yang terletak di Alun-alun Utara. S-ejak Perjanjian Giyanti pada 1755, yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta, HB I menjadikan Ambarketa-wang sebagai pusat pemerintah-an per-tama. Sang Sultan bermukim di ke-ra-ton sementara itu sekitar setahun.
Sejumlah tanda fisik keber-adaan keraton sementara itu ma-sih membekas hingga kini. Bangunan beteng (pagar keliling) tampak membentuk sudut batas keraton bagian selatan. Di dalam tem-bok terdapat bangunan baru, yakni bangsal dan tem-pat bersemadi. Sampai sekarang, menurut cerita masyarakat setempat, kedua bangunan itu masih di--fungsikan sebagai tempat semadi keluarga Keraton Yog-yakarta. Juga kerap dipakai sebagai tempat ma-ca-patan, pembacaan puisi de-ngan cara dilagukan.
Upacara Saparan yang dilaksanakan penduduk Gamping dan sekitarnya mula-mula dimaksudkan untuk memperingati jasa dan kesetiaan Ki Wirosuto sebagai abdi dalem. Tapi, dalam perkembangannya, upacara itu berubah menjadi prosesi memohon keselamatan dari Ki Wirosuto, yang menguasai Gunung Gamping. Menurut Sastro Suharjo, 70 tahun, di masa-masa awal, Saparan selalu digelar para pengusaha batu gamping. Saat itu, tujuannya agar para buruh penambang gamping terhindar dari pe-taka. Biasanya kecelakaan yang merenggut korban itu selalu terjadi pada bulan Suro (bulan pada pe-nanggalan Jawa). ”Anehnya, korban biasanya buruh yang baru menikah alias pengantin baru,” ujar sesepuh Desa Ambarketawang itu.
Waktu terus berlalu. Sejak dekade 1980, penyelenggaraan Saparan itu diambil-alih pemerintah Desa Ambarketawang. Itu karena besarnya biaya yang terasa berat bila harus dipikul hanya dari patungan warga. Tahun ini, menurut Bambang Cah-yono, upacara itu menelan biaya sekitar Rp 13 juta. Dana itu berasal dari hasil patungan masyarakat, anggaran pemerintah desa, Dinas Pariwisata Sleman, dan sejumlah donatur—terutama para peng-usaha pembakaran batu gamping.
| | |
Kini, di samping rumah Cahyono, lima lelaki sibuk membuat bekakak. Boneka pengantin yang terbuat dari campuran adonan tepung beras dan ketan itu diisi cairan gula merah (juruh) di dalam bambu kecil penyangga tubuhnya. Cairan itulah yang akan mengucur sebagai darah saat boneka disembelih.
Mereka membuat dua pasang boneka itu dengan tinggi masing-masing sekitar 40 sentimeter. Bu-nga-bunga kecil menghiasi kepala, satu lembar sapu tangan merah dan kain biru tersampir di atas bahu (disebut bangun tulak). Pasangan boneka pengantin itu ditempatkan dalam joli (tandu). Seluruh perangkat prosesi Saparan itu ke-mudian dibawa ke Balai Desa Ambarketawang.
Hujan telah mereda sejak siang. Langit kembali cerah. Tepat pukul tiga sore, upacara Saparan mulai dig-elar. Rombongan arak-arakan be-ka-kak dilepas oleh Kepala Desa Ambarketawang. Rombongan itu bergerak menuju altar penyembelihan di Gu-nung Gamping, berjarak se-kitar dua kilometer dari balai desa. Barisan terdepan empat pemuda menunggang kuda, sekaligus pembuka ja-lur. Di belakangnya, sekelompok pe-muda Desa Ambarketawang yang mengenakan kostum prajurit keraton, lengkap de-ngan genderang, suling, dan senjata tombak.
Di belakang prajurit, ada tiga perempuan yang membawa boneka landak, merpati, dan gemak (burung puyuh), ketiganya berwarna kuning emas. Landak, merpati, dan burung puyuh adalah binatang peliharaan kesayangan Ki Wirosuto. Barisan berikutnya adalah dua tandu yang berisi dua pasang bekakak, disusul gunungan sayur, tumpeng, dan buah-buah yang diusung para pemuda setempat. Kemudian di-ikuti rombongan anak-anak berkostum makhluk aneh yang mengawal patung genderuwo.
Di sepanjang jalan yang dilalui, ribuan penonton menyemut. Rupanya mereka bukan hanya warga Ambarketawang, tapi juga dari Kulonprogo, Ba-ntul, dan Kota Yogyakarta. Sebagian besar membawa motor, namun ada juga beberapa rombongan yang datang dengan mencarter kendaraan bak terbuka. Mereka datang dari berbagai usia, mulai anak-anak hingga orang tua—bahkan banyak di an-ta-ranya yang telah renta.
Sekitar satu jam berselang, arak-arakan itu tiba di altar penyembelihan, berupa panggung kecil. Tan-du berisi sepasang bekakak itu harus terseok-seok menerobos kerumunan massa yang memadati depan panggung kecil itu. Satu per satu bekakak dikeluarkan dari tandu, dibopong dua lelaki berpakaian adat Jawa. Bambang Cahyono, yang bertugas sebagai ”algojo”, tampak bersiap-siap dengan pisau tajam di tangannya. Sesaat kemudian, ia mulai menyembelih. Kepala boneka itu pun terlepas, diikuti dengan semburan juruh. Para penonton yang menyemut di sekitar ”altar” itu langsung bersorak. Riuh-rendah.
Bekakak yang telah disembelih itu dibagi menjadi potongan kecil dan kemudian dilemparkan ke arah massa. Mereka yang berhasil menangkap potongan-potongan tubuh bekakak ada yang segera memakannya, ada juga yang membawanya pulang. Misalnya, dua orang nenek yang berhasil menangkap potongan bekakak. Mereka berdua membungkusnya dengan selendang dan membawanya pulang. Raut wajahnya yang keriput tampak sumringah.
Nurdin Kalim, Heru C. Nugroho (Yogyakarta)
|