Festival Keselamatan di Bulan Kedua Bulan Sapar baru saja lewat. Inilah sebuah bulan istimewa dalam penanggalan Jawa karena di mana-mana diadakan berbagai festival lokal untuk mengucap syukur kepada sang Pencipta. Dari berbagai dusun di Yogya, Klaten, sampai lereng-lereng gunung di Jawa Tengah terdapat pelbagai perayaan unik, sesuai dengan legenda daerah masing-masing, yang bahkan lebih ramai dibandingkan dengan Idul Fitri…. Ada Bekakak, Tayuban, Yo Qowiyu, Kirab Pusaka, Merti Dusun, dan Walibuka.
Layar kali ini mengurai tradisi Saparan di berbagai daerah di Yogya dan Jawa Tengah. Mengungkap hubungan bulan ini dengan bulan Suro, yang bagi tradisi Jawa dianggap bulan wingit…. |
Samini dan Suparti masih megal-megol. Samberan sampur penari asal Banjarnegara, Jawa Tengah, ini membuat Pak Tua semakin berani. Dan Pak Tua dengan segenap kepala tertutupi uban itu hanyut dalam tetabuhan gamelan, senggakan para wiyogo, dan tentu saja Samini dan Suparti. Ia melupakan rematik. Kini gerakannya lincah, menggoda. Namun, Samini dan Suparti, masing-masing 38 tahun dan 30 tahun, hanya tersenyum, mengelak dan menjauh.
Pendopo rumah Kepala Dusun Krandegan, Sumarsono, hanya diterangi petromaks. Maklum, selepas magrib, listrik mati. Di atas panggung, di ruang tengah, ada Pak Tua, Samini, dan Suparti berjoget. Penonton bisa melihat betapa lelaki itu membisikkan sesuatu. Ajakan bercinta?
Itulah tayub Sawanggati, tayub yang digelar di ketinggian lereng Gunung Sumbing. Suatu Rabu malam, pertengahan Maret, warga Dusun Krandegan, Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, Magelang, Jawa Tengah, menyelenggarakan tayub yang merupakan bagian dari ritual Saparan. Dulu, desa itu hanya dihuni tujuh keluarga. Dipodrono, nenek moyang mereka, bernazar: bila penduduk mencapai 40 keluarga, akan menanggap tayub. Cerita itu dibenarkan Sumarsono, Kepala Dusun Krandegan. ”Nanggap tayub ini sebenarnya nazar pendiri desa dan ulang tahun desa,” katanya.
Para artis tayub Sawanggati meliputi dua ledhek, penabuh gamelan, dan wiyogo yang bertugas menghadirkan suasana dinamis dengan sahutan-sahutannya. Tapi, inilah tayub yang telah menanggalkan selubung erotisisme dan memperlihatkan wujud aslinya yang spiritual. ”Selesai pentas, saya sering ditawar. Tapi saya nggak mau. Ini profesi yang bisa menjadi tontonan, tapi juga tuntunan,” kata Samini, ibu empat anak yang sudah 20 tahun menjadi penari tayub itu.
Samini dan Suparti tak pernah melanggar batas, dan masyarakat dusun yang merayakan bergantinya bulan Suro dengan Sapar juga tunduk pada tradisi lama. Tradisi suci menanggap tayub di bulan Sapar sebagai puji syukur atas keselamatan warga. Dan ledhek tak lagi sosok penggoda; mereka membawakan sesuatu yang sakral. Bahkan, mereka percaya bedak para ledhek merupakan penolak bala.
Jarum jam menunjuk angka sembilan. Udara gunung yang berkabut menggigit kulit. Samini dan Suparti, yang sejak lewat asar menari, tak tampak lelah. Satu tembang habis, kedua ledhek itu turun dari panggung. Mereka berjalan ke ruang tengah, timpuh bersama tokoh desa yang duduk lesehan. Seorang lelaki setengah baya beringsut, mendekati Samini. ”Istri saya sedang hamil tua. Mudahm-udahan anak saya nanti lahir sehat. Ibunya juga selamat,” kata si lelaki sembari menyodorkan amplop putih ke genggaman tangan Samini.
Dunia memang telah berubah. Tapi, sebagaimana dikatakan sesepuh Desa Krandegan, Diharjo, 70 tahun: ”Kami tidak berani meninggalkan tradisi itu. Meski panen gagal, nanggap tayub harus tetap dilaksanakan.”
Dulu, desa itu dikenal sebagai desa yang makmur, mengandalkan hasil bumi klembak dan bawang putih. Jalan menuju ujung desa setinggi 1.600 meter dari permukaan laut itu pun diaspal mulus. Tak mengherankan bila pada 1995 daerah ini ditunjuk sebagai tuan rumah Festival Kesenian Pedesaan Seluruh Indonesia, festival yang dihadiri sejumlah menteri.
Kini, desa yang dihuni 1.336 jiwa itu tak semakmur namanya. Hasil pertanian tak lagi mampu menopang kebutuhan hidup. Jalan rusak berat. Bila hujan tiba, di sana-sini muncul kubangan air, menjebak kendaraan yang lewat. Tapi Saparan tidak bisa ditawar. Dan dua ledhek serta para artis pendukungnya menawarkan banyak, menjawab segenap persoalan warga dusun, persoalan manusia umumnya: dari hasil pertanian hingga perselingkuhan orang-orang yang dikasihi.
| | |
Tangan-tangan itu diangkat ke atas, seperti penari kecak. Bagai hujan piring terbang, ribuan kue bulat pipih seukuran telapak tangan mendarat di antara tangan-tangan itu. Enam ton apem dalam sekejap ludes. Itulah kue apem Yo Qowiyu.
Tradisi Saparan Yo Qowiyu dilaksanakan warga Klaten, Jawa Tengah, setiap tahunnya. Tahun ini jatuh pada Jumat, akhir Maret lalu. Yo Qowiyu atau Ongkowiyu (menurut lafal Jawa) dilaksanakan setiap Jumat bulan purnama Sapar. Dipusatkan di Oro-oro Tarwiyah, dekat Sendang Klampeyan, Desa Jatinom.
Sehari sebelum puncak acara, setiap keluarga di empat desa—Jatinom, Krajan, Tangkil, dan Bonyokan—membuat kue apem. Malam harinya, para sesepuh berkumpul untuk tirakatan. Kue apem yang telah selesai dibuat warga diserahkan kepada Projo Setyo Suprapto, abdi dalem Keraton Surakarta yang bertugas mengumpulkan apem. Keluarga yang pernah mantu menyerahkan 19 potong apem. Yang belum pernah mantu cukup 14 potong. Setelah diberi doa, tiga potong apem dikembalikan kepada pemiliknya.
Tradisi ini bermula saat Kiai Ageng Gribig pulang dari ibadah haji. Dia ingin membagikan oleh-oleh kue. Tapi hanya ada tiga potong. Nyai Ageng Gribig tak kurang akal. Dia memasak kue sejenis, dibantu para tetangga. Saat memberikan kepada warga, Kiai Ageng Gribig berseru: ”Ya qowiyu! (Ya Allah, berilah kekuatan!).”
Usai salat Jumat, apem yang disusun menyerupai dua gunungan, Kyai dan Nyai Kopek namanya, diarak dari Masjid Agung Jatinom ke Oro-Oro Tarwiyah. Arak-arakan itu dipimpin Suharto, panitia yang berperan sebagai Ki Ageng Gribig.
Pengunjung Yo Qowiyu memang tidak hanya dari Klaten. Harjo, 54 tahun, asal Temanggung, wajahnya berseri. Dia tersenyum puas, delapan apem di genggaman tangannya. ”Apem ini penolak bala dan bisa mendatangkan rezeki. Anak saya tiga. Sisanya akan saya tanam di sawah,” kata dia.
Dari tahun ke tahun, makna tradisi ini berubah. Sementara dulu sebagai wujud amal masyarakat, kini komersial. Sekeliling masjid menjadi pasar tiban. Rumah warga dijadikan tempat parkir. Pedagang apem di mana-mana. Bagi yang tidak membuat, bisa membeli.
| | |
Azan isya belum lama berlalu. Pusaka kutang Ontrokusumo, Bandhil, Koloran (tali), Al-Quran yang ditulis Ki Ageng Wonolelo, dan ”sempalan” mustoko masjid diarak dari halaman masjid ke makam Ki Ageng Wonolelo. Di belakangnya, gunungan apem ditandu, diusung mengiringi arak-arakan pusaka. Upacara Saparan di Dusun Pondokwonolelo, Kelurahan Widodomartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman, DIY, dilakukan Kamis akhir Maret lalu.
Seperti halnya dalam Yo Qowiyu, setelah didoakan, apem itu diperebutkan ribuan orang. Sebagian warga percaya apem yang diperebutkan di makam Ki Ageng Wonolelo itu memiliki tuah. Yang makan bisa awet muda, atau sembuh dari penyakit. Di kalangan petani, apem itu diyakini bisa mengusir hama tanaman di sawah.
Sehari sebelum kirab, masyarakat membuat apem raksasa. Ini pertama kali mereka lakukan, membuat apem superjumbo, berdiameter dua meter. Apem dibuat di halaman sebuah masjid, di Dusun Pondokwonolelo.
Tampak enam pasang suami-istri sibuk. Memarut kelapa, mengocok telur, mengaduk adonan. Adonan 45 kilogram tepung beras, 25 kilogram gula pasir, 85 biji kelapa, 15 kilogram telur ayam dipanggang di wajan raksasa. Biayanya Rp 600 ribu. Apem dilelang. Camat Kalasan, H. Julianto, membelinya Rp 1,2 juta. Dia hanya mengambil seiris. Sisanya menjadi rebutan masyarakat.
Kemeriahan Saparan ini berlangsung sepasar (lima hari). Berbagai kesenian digelar, mulai dari jatilan hingga musik dangdut dan campursari. Tak ketinggalan para penjual makanan menangguk untung, menggelar dagangannya, berjajar menyesaki tepi jalan.
Sebuah upacara tradisi memang sulit dimengerti nalar. Masyarakat dusun itu yakin, Saparan Wonolelo dilakukan untuk mengenang pepundennya, Ki Ageng Wonolelo. Seorang pendiri desa, keturunan Raja Brawijaya V, bernama Pangeran Blancak Ngelo.
Suatu hari, Brawijaya V minta agar Pangeran Blancak Ngelo berkelana ke Majapahit, ditemani Syekh Maulana Maghribi. Sampai di Kerajaan Mataram, mereka berhenti dan tinggal di Kotagede. Pangeran Blancak Ngelo mendapat gelar Ki Ageng Karangelo.
Beberapa waktu kemudian, Ki Ageng Karangelo diminta menjaga Gunung Merapi agar laharnya tidak mengalir ke selatan. Dia pindah ke dusun Turgo, di kaki Merapi. Hingga kini, masyarakat yakin makam yang ada di puncak Gunung Turgo adalah makam Ki Ageng Karangelo atau Kyai Ageng Turgo atau Syekh Jumadil Kubro. Sementara Syekh Maulana Maghribi, yang tetap tinggal di Yogya Selatan, dimakamkan di puncak bukit Parangtritis.
Syekh Jumadil Kubro memiliki empat anak. Satu di antaranya Syekh Kaki, yang memiliki anak bernama Jumadigeno. Jumadigeno inilah yang kemudian mendapat gelar Ki Ageng Wonolelo, yang bermukim di Dusun Wonolelo. Dia pula yang membuka kawasan pedesaan, membabat hutan dengan pusakanya, tongkat dan bandil.
| | |
Sore-sore neng nglatar, akeh kancane
Rame-rame merti desa sak wargane
Kanca ayo kanca, kanca mubeng desa
Ponggol lan Wonorejo, kirab bareng merti desa
Aja lali jagung, pari, tela, uwi
Tumpeng robyong lalapane warni-warni
Gusti kang maringi
Ayo dha memuji matur nuwun mring Hyang Widi.
Tembang Sore-sore dinyanyikan dalam sebuah arak-arakan mengelilingi dua dusun, Wonorejo dan Ponggol. Matahari belum lama bergerak ke barat. Empat warga berdandan wayang Punokawan, berjalan di barisan terdepan. Diikuti sesepuh dusun serta tiga lelaki pembawa wayang, Petruk, Semar, dan Gunungan. Sejumlah lelaki memikul tumpeng robyong. Sebuah gunungan bibit padi diusung, juga aneka hasil bumi mulai dari sayuran hingga umbi-umbian.
Prosesi Saparan di Dusun Wonorejo dan Ponggol, Kelurahan Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, dimaknai sebagai merti desa. Namun sejak 1970 tradisi itu ditinggalkan. Tapi, Senin akhir Maret lalu, mereka kembali melakukannya. ”Dulu, Merti Dusun di sini ditandai dengan kenduri, pentas wayang kulit, atau ketoprak. Baru kali ini acara Merti Dusun memakai kirab,” kata Hadi Sutrisno, 70 tahun, sesepuh desa itu.
Tetabuhan mengiringi perjalanan mereka. Lagu-lagu Jawa ditembangkan. Lir-ilir lir-ilir, tandure wis sumilir, tak ijo royo-royo..., sebuah tembang kedamaian, kemakmuran, permohonan kemurahan rezeki kepada Tuhan. Suasana tenteram, damai, menjadi dambaan mereka.
Di depan patung Mbok Turah di Padepokan Karang Klethak, mereka berhenti. Tumpeng dan hasil bumi itu diletakkan. Mereka memanjatkan doa. Mbok Turah adalah legenda lereng Merapi yang mencitrakan sosok ibu sederhana yang gemar berderma. Meski hidupnya kekurangan, Mbok Turah merasa selalu berlebih bila ada sesamanya yang membutuhkan.
Keputusan mengadakan kembali Saparan berasal dari sejumlah tokoh dusun setempat. Hati mereka tergugah, ingin melakukan sesuatu, karena kehidupan mereka sebagai petani semakin berat. Gagal panen menjadi hal biasa. Kalaupun panen, hasilnya juga tidak cukup untuk menopang hidup. ”Kami sadar, kami tidak pernah mengucapkan terima kasih kepada Tuhan. Melalui acara ini, kami berharap ada perubahan. Kami juga berdoa semoga Tuhan memberi rezeki yang semakin banyak kepada warga di sini,” tutur Hadi Sutrisno.
Budayawan Sindhunata, yang hadir dalam acara itu, mengatakan upacara seperti itu merupakan ekspresi kerinduan masyarakat untuk kembali ke alam. Masyarakat hidup bersama alam dan diberi kehidupan oleh alam. Sewajarnya bila mereka berterima kasih kepada alam. ”Ini wujud kerinduan mereka kepada alam. Tembang-tembang itu intinya memohon keselamatan sekaligus limpahan rezeki kepada sang Penguasa Alam,” kata Sindhunata.
| | |
Tradisi Saparan dilakukan oleh masyarakat Mataram sejak masyarakat Mataram mengikuti penanggalan Jawa. Sebelum 1633 Masehi, masyarakat Jawa menggunakan kalender berdasar pergerakan matahari. Namun Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram, mengubah sistem penanggalan itu dari matahari ke bulan. Dengan demikian, seluruh Jawa dan Madura, kecuali Banten, mengikuti penanggalan itu.
Bulan Suro sebagai awal tahun Jawa juga disebut bulan yang sakral, karena dianggap bulan yang suci. Di bulan ini banyak orang melakukan perenungan, bertafakur, berintrospeksi, mendekatkan diri kepada sang Khalik. Bulan Suro atau Muharam ini juga diyakini masyarakat Jawa sebagai bulan gawat atau keramat. Tak aneh bila pada bulan Suro banyak ritual dilakukan, termasuk jamasan pusaka keraton (lihat boks tulisan tentang bulan Suro).
Di bulan kedua, Sapar atau Syafar, masyarakat bergembira, mengucap syukur. Tak mengherankan bila Saparan Yo Qowiyu di Klaten lebih meriah dibandingkan dengan Idul Fitri. Sudirman, penduduk Jatinom, mengatakan kebanyakan penduduk yang mboro (merantau) mudik. ”Mereka tidak berani meninggalkan tradisi ini,” katanya.
Wujud ucapan syukur itu macam-macam, sesuai dengan legenda tiap-tiap daerah. Di Gunung Gamping, Yogyakarta, misalnya, dengan menyembelih boneka pengantin bekakak (lihat tulisan tentang bekakak). Di Wonokromo, Plered, Bantul, ada upacara Rebo Pungkasan dengan kirab lemper raksasa. Semua mempunyai makna sama. Memperoleh rida Tuhan, mencapai kehidupan yang gemah ripah loh jinawi.
L.N. Idayanie, Heru C.N. (Yogyakarta), Imron Rosyid (Klaten)
|