Awas, Ancaman Marburg! Ratusan nyawa penduduk Angola melayang akibat virus pembunuh yang dibawa monyet hijau. Belum ada vaksin penawarnya. |
Doa perdamaian baru saja dipanjatkan Pastor Eduardo Mbuta, pemimpin Gereja Apostolik, di hadapan 3.000 orang yang memadati stadion nasional di Luanda, ibu kota Angola. Senin pekan lalu. Doa ini untuk menutup buku konflik berdarah selama 27 tahun antara pemerintah dan gerilyawan Persatuan Nasional untuk Kemerdekaan Angola. Tapi dua hari kemudian panik melanda 3,8 juta penduduk Luanda. Radio pemerintah setiap 10 menit menyiarkan peringatan kepada penduduk: "Awas, marburg. Jangan sentuh mayat. Segera lapor petugas kesehatan jika ada yang meninggal karena perdarahan".
Maka penduduk pun menyerbu toko untuk memborong cairan pemutih yang digunakan sebagai obat pembasmi kuman. Orang tua melarang anaknya sekolah. "Setiap orang takut terhadap virus. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi," ujar Antonio, seorang pekerja bengkel mobil. Bahkan kini tak seorang pun mau bersalaman di Luanda karena takut tertular. Di Afrika Selatan, petugas bandara terpaksa memeriksa secara ketat setiap penumpang pesawat dari Angola.
Virus marburglah biang keladinya. Menurut Menteri Kesehatan Angola Sebastiao Veloso, kasus marburg meningkat dari 126 menjadi 175, dan 155 di antaranya tewas. Korban termasuk seorang dokter Italia yang tertular penduduk. Semuanya terjadi di Provinsi Uibe, 290 kilometer sebelah timur laut Luanda, dekat perbatasan Kongo. Tapi rupanya virus sudah menembus Luanda, yang mengakibatkan empat orang tewas.
Wabah marburg sebenarnya sudah mulai muncul pada akhir Oktober silam di Uige. "Harus kami akui, kami terlambat," ujar Jacques Mambela-Mbela, Direktur Klinik Boa Vida di Luanda. Kasus yang sama juga sudah diidentifikasi di empat provinsi, Luanda, Cabinda, Malange, dan Kuanza Norte. Kini sejumlah kawasan berisiko tinggi di Uige diisolasi dengan rentangan pita merah dan kuning.
Wakil Menteri Kesehatan Angola, Jose van-Dunem, meminta bantuan dunia internasional. "Angola butuh dukungan dari dunia internasional untuk logistik, tenaga medis, dan transportasi," ujar Van-Dunem. Maklum, saat ini hanya ada beberapa laboratorium untuk memonitor perkembangan virus marburg di Uige. Maka Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengirim 20 ahli medis ke Angola. Uni Eropa akan memberikan bantuan US$ 650 ribu.
Penyakit marburg mengakibatkan demam disertai perdarahan yang menular. Penyebabnya filoviruses, masih satu keluarga dengan virus ebola yang melanda Kongo pada 2003. Meski tak seganas ebola, virus marburg menyebar dan membunuh secara cepat. Penularan terjadi lewat kontak dengan cairan tubuh, semisal darah, air kencing, kotoran badan, muntahan, dan ludah. Selama 5 hingga 10 hari masa inkubasi, tak ada gejala yang muncul. Kemudian pasien mengidap semacam flu disertai demam, panas dingin, sakit kepala, dan nyeri otot, yang biasanya disertai mual, muntah, serta diare.
Satu dari empat orang yang tertular virus ini umumnya meninggal akibat gagal hati. Kebanyakan kematian terjadi setelah 3 hingga 7 hari terinfeksi. Celakanya, hingga kini belum ada vaksin penangkalnya, dan petugas medis sulit mendeteksi karena gejalanya mirip dengan infeksi lain semacam demam malaria atau tifus. Pasien sejatinya bisa disembuhkan tapi butuh waktu lama, dan beberapa dari mereka menderita penyakit hepatitis, radang sumsum tulang belakang, dan masalah penglihatan. Sekitar 80 persen kasus terdapat pada anak di bawah lima tahun, tapi sejak Oktober tahun silam mulai menyerang orang dewasa.
Virus marburg pertama kali mewabah di laboratorium di Kota Marburg dan Frankfurt (Jerman) serta di Beograd (Yugoslavia, sekarang Serbia) pada 1967. Kala itu 37 orang terjangkit, termasuk pekerja laboratorium, petugas medis, dan anggota keluarganya.
Orang pertama yang mengidap penyakit ini terjangkit virus karena bersentuhan dengan cairan atau kultur sel monyet hijau terinfeksi yang diimpor dari Uganda. Di Marburg monyet hijau digunakan untuk penelitian dan pembuatan vaksin polio.
Pada 1998, virus marburg mencabut 123 nyawa di Durba, Kongo. Maka, kini Pastor Eduardo Mbuta pun berdoa di hadapan umatnya: "Tuhan, hentikan wabah ini."
Raihul Fadjri (AFP, The Guardian, BBC)
|