Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 07/XXXIV/11 - 17 April 2005
   
Luar Negeri

Semua Uskup Menjadikan Dia Acuan

KETIKA berkunjung ke Indonesia pada 1989, Paus Yohanes Paulus II melontarkan niatnya mempelajari ekonomi Pancasila. Keinginan itu disampaikan kepada Uskup Agung Jakarta, Kardinal Julius Darmaatmadja. "Dia bilang ingin mencari alternatif untuk ekonomi sosialis dan kapitalis yang memiskinkan manusia," kata Julius. Kenangan itu melekat hingga kini bagi mantan Uskup Agung Semarang itu.

Julius Darmaatmadja dilantik Yohanes Paulus II sebagai Kardinal Indonesia pada 29 November 1994. Senin pekan lalu, sebelum berangkat ke Vatikan mengikuti upacara pemakaman sekaligus konklav, Julius Darmaatmadja, 70 tahun, menerima wartawan Tempo Philipus Parera di ruang tamu kediaman Uskup Jakarta.

Bagaimana Paus Yohanes Paulus II menyapa Anda?

Beliau sulit menyebut nama saya, Darmaatmadja. Dia memanggil saya Julius Jakarta. Mungkin karena lebih mudah diingat.


Apa yang paling berkesan dalam diri Yohanes Paulus II?

Dia menghayati betul surat Santo Yohanes yang menyebutkan bahwa cinta terhadap sesama hendaknya menjadi bukti cinta kepada Tuhan. Bagaimana kamu bisa mencintai Tuhan yang tidak kelihatan, jika mencintai saudaramu yang kelihatan saja kamu tidak bisa? Dan ini ia tunjukkan secara konkret dalam perhatiannya yang mendalam terhadap segala bentuk kekerasan, perang, penindasan. Dia juga sangat peduli pada kemiskinan.


Mengapa dia melarang teologi pembebasan?

Bukan melarang. Dia mengoreksi teologi pembebasan. Yang dikoreksi adalah analisis Marxis yang dipakai oleh banyak pemikir teologi pembebasan. Dia tidak setuju mengkelas-kelaskan orang. Itu menimbulkan pertentangan, bahkan menumbuhkan kekerasan.


Menurut Anda, sosok paus seperti apa yang dibutuhkan umat Katolik saat ini?

Secara pribadi saya menginginkan paus yang seperti Yohanes Paulus II. Dan karena paus ini sangat komplet, saya kira semua uskup akan setuju menjadikan dia sebagai acuan. Dia berpikiran luas dan memperhatikan semua.


Ada pendapat yang menyebut Yohanes Paulus II terlalu konservatif?

Saya kok tidak setuju memberikan cap konservatif dalam artian jelek. Apakah jelek, sebagai pimpinan Gereja, dia mempertahankan hal-hal pokok? Menurut saya, itu harus. Dan setiap orang beriman akan hidup dengan imannya yang pokok, dan tidak boleh digantikan dengan apa pun. Itu bukan konservatif. Itu setia.


Nama Ivan Dias disebut sebagai calon kuat dari Asia?

Ivan Dias? Ya, dia orang baik. Pernah jadi sekretaris kedutaan Vatikan di Jakarta. Dia kenal baik Indonesia, bahkan bisa menyanyi dalam bahasa Indonesia. Tapi pada prinsipnya kardinal mencari paus lewat data biografi. Dan itu baru akan kami lakukan setelah berkumpul di Kapela Sistine nanti.


Apakah sebelum pemilihan tidak ada diskusi atau lobi?

Wah, itu dihindari, termasuk komunikasi dengan dunia luar pada saat konklav. Maksudnya agar setiap kardinal jernih pada saat memilih. Dan supaya lebih jernih, sebelum memilih, para kardinal berdoa di hadapan Tuhan.


Bagaimana kalau tidak ada figur yang seperti Yohanes Paulus II?

Cari yang kepribadiannya paling dekat dengan dia. Orang jadi tokoh di dalam konteksnya. Kalau konteksnya terbatas, dia pun terbatas. Maka, asal sifat-sifat dasarnya ada, setiap orang bisa berkembang. Karena itu, saya minta umat Katolik di Indonesia turut berdoa agar roh Allah sudi membimbing peserta konklav untuk sampai pada kehendak Allah.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
27/XXXVII/25 - 31 Agustus 2008

 

Berita lainnya

Roger Federer, Davydenko dan Gonzalez Melenggang - 30 Ags 2008 | 08:14 WIB
DPRD DKI Dikritik - 30 Ags 2008 | 07:20 WIB
Jakarta Bakal Diguyur Hujan - 30 Ags 2008 | 05:59 WIB
Ford Naik Lima Peringkat di CSI - 30 Ags 2008 | 01:31 WIB
Tiga Perempuan Peneliti Raih Fellowship For Women in Science 2008 - 30 Ags 2008 | 00:16 WIB
Indonesia “Juara” - 30 Ags 2008 | 00:04 WIB
Presiden Dukung Komisi Amandemen UUD 1945 - 29 Ags 2008 | 23:22 WIB
Direktur Kedaulatan Rakyat Meninggal - 29 Ags 2008 | 22:47 WIB
51 Industri Besar Kurangi Konsumsi Listrik - 29 Ags 2008 | 21:13 WIB
Direc Vision Tidak Bersalah Soal Monopoli Liga Inggris - 29 Ags 2008 | 21:10 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data