Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 07/XXXIV/11 - 17 April 2005
   
Luar Negeri

Nurani Seorang Wojtyla

Surat wasiat Paus Yohanes Paulus II dibuka. Soal tempat pemakaman sudah dipikirkannya sejak 23 tahun silam.

Oktober 2003, Paus Yohanes Paulus II memulai teka-teki ini. Hari itu ia merayakan 25 tahun memimpin Gereja Katolik Roma. Dalam kata sambutan ia bikin kejutan. Ia menominasikan 31 kardinal yang kelak dianggap layak menggantikannya. Dari jumlah itu, Paus punya satu calon favorit, tapi ia tak membuka nama. Kardinal favorit itu disimpan rapat di dalam hati, sampai kemudian ia melepas napas terakhir, Minggu dua pekan lalu.

Ketika beredar kabar bahwa Paus meninggalkan surat wasiat, orang ramai berspekulasi bahwa nama sang kardinal misterius itu segera tersingkap. Joaquin Navarro, juru bicara Vatikan, mengatakan bahwa mungkin saja Paus sudah menulis identitas kardinal itu dalam surat wasiat tadi. "Tapi tidak seorang pun tahu soal itu. Sebelum kematian Paus, nama itu tidak diungkap," katanya.

Umat Katolik Roma memang amat menunggu surat itu dipublikasikan, sebab inilah kali pertama seorang paus akan menyebut nama penggantinya. Dan Kamis pekan lalu surat wasiat itu pun dibuka. Ups! Ternyata Paus sama sekali tak menyebut nama salah satu kardinal pun. Hierarki Gereja Katolik bernapas lega. Paus tampaknya tak mau merecoki kewenangan Dewan Kardinal yang memang bertugas memilih pemimpin baru.

Surat setebal 15 halaman itu disusun selama 26 tahun, hampir sepanjang masa kepemimpinannya. Ditulis dalam bahasa Polandia, negeri asal Paus, surat itu diterjemahkan ke dalam bahasa Italia oleh petinggi Vatikan. Surat itu berisi aneka macam persoalan. Dari perkembangan dunia, orang-orang dekatnya, juga tempat jasadnya nanti dimakamkan apabila ia wafat.

Entah kenapa soal tempat pemakaman itu sudah dipikirkannya sejak 23 tahun silam. Tanggal 5 Maret 1982, Carol Wojtyla—nama asli Paus Yohanes Paulus II—menulis agar dia dimakamkan di Polandia. Ia meminta para kardinal sedunia mengabulkan permohonan rakyat Polandia untuk memakamkan jasadnya di negeri leluhur.

Tapi soal tempat pemakaman Paus seperti berada di persimpangan jalan: antara kecintaannya pada umat Polandia dan penghormatannya pada hierarki dewan gereja. Seperti hendak mengoreksi catatan 1982 itu, pada 1984 dalam wasiatnya ia menulis bahwa ia menyerahkan keputusan soal tempat pemakaman kepada Dewan Kardinal tanpa harus terikat pada permintaan rakyat Polandia. Lagi-lagi, Dewan Kardinal merasa lega sebab mereka bisa memutuskan tempat pemakaman tanpa harus merasa melawan wasiatnya.

Lahir dan besar di negeri komunis, Paus tak asing dengan paham komunis juga pemimpin-pemimpinnya. Tahun 1980-an adalah era ketika Paus rajin mengundang sejumlah petinggi komunis ke istana Vatikan. Gorbachev yang datang ke situ pada November 1989 terpesona dengan keramahan Paus. Dua pemimpin itu berbicara dari hati ke hati soal perdamaian dunia, juga bahaya perang nuklir.

Sesudah bertemu Gorbachev, Paus amat yakin soal perdamaian dunia. Pada 1989, dalam surat wasiatnya ia menulis, "Bahaya perang nuklir telah lewat dan kita songsong perdamaian."

Entah kenapa tahun 2000 perasaan Paus Yohanes Paulus II seperti kembali merasa begitu dekat dengan kematian. Tahun itu ia menulis," Pikiran saya menerawang ke masa kecil. Keluarga dan teman-teman masa kanak-kanak." Ia meminta dimakamkan langsung di dalam tanah dengan pusara berlapis marmer.

Menjelang ajal pekan lalu, ribuan umat menunggu di halaman Gereja Santo Petrus, Vatikan. Kawan-kawan dekat menunggu di samping ranjangnya. Menurut Uskup Agung Stanislaw Dziwisz, orang kepercayaan sang pemimpin Gereja Katolik Roma itu, sebelum wafatnya Paus menatap ribuan umat itu lewat jendela yang tirainya terbuka. Ia mengatakan amin, lalu menghela napas terakhir.

Paus tidak melupakan jasa orang-orang dekatnya. Dalam surat wasiat itu ia amat berterima kasih kepada Stanislaw Dziwisz, yang mendampinginya selama satu dasawarsa. Paus menulis, "Saya amat berterima kasih atas segala pengabdiannya."

Wenseslaus Manggut (Vatikanonline.com/AFP)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Soekarwo Dekati PGRI - 07 Sep 2008 | 18:42 WIB
Tarif PDAM Bojonegoro Naik 50 Persen - 07 Sep 2008 | 18:38 WIB
PT Sarana Tanggapi Surat Petani Super Toy HL-2 - 07 Sep 2008 | 18:34 WIB
Hanya Enam Parpol di Malang yang Penuhi Kuota Perempuan - 07 Sep 2008 | 18:33 WIB
Tiket Kereta Bojonegoro-Jakarta Ludes Terjual - 07 Sep 2008 | 18:25 WIB
Begini Rasanya Menjadi Pegawai Pertama Google - 07 Sep 2008 | 18:18 WIB
Pusat Perbelanjaan di Semarang Mulai Ramai - 07 Sep 2008 | 18:10 WIB
Soekarwo Dekati Persatuan Guru Republik Indonesia - 07 Sep 2008 | 18:02 WIB
Presiden Buka Puasa di Kediaman Ketua DPD - 07 Sep 2008 | 17:51 WIB
Indonesia Diminta Garap Energi Iran - 07 Sep 2008 | 17:29 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data