Requiem bagi Santo Padre Paus Yohanes Paulus II memimpin Gereja Katolik selama 26 tahun. Paus paling sohor sepanjang sejarah ini memeteraikan hidupnya dengan satu landasan kukuh: penyerahan diri secara total kepada iman dan kemanusiaan. Tempo melaporkan dari Kota Vatikan. |
BAHKAN kematian tak meredupkan daya pikat Karol Wojtyla.
Dua juta lebih pelayat. Dua ratus lebih pemimpin negara, pemerintahan, agama. Empat ribu media massa. Tiba-tiba Kota Vatikan sesak sesaat setelah kematian Karol Wojtylanama asli Paus Yohanes Paulus II.
Mengalir dari lima benua, mereka datang untuk mendaraskan doa, menghaturkan hormat. Dan menyaksikan suatu finaledari 84 tahun masa hidup Pausyang akan dikenang dalam waktu lama; betapa dunia menjurakan penghormatan yang bergemuruh ke hadapan jenazahnya, paradoks sempurna terhadap jalan kesahajaan Karol Wojtyla.
Dia dibaringkan dalam peti sederhana berwarna cokelat mahagoni. Polos tanpa hiasan apa pun. Tapi kaum tua-tua berbagai agama, para presiden dan raja, menunduk takzim saat menghadiri pemakamannya di Kota Vatikan, Jumat pekan lalu.
Enam hari sebelumnyaSabtu malam 2 AprilMenteri Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Leonardo Sandri, muncul di hadapan peziarah yang memadati pelataran Basilika Santo Petrus. "Ada berita dukacita yang hendak saya sampaikan," katanya. "Bapa Suci telah berpulang."
Beberapa ibu meratap dengan suara tertahan. Pastor Markus Solo Kewuta SVD, yang membantu liputan Tempo di Vatikan, mendengar seorang wanita Italia di sampingnya mengucap terbata-bata, "Incredible.., il Santo Padre e morto..." (Tak bisa dibayangkan
, Bapa Suci telah meninggal...).
Dalam seketika, "perhelatan" akbar disegerakan tanpa aba-aba. Para sukarelawan bergegas menyiapkan ribuan botol air minum satu literan untuk para pelayat. Berhelai-helai selimut segera ditebar bagi para peziarah yang tegak selama belasan jam untuk menatap jenazah Paus selama beberapa menit. Signora Rossi, salah satu relawan, mengaku kepada Tempo: "Saya lakukan semua ini dengan sukacita, tanpa dibayar sepeser pun."
Anak-anak muda dari kota-kota maupun pedesaan Italia menggelar tenda, bertugur semalam suntuk sembari menyanyikan kidung-kidung teduh. Mereka memekikkan yel-yel "Giovanni Paolo" (Yohanes Paulus dalam bahasa ItaliaRed.) yang menghangatkan dinginnya malam di ambang musim bunga.
"Santo Padre telah melakukan amat banyak hal bagi kami," ujar Signora Giuliana dari Napoli kepada wartawan mingguan ini. Hati Italia memang telah lama tertawan oleh Wojtyla. Padahal kita tahu betapa terkejutnya rakyat negeri itu ketika Karol Wojtyla memecahkan rekor sejarah, menjadi paus non-Italia pertama pada 13 Oktober 1978. Selama 456 tahun, posisi paus selalu diisi oleh para kardinal asal Italia.
Dalam bukunya, An Illustrated History of the Popes, Michael Walsh menuliskan hal itu. Hari itu, 16 Oktober 1978, pukul 19.45 waktu Roma. Lebih dari 100 ribu umat menyemut di lapangan Santo Petrus. Mereka menatap asap putih mengepul dari atas cerobong Kapel Sistine, tanda seremoni pemilihan paus baru telah purna. Kardinal Deacon muncul di atas balkon Basilika Santo Petrus, membacakan maklumat itu kepada dunia. "Saya membawa berita bahagia. Habemus papam. Kita memiliki paus baru, Wojtyla. Dia memilih nama Yohanes Paulus II..."
Sorak-sorai pecah, namun Italia sempat terhenyak dalam kecewa. Karol Wojtyla, 58 tahun, bukan tanpa daya pikat. Muncul beberapa saat di balkon setelah Kardinal Deacon, Wojtyladia menguasai delapan bahasa asingmenyapa massa dalam bahasa Italia yang sempurna. Lalu mengirimkan berkat pertamanya kepada dunia. Dan anak negeri Italia yang menyemut di alun-alun Basilika bagai melupakan darah Polandia Wojtyla, il Papa, sang Paus baru.
Karol Wojtyla sejatinya seorang pemecah rekor. Dia paus termuda dalam sejarah, paling banyak melintasi jagatlebih dari 120 negara dia kunjungi, termasuk Indonesia pada 1989. Dia menerabas tradisi-tradisi lama yang menyaput Vatikan selama berabad-abad. Sekitar 482 orang kudus serta 1.338 beato (para suci yang levelnya tak setinggi orang kudus) yang dia tetapkan selama masa kepausannya.
Sebelum Wojtyla, para santo dan beato praktis didominasi oleh Eropa, Italia terutama. Tapi Wojtyla menemukan para martir iman bisa lahir di pedalaman Meksiko dan berdarah Indian. Atau datang dari satu sudut di belahan bumi Cina. Dia membentuk kolese para kardinal yang beranggotakan kardinal dari rupa-rupa bangsadan sekali lagi memupuskan dominasi Italia dalam majelis agung itu.
Wojtyla adalah pengelana kelas dunia, front man in the global world, suatu peran yang dipilihnya dengan sadar. Para pemimpin Vatikan sebelumnya lebih mengambil posisi sebagai pemimpin gereja semata-mata, internal governor of church. Pendahulu yang amat dihormati Wojtyla, Paus Yohanes XXIII (memimpin Vatikan pada 1958_1963), juga dikenal sebagai paus legendaris yang mulai melebarkan pintu Vatikan kepada dunia. Dia melahirkan Konsili Vatikan II yang kemudian membangkitkan kaum awam untuk berperan aktif bersama para padri dan biarawan dalam mengembangkan kehidupan gerejani.
Lebih dari melebarkan pintu, Wojtyla menepikan tandu-tandu lama yang "mengungkung" gerak pemimpin Takhta Suci. Dia menerabas 129 negara, menuliskan lebih dari 100 dokumen penting Gereja, mengangkat 231 kardinalbandingkan dengan Yohanes XXIII, yang hanya menabalkan 10 kardinal.
Wojtyla menemui lebih dari 1.590 kepala negara. Dia terbang dari benua ke benua dan mencium tanah pada setiap negeri yang dijejaknya. "Semua tanah adalah suci, bumi Tuhan yang setara," kata Wojtyla dalam suatu kunjungan ke Asia. Dan orang memahami pesan bahwa Wojtyla kembali meneguhkan, Gereja Katolik adalah wilayah mondial jauh melampaui batas-batas Vatikan atau Italia.
Di Indonesia, dia datang pada 1989, berkunjung ke Jakarta, Yogyakarta, Timor Leste (ketika itu Timor-Timor yang masih menjadi provinsi ke-27 IndonesiaRed), dan menginap di Maumere, Flores, pada 12 Oktober 1989. Di Seminari Tinggi Ritapiret, Maumere, orang-orang bisa datang kapan saja untuk menyaksikan museum kecil kamar bekas tempat menginap Paus.
Sehari setelah Paus wafat, pada Minggu 3 April, sekumpulan petani dari Desa Nelewutung, Maumere, turun dari gunung dan berdoa di tepi Lapangan Samador, tempat Paus membuat misa pada 16 tahun silam. Lapangan itu dipadati lebih dari 100 ribu umat. Massa mengalir dari lima kabupaten di Flores. "Kitorang masih ingat, Bapa Suci buat misa di sini dulu dalam kitorang punya bahasa (IndonesiaRed.). Muka Bapa Suci berseri-seri waktu beri berkat," kata Gregorius Pake, 58 tahun, salah satu petani Nelewutung, kepada Tempo.
Berkat terakhir yang dia berikan dari jendela kamarnya adalah pada Minggu Palma (sepekan sebelum Pekan Paskah), akhir Februari lalu. Bagi Wojtyla, berkat juga pengampunan. Pada 13 Mei 1981, Mehmet Ali Agca asal Turki menembaknya tiga kali di alun-alun Santo Petrus. Paus tumbang setelah sempat memberi berkat kepada penembaknya.
Siuman dari operasi di Rumah Sakit Gemelli, Roma, Wojtyla berkata: "Pray for the brother who shot me. Doakan saudara yang menembak saya. Dengan sepenuh hati telah saya ikhlaskan pengampunan bagi dia." Paus mengunjungi Mehmet Ali di penjara dan bercakap-cakap dengan calon pembunuhnya itu di kemudian hari.
Di bawah masa baktinya, Gereja Katolik ikut mengalami milenium baru di akhir abad ke-20. Dan Paus bergerak bersama zaman, dia meneguhkan posisi Gereja yang universal kepada segala bangsa. Wojtyla menjalin silaturahmi yang mesra dengan pemimpin bangsa berbagai agama: Islam, Yahudi, Buddha, Hindu. Juga pemimpin-pemimpin Katolik Ortodoks dan Kristen, Anglikan.
Majalah Time, yang memilihnya sebagai Man of the Year pada 1994, melukiskan paradoks besar yang tak pernah lekang melingkupi Wojtyla: dia paus paling universal sembari tetap menjadi seorang "anak Polandia" yang terikat lahir-batin kepada kampung halamannya.
Lahir di Wadowice pada 18 Mei 1920, Wojtyla melewati masa kanak dan remajanya, serta sebagian masa dewasanya, di negeri itu. Setelah menjadi paus, anak Polandia itu membawa ingatan akan tanah airnya di mana pun dia berada. Di lantai tiga Istana Apostolik Vatikan, kamar pribadinya hanya diisi satu tempat tidur, satu meja, dan dua kursi, serta beberapa ikon kecil Polandia di dinding.
Pembantu terdekatnya berasal dari Krakow, Monsinyur Stalislaw Dziwisz. Dan Suster Tobiana, satu pelayan yang menyiapkan menu makanannya, berasal dari Polandia juga. Di antara menu-menu Italia yang disajikan (pasta atau antipasto, daging campur sayur-sayuran, selada, buah) bagi Bapa Suci, keju atau kue panggang Polandia adalah makanan penutup favorit.
Polandia ia kunjungi setahun setelah penabalannya sebagai paus. Seluruh negeri, dari rakyat jelata sampai anggota Politbiro, berbaris ke Jasna Gora, tempat Paus datang untuk menyembah Madona Hitam. Jasna Gora berubah menjadi lautan manusia, lautan bendera, dengan pekik kemenangan yang dilahirkan oleh
"suatu perasaan yang ajaib, tak terlukiskan, karena dari tanah yang disesah oleh komunisme ini Tuhan melahirkan Karol Wojtyla sebagai paus kita," kata Tadeusz Mazowiecki, intelektual Solidaritas dan sobat lama Wojtyla.
Di masa mudanya di Polandia, di sela-sela bermimpi menjadi artis dan atlet, Wojtyla muda telah aktif membantu orang-orang yang kesusahan; kaum tua yang ditinggalkan, anak-anak muda yang resah bimbingan, dan para veteran perang yang kehilangan arah. Di saat menjadi paus, dia selalu menempatkan diri di garda depan, progresif dan radikal, dalam membela hak-hak asasi manusia.
Tapi dalam urusan iman, Wojtyla tak bersedia bergeser setapak pun. Itu antara lain yang membuat sang Paus, misalnya, tak pernah bersedia memberi persetujuan pada aborsi. Dia percaya, setiap nyawa yang hidup adalah "citra Allah yang harus dihormati".
Seperti paus lain, Wojtyla sepenuhnya paham bahwa Gereja Katolik mengambil sikap netral dalam politik. Namun, sejumlah pengkritiknya menuding Wojtyla telah mengaburkan posisi netral Gereja dalam hal politik. Ketika Polandia dikurung oleh komunisme, Wojtyla menulis ke sana. Dia meminta para uskup dan imam menjadi kurir dalam surat-menyurat antara Vatikan dan Polandia. Para rahib dan biarawan di negeri itu memang tak boleh digeledah oleh polisi. Hasilnya? Tadeusz Mazowiecki mengaku: "Jubah para biarawan mengirimkan lebih banyak surat ketimbang pegawai kantor pos kami."
Dalam persinggahannya di Indonesia pada 1989, Paus sekali lagi menunjukkan kalibernya sebagai pemimpin Gereja yang tahu "memberi pesan politik". Dia tidak mencium tanah ketika turun dari pesawat yang membawanya di Bandara Komoro, Diliwalau Vatikan tak mengakui Timor Timur sebagai bagian Indonesia. Namun, dalam khotbahnya pada misa konselebrasi di Dili, Wojtyla berseru: "Saya berdoa agar mereka yang bertanggung jawab terhadap kehidupan di Timor-Timur akan bertindak arif dan bersahabat pada semua pihak..." Kini, Timor Leste mengenang kematiannya dengan khusyuk.
Begitu pula Jakarta, Medan, Makassar, Yogyakarta. Gereja-gereja sesak oleh umat yang mengikuti misa arwah mengenang Wojtyla. Wartawan Tempo Philipus Parera melaporkan, Gereja Katedral Jakarta padat oleh anak-anak muda yang bukan saja datang untuk misa, tapi memotret foto Paus untuk tampilan di layar telepon genggam mereka.
Dari Medan, koresponden Tempo Bambang Soedjiartono menghadiri misa requiem di Katedral Medan. Dia melaporkan, misa konselebrasi bagi arwah Paus yang dipimpin dua uskup itu dihadiri sejumlah relawan dan rohaniwan asing yang tengah berada di Nias untuk membantu korban gempa.
Dari Kota Vatikan, Tempo, yang sempat berdoa dalam jarak tiga meter dari jenazah Paus serta mengikuti prosesi pemakaman ke Basilika Santo Petrus, menulis: "Piazza (Santo Petrus) seperti panggung teater kolosal dan berjuta manusia bergerak bersama ke satu titik, yakni pembaringan jenazah Yohanes Paulus II."
Kota Roma dan Vatikan tiba-tiba dikepung dua juta tambahan massa. Ada 35.000 anggota pasukan dibantu puluhan ribu relawan menertibkan massa dan lalu-lintas. Televisi menyiarkan acara pemakaman yang ditonton olehmengutip data mingguan The Economist"Dua miliar manusia atau dua pertiga penduduk bumi."
Apa yang dibawa Karol Wojtyla ke dalam liang lahatnya selain 84 tahun masa hidup dan 26 tahun baktinya kepada Gereja dan manusia? Seorang petinggi Vatikan hanya memberi satu kata: "pembaharuan". Dalam tradisi Vatikan, setiap paus dimakamkan dengan buku ritual berjudul Ordo Exsequarium Romani Pontificis (Tata Cara Pemakaman Kepala Gereja Roma). Setebal 434 halaman, buku ini harus ditulis tangan bahasa Latin dan Italia. Wojtyla menepikan tradisi lama itu. Dia merevisi buku itu, termasuk ke dalam bahasa Inggris. Dia mengizinkan penerbitan naskah tersebut oleh mesin cetak.
Ke dalam kuburnya, Wojtyla juga membawa satu setel lengkap baju kepausan, satu gulungan biografinya, serta satu dompet berisi koin tembaga dan perak. Namun, mata uang euro sulit menyediakan koin perak dan tembaga, sehingga Dewan Kardinal memutuskan meletakkan sejumlah medali sebagai pengganti koin.
Kekuatan dan daya Karol Wojtyla yang tak lekang di saat kematiannya membuat kita kembali teringat pada ledekan Joseph Stalin: "Berapa bala tentara yang Paus punya? Tak seorang pun!" Di masa hidupnya, Karol Wojtyla menjawab Stalin melalui perannya yang signifikan di balik kejatuhan komunisme di Uni Soviet.
Di saat kematiannya, paus asal Polandia yang humoristis itu seolah meledek Stalin lewat satu paradoks yang indah: dunia sibuk menggelar ritual yang maha-ekstravaganza bagi jasad seorang lelaki renta di dalam sebentuk peti cokelat mahagoni. Polos. Tanpa setitik pun hiasan.
Hermien Y. Kleden (Maumere, Flores), dan Wahyu Muryadi (Kota Vatikan)
|