Kecemasan Tak Berujung Ribuan orang berusaha meninggalkan Nias karena takut akan adanya gempa dan tsunami susulan. Kepanikan merembet hingga Jakarta. |
Seorang pegawai negeri duduk tepekur di ujung lantai pendapa Kabupaten Nias Selatan. Tatapannya tampak kosong. Sesekali matanya menerawang ke hamparan padang rumput di hadapannya. Semilir angin tak membuatnya tenang. ?Saya ingin menyeberang ke Pulau Sumatera,? ujar Idial Harita, warga Pasar Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan itu lirih. ?Kata orang-orang, Nias segera tenggelam.?
Kabar bakal tenggelamnya Nias, yang kini beredar, memang membuat hati Idial tampak cemas. Bayangkan, hanya dalam tiga bulan, dua gempa besar mengoyak Nias. Usai ditikam gempa dan tsunami pada 26 Desember lalu, pulau yang ukurannya sebesar Pulau Madura itu kembali ditekuk gempa 8,7 magnitudo pada 28 Maret 2005.
?Gempa besar ketiga bakal segera datang,? kata Idial, sebagaimana yang telah tersiar. Tapi, untuk sementara, pria 45 tahun itu terpaksa menelan rasa waswasnya. Sebagai bendahara Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Nias Selatan, tentu saja ia harus menuruti perintah atasannya untuk tetap bekerja.
Dua pekan setelah bumi Taho Niha?nama lain Nias?berguncang, kecemasan memang tumbuh subur. Entah dari mana kabar bermula, sebagian penduduk percaya, pulau terindah di Sumatera Utara itu bakal kelelep air laut karena gempa baru yang lebih dahsyat.
Kabar yang kemudian banyak diyakini orang ramai itu menyebar dari mulut ke mulut. Kian berita itu jauh dari sumber, kian beragam pula bumbu cerita yang ditambahkan. ?Kata orang pintar, Nias akan tenggelam sebelum 10 April,? tutur Dian, yang datang dari Medan untuk memboyong keluarganya keluar dari Nias.
Kabar buruk itulah yang membawa Jaka datang ke pelabuhan Gunung Sitoli dengan berjalan kaki sejauh lima kilometer bersama tiga anaknya yang masih kecil dan rombongan tetangganya. Tujuan mereka satu: segera terangkut kapal menuju Sibolga, Sumatera Utara. Ia datang dengan wajah kuyu dan letih saat malam menjelang. Tapi rupanya Jaka harus bermalam di pelabuhan karena tiada kapal. ?Tak ada yang bisa kami kerjakan di sini. Juga nggak ada makanan,? kata pemuda berdarah Jawa kelahiran Sumatera itu.
Setelah gempa Nias mereda, ribuan pengungsi seperti Jaka memang menyeruak di empat pintu keluar Nias, yakni Pelabuhan Angin di Gunung Sitoli, Sirombu, Mandrehe, dan Pulau Batu. Tujuan terdekat?dan satu-satunya?adalah Pelabuhan Samudra Sibolga, Sumatera Utara, yang harus ditempuh sekitar 10 jam.
Tujuh kapal yang melayani perjalanan Gunung Sitoli-Sibolga sampai kewalahan melayani warga yang eksodus dari Nias ini. Padahal beberapa kapal sudah melipatgandakan kapasitasnya, bahkan sampai sebagian penumpangnya terpaksa berdiri selama 10 jam.
Elisati Halawa, petugas pos koordinasi relawan kemanusiaan, mengatakan berdasarkan hitungan lembaganya, hingga Rabu pekan lalu, warga Nias yang tiba di Pelabuhan Sibolga sudah mencapai 16 ribu orang. ?Bahkan, sampai Jumat pekan lalu, masih ribuan orang bermalam di sekitar Gunung Sitoli, meski sekarang jumlahnya mulai menyusut dibandingkan sepekan sebelumnya,? katanya menjelaskan.
Para pengungsi itu bertahan di pelabuhan dengan fasilitas sekadarnya. Ada yang tidur di pelataran pelabuhan. Ada juga yang mendirikan tenda di sepanjang pantai atau menginap di rumah warga sekitar. Memang, tak semua pengungsi di pelabuhan itu berniat hengkang dari Nias. ?Sebagian datang karena mencari bantuan makanan saja,? ujar Elisati.
Ada usaha mencegah eksodus penduduk Nias yang dilakukan oleh pejabat setempat. Wakil Bupati Nias Agus H. Mendrofa, misalnya, sudah berulang kali mengimbau warganya tetap tenang. Dia sampai delapan kali berbicara di stasiun RRI setempat. Cuma, imbauan itu tak sepenuhnya mempan. Barangkali karena banyak warga yang tak lagi punya radio.
Pelaksana harian Bupati Nias Selatan, Nabari Ginting, juga sampai serak suaranya, karena saban hari berkeliling dan mengimbau penduduk agar tetap tenang. Untuk mencegah kepanikan, ?Kami menyebarkan firman-firman Tuhan. Setiap malam kami menyelenggarakan kebaktian, untuk menenangkan warga. Bupatinya kan di sini, kalau memang mati, kita mati bersama-sama,? kata Nabari.
Di daerahnya, menurut perkiraan Nabari, usaha tersebut lumayan berhasil. Berdasarkan hitungannya, dari sekitar 275 ribu penduduk yang mendiami delapan kecamatan di Nias Selatan, diperkirakan hanya sekitar 1.000 orang yang menyeberang ke Sibolga. ?Jadi ini bukan eksodus.?
l l l
KEPANIKAN bakal datangnya tsunami kedua rupanya juga menular ke Padang. Maklum, hampir 80 persen dari 786 ribu penduduk ibu kota Sumatera Barat itu tinggal di kawasan pantai. Penduduk yang tinggal di pesisir?seperti Purus, Ulak Karang, dan Tabing?banyak yang memilih mengungsi ke daerah yang lebih tinggi seperti Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh, dan Solok. Sebagian lagi memilih cara lain, berburu rumah kontrakan di pinggiran kota yang jauh dari pantai, seperti Kuranji, Belimbing, Ulu Gadut, dan Penggambiran.
?Setiap malam, ketika mendengarkan debur ombak, selalu terbayang tsunami, saya dan anak istri sampai tidur di kolong meja,? kata Suprialdi, 34 tahun, karyawan swasta yang tinggal di Tabing. Karena selalu cemas, akhirnya istri dan anaknya sementara dititipkan di rumah mertuanya di Payakumbuh.
Banyaknya peminat rumah sementara yang dianggap aman membuat harga sewa rumah melonjak dua kali lipat. Di Perumahan Mawar Putih Kuranji, sekitar 7 kilometer dari bibir pantai dengan ketinggian 8 meter dari permukaan laut, harga sewa yang dulunya hanya Rp 800 ribu kini dipatok Rp 2 juta per bulan. Sementara sebagian rumah dan pertokoan di sepanjang pantai mulai diberi patok atau tempelan bertulisan dijual.
Kecemasan akan datangnya gempa dahsyat agaknya menular hingga ke Jakarta. Rabu lalu, ribuan pesan pendek berhamburan mengabarkan ancaman gempa itu, yang tak jelas benar asal-usulnya. Pesan itu singkat saja: ?Menurut CNN, pukul 16.00 Jakarta akan diguncang gempa besar.? Banyak karyawan di kawasan Jalan Sudirman-Thamrin mempercepat pulang karena ketakutan. Badan Meteorologi dan Geofisika juga kebanjiran telepon dari pagi hingga sore. ?Jakarta dipastikan aman dari gempa besar,? kata Kepala Sub-Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Surono. ?Sepanjang sejarahnya, Jakarta tidak pernah terkena bencana besar.?
Ketakutan masyarakat Ibu Kota terhadap gempa itu memang sudah berakumulasi sejak sepekan lalu. Sebelum beredar pesan bohong tentang gempa itu, masyarakat sudah cemas ketika mendengar teori pakar gunung berapi dari Australia, Ray Cas. Profesor di Monash University?s School of Geosciences itu memperkirakan tsunami dan gempa di Nias bakal memicu letusan gunung api super (supervolcano) dari dasar Danau Toba (lihat Mengintip Energi dari Barat Toba). Letusan itu kekuatannya bakal 100 hingga 1.000 kali letusan Krakatau pada 1883. Namun teori ini dibantah Kepala Sub-Direktorat Pengamatan Gunung Api Wilayah Barat, Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Alam, Mas Ace Purba Winata. ?Itu berita sensasional saja,? ujar Mas.
l l l
Untunglah, tak semua orang menelan bulat-bulat kabar yang datang bak monster itu. Yuniar Sarma, warga Teluk Dalam, Nias, misalnya, memilih tetap bertahan di rumahnya. Meski saat gempa lalu, air sebatas leher sempat menggulung wanita 25 tahun itu. ?Jarak gempa dengan air pasang tidak sampai lima menit. Saat keluar rumah, sudah dihantam air,? katanya.
Yuniar bertahan lantaran tak kunjung ada kabar dari suaminya. Saat gempa mengoyak Nias, suami Yuniar tengah melaut di sekitar Pulau Telo, salah satu pulau di jajaran Pulau Batu. Hingga kini belum ada kabar beritanya. ?Saya percaya Nias bakal tenggelam. Tapi saya akan tetap di sini. Kalaupun Nias tenggelam, ini kan pekerjaan Tuhan,? katanya.
Raju Febrian, Sapto Pradityo, Yohanes Adi Wiyanto, Febrianti (Padang), Istiqomatul Hayati (Nias)
|