Seorang Bintang dan Atraksinya Avril R. Lavigne pintar memikat hati penonton, generasi MTV yang sudah mencintai Avril jauh sebelum konser itu. |
Di atas panggung, bintang rock Avril Lavigne, 20 tahun, irit bicara, tapi banyak menyanyi dan bermain musik. Komunikasi memang tidak terlalu penting malam itu, Senin malam pekan lalu, di stadion Tennis Indoor Senayan, Jakarta. Ia cuma menyapa sedikit, lalu menyeru penggemarnya: "Ayo tersenyum!"
Dan kita pun cepat mendapati kenyataan ini: cinta penggemar itu buta. Ya, para penggemar yang sudah jatuh hati jauh hari sebelum Avril naik panggung itu tentu saja tidak cuma tersenyum. Mereka bertepuk ketika lagu Anything But Ordinary, yang muncul di tengah-tengah acara, dibawakan sambil memetik gitar. Penonton, anak-anak muda yang sudah banyak menyaksikan Avril di MTV, ikut menyanyi ketika sebait lirik terdengar: Sometimes I get so weird/I even freak myself out/I laugh myself to sleep/it's my lullaby/
.
Malam itu, sepanjang satu setengah jam Avril melantunkan 19 lagu dan mendemonstrasikan kemampuan bermain gitar, piano, dan drum. Para penonton yang meliputi 4.000 orang itu menyaksikan seorang gadis 20 tahun, dengan T-shirt dan celana jins. Cantik, pirang, dan mungiltingginya cuma 1,55 meter. Barangkali tak banyak yang tahu betapa pujaannya tidak lahir dengan segala orisinalitas miliknya sendiri.
Warna musiknya banyak berutang pada kelompok Sex Pistols, kelompok yang cukup populer pada 1970-an. Dan suaranya yang khas cukup mendekati Sinead O'Connor, yang sangat dikenal pada 1980-an. Begitukah? Yang jelas, karakter khusus suara Avril sudah tercium sejak ia berusia dua tahun. Dan satu lagi, ia tak pernah lepas sama sekali dari ciri-ciri musik yang berkembang pada 1970-an. Avril kecil ikut paduan suara gereja, bahkan ikut kontes festival musik country. Di sanalah Antonio Reid, petinggi Arista Records, menjumpai suara dan musik yang bakal memukau banyak orang mudaya, musik yang sederhana dan suara yang khas.
Avril di usia 16 tahun itu hijrah ke New York, Amerika Serikat, menggarap Let Go, album perdana, bersama Reid. Album itu terjual 14 juta kopi di dunia. Pada Grammy Award 2003, ia bahkan meraih delapan nominasi. Tapi hubungan dengan Reid putus lantaran Avril berontak ingin menulis lagu sendiri. Avril lalu pergi ke Los Angeles, kota besar di California. Di sini, ia berjumpa dengan Clif Magnes, produser dan penulis lagu yang mengorbitkan musisi beken Celion Dion, Wilson Phillips, dan Sheena Easton. Clif klop dengan Avril karena membebaskan diva belia ini berkreasi.
Dan Senin malam itu, hasilnya bisa dilihat dalam lagu Ska8ter Boi, lagu andalan yang ternyata sangat berpengaruh pada penonton. Lagu yang diakhiri dengan suasana gelap-gulita. Sejenak penonton beristirahat. Saat lampu menyala lagi, Avril sudah duduk di kursi drummer. Kini dua stik di tangannya. Sambil menyanyikan Song 2, lagu milik kelompok musik Blur asal Inggris, ia menabuh drum. Sebuah atraksi panggung yang menarik, lengkap dengan sorot lampu buat melatari adegan ini. Ya, potongan pertunjukan yang memukau, sekaligus mengantar lagu pamungkasnya, Complicated.
Avril sekarang dalam turnya di Australia. Tapi, di Indonesia, dua album Avril sudah menembus delapan kali platinum. Erlina Mahadewi, 32 tahun, seorang karyawan swasta, mengaku sangat puas melihat konser itu. Juga Sarah Amelia, 25 tahun, wanita hamil muda yang berperut buncit istri Ariel Peterpan, yang ikut berdiri di antara kerumunan penonton yang berjoget. Ya, mereka telah jatuh hati pada Avril Lavigne sebelum konser Senin malam itu.
Eduardus Karel Dewanto
|