Chrisye Belum Berlalu Ia berseluncur bersama arus besar musik yang tengah populer selama tiga dekade. Pernah mengalami masa-masa krisis diri dan berniat mundur dari dunia tarik suara. |
SAYA merasa kosong. Saya ini sebenarnya siapa? Ini tubuh siapa? Saya seperti tak punya rasa." Kalimat eksistensial itu diucapkan Chrisye dengan nada lambat, terputus-putus, di ruang tamunya yang mungil di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, Selasa pekan lalu. Ia mengisap rokok Benson and Hedges yang ketiga, lalu mengembuskannya dengan kuat. "Pa-dahal di tahun 1994 itu saya sedang berada di puncak popularitas setelah menggelar konser tunggal," ujar vokalis yang baru meluncurkan album solo ke-27 itu, Senyawa, sebuah album kolaborasi dengan sembilan grup musik dan komposer.
Perasaan kosong di tengah tepuk sorak dan kilatan blitz kamera yang susul-menyusul itu pernah disenandungkan David Gilmour, vokalis Pink Floyd, sekitar tiga dekade silam, lewat sebuah istilah yang kini menjadi klasik: comfortably numb. Namun, bagi Chrisye, kekosongan itu berbuah gelisah. Ia sama sekali tidak comfortable dengan matinya rasa. Lantas seseorang memberi tahu dia agar mencari hikmah ke Kalimantan, ke sebuah desa bernama Sekumpul di Martapura.
Di tempat itu Chrisye menemukan ribuan murid menyemuti majelis pe-ngajian Guru Zaini bin Abdul Gani. Ia ikut bersimpuh. Dengan rambut sebahu, jins lusuh, dan T-shirt, Chrisye berharap bertemu jawab. Sang Guru memanggilnya ke depan. "Beliau belum berkata apa-apa, sebagian jiwa saya seperti langsung terisi oleh energi yang sulit dijelaskan," katanya. Setelah beberapa saat, Guru tahu bahwa Chrisye seorang penyanyi. Ia diminta menunjukkan keindahan suaranya. Chrisye memilih lagu Hening. "Ternyata saya gemetar. Itu pertama kalinya saya menyanyi gugup di depan orang banyak," katanya tentang rahasia yang selalu disimpan rapi selama ini. "Sejak itu, di mana pun menggelar konser, saya selalu berusaha kulo nuwun pada orang-orang alim setempat seperti pesan Guru Zaini."
Ada yang hanya ditemuinya di kota tempat pertunjukannya berlangsung, ada juga yang menjadi gurunya seperti Habib Anis di Solo. Bahkan, ketika di Manado, ia "menemukan" seorang guru lagi: almarhum Habib Abu Bakar Assegaf, yang belakangan pindah ke Cililitan Kecil, Jakarta, dan menjadi guru tetapnya. Foto ketiga orang ini, serta Syekh Muhammad Aryad Al-Banjar, yang berada enam generasi di atas Guru Zaini, kini terpampang rapi di satu sudut tembok rumahnya, bersisian dengan sebuah cakram kuningan besar bergaris tengah satu meter yang bertuliskan 99 nama indah Allah (Asmaul Husna) dalam format bunga matahari.
Periode "mengisi kekosongan" itu merupakan ujian berat dalam 37 tahun kariernya (dihitung sejak bergabung dengan band Sabda Nada pada 1968), atau 28 tahun karier rekaman (dihitung dari album pertama, Guruh Gipsy, 1977). Ada juga sejumlah ujian lain yang selalu diingatnya. Misalnya, saat ragu menyergap dalam penggarapan album Resesi (1983), ayah empat anak ini berpikir untuk mundur dari musik.
Pemilik nama asli Chrismansyah Rahadi ini juga terhuyung ketika dua tahun kemudian publik menuduhnya melakukan plagiarisme. Lagu Hip-Hip Hura yang ia nyanyikan (ciptaan Adjie Sutama, aransemen Addie M.S.) terdengar paralel dengan lagu Footloose milik Kenny Logins. Pada 1988, lagunya yang lain, Jumpa Pertama (ciptaan Andi Mapajalos, aransemen Youngki Suwarno), dituding sebagai jiplakan telak atas lagu kondang 9 to 5 dari Sheena Easton. "Saya kurang teliti ketika memilih lagu, betul-betul tidak tahu ada versi Barat-nya. Tapi sudahlah, itu salah saya," katanya.
Di luar kecelakaan kreatif itu, ketelitian Chrisye dalam merancang konsep produksi album-albumnya diacungi jempol oleh Fariz R.M. "Mas Chrisye selalu memikirkan siapa orang terbaik untuk menggarap sebuah lagu tertentu, dan kemudian memberikan kepercayaan yang besar kepada orang itu, entah komposer entah player," ujar pencipta Sakura Dalam Pelukan itu, lagu yang digunakan lagi oleh Chrisye dalam album Dekade (2002).
Dengan resep ini, terbukti Chrisye mampu berjalan melintas zaman. Ia berseluncur bersama arus besar musik yang tengah populer. "Mungkin ada yang melihat hal ini hanya sebagai kompromi Chrisye terhadap pasar. Tapi saya melihatnya sebagai kejelian visi dan ketajaman strategi yang tidak dipunyai semua artis," kata Keenan Nasution, musisi yang menjadi pembicara kunci dalam diskusi bertajuk "Chrisye dalam Perspektif Seni, Budaya, dan Musik Indonesia", yang digelar Forum Wartawan Hiburan di Studio EKI, Jakarta, Kamis dua pekan silam.
Dari jejak ke-27 album solonya, termasuk Badai Pasti Berlalu yang dirilis dua kali pada 1977 dan 1999, sedikitnya ada empat penata musik yang memberikan fondasi bagi musiknya, yaitu Jockie Soeryoprayogo (dengan lirik Eros Djarot), Addie M.S., Youngki Suwarno, dan Erwin Gutawa. Pada album terakhir, Senyawa, Chrisye malah mempercayakan semua lagu digarap musisi muda, dari kelompok pengusung parodi Project Pop sampai Peterpan. "Saya tak punya pilihan lain kecuali berkembang lewat musik, karena kapasitas vokal saya, ya, cuma begini dari pertama kali menyanyi," katanya.
Tapi, dengan vokal yang "cuma segini" itu, Chrisye adalah barometer "serba pertama" untuk musik pop Indonesia. Tahun ini ia menjadi artis solo Indonesia pertama yang menelurkan album ke-27. Kreativitasnya sebagai penyanyi solo hanya bisa dijajari oleh Iwan Fals. Untuk klip video, Cintamu Telah Berlalu merupakan klip Indonesia pertama yang ditayangkan di kanal musik MTV. Sedangkan Kala Cinta Menggoda (ciptaan Guruh Soekarnoputra) terpilih sebagai pemenang kategori Asia Viewer's Choice Award pada perhelatan MTV Video Music Award di Los Angeles, Amerika Serikat (1998). Dan pada 1994, saat ia merasakan kekosongan maha itu, konser tunggal belum menjadi konsep yang dikenal para penyanyi solo, lelaki maupun perempuan. Setelah menaklukkan publik Jakarta, Chrisye membawa rombongan pemain dan kru yang berjumlah 200 orang lewat perjalanan darat untuk pentas di Surabaya. Sold out juga.
Pengamat musik pop Denny Sakrie melihat vokal tipis Chrisye yang nyaris tanpa vibrasi itu justru sebagai keajaiban yang menghidupkan energi sebuah lagu. "Coba dengar Kisah Kasih di Sekolah versi asli, yang dibawakan Obbie Messakh, dengan yang setelah dibawakan Chrisye. Atau Seindah Rembulan, yang awalnya dinyanyikan Iis Sugianto," kata Denny. Dua lagu "pop cengeng" ituini istilah mantan Menteri Penerangan Harmokoseperti disajikan Chrisye dengan menyisihkan semua kecengengannya.
Inovasi lain yang patut disebut adalah keberaniannya membawakan Pengalaman Pertama, yang menjulangkan nama A. Rafiq. Chrisye seperti menyanyi di bawah pisau guillotine yang akan menamatkan kariernya bila salah langkah. Pertama, lagu itu nomor dangdut yang sudah memasuki tahap evergreen. Tidak setiap penyanyi dangdut berani mengaransemen ulang lagu ini dalam album mereka. Dan kedua, yang paling berbahaya, jika dibawakan di atas panggung. Rafiq adalah penyanyi dengan tubuh selentur karet, sedangkan Chrisye adalah penyanyi yang paling tidak bisa bergaya dalam sejarah musik Indonesia. Jadi, mana bisa lagu dangdut dinyanyikan dengan gaya sekaku robot? Hasilnya: sekali lagi Chrisye membuktikan, esensi sebuah musik bukan pada elemen-elemen ornamental seperti penguasaan panggung dan kelincahan menari. Pengalaman Pertama dilantunkan sama enaknya dengan saat Chrisye menyanyikan Badai Pasti Berlalu atau Lilin-Lilin Kecil.
Kini geraknya sedikit terganggu. Sejak setahun silam, tulang belakang nomor lima di tubuhnya memberi rasa nyeri. Ia harus menjalani terapi air untuk penyembuhan 2-3 kali sepekan, dan tidak bisa duduk atau berdiri terlalu lama. Tentu saja masalah itu cukup mengganggu aktivitasnya kini.
Gangguan lain yang rutin selama ini, ya, perkara pakaian. "Paling merepotkan saya kalau harus pergi resepsi, karena saya harus berpakaian rapi dan formal. Itu bukan saya," tuturnya sambil menyalakan batang rokok yang keenam dalam percakapan siang itu.
Akmal Nasery Basral
CHRISYE
Senyawa
- Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada (Dhani Ahmad)
- Bur-Kat (Project Pop)
- Menunggumu (Peterpan)
- Luna Kelam (Eross Sheila on 7/Andi Rianto)
- Panah Asmara (Tohpati)
- Beku (Ricky F.M./Lusman)
- Cinta yang Lain ((Ungu)
- Suatu Persembahan Cinta (Element)
- Tjah Ajoe (Naif)
|