Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 07/XXXIV/11 - 17 April 2005
   
Ekonomi dan Bisnis

Bisnis Sepekan

Tiket Pesawat Naik

Pertarungan di bisnis penerbangan akan makin sengit. Bukan masuknya pemain baru yang menjadi penyebabnya, melainkan kenaikan harga avtur. Mulai 1 April lalu, Pertamina menaikkan harga bahan bakar pesawat itu 21,2 persen menjadi Rp 4.565 per liter. Kenaikan harga avtur didorong oleh tingginya harga minyak mentah dunia dan rupiah yang melemah hingga Rp 9.500 per dolar AS. ”Perusahaan penerbangan menjerit karena bahan bakar menyedot 30-40 persen biaya operasi,” kata Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (Inaca) Tengku Burhanuddin.

Mau tidak mau, perusahaan penerbangan harus menaikkan harga tiket. Dalam rapatnya, Selasa pekan lalu, Inaca menetapkan tiket pesawat akan dinaikkan Rp 75 ribu per satu jam terbang. Kenaikan ini diberlakukan mulai Rabu pekan lalu. Untuk beberapa jalur seperti Jakarta-Surabaya atau Jakarta-Yogyakarta, kenaikan harga tiket mencapai 30 persen. Kenaikan ini bakal memicu persaingan yang kian ketat karena kenaikan harga tiket diperkirakan akan menurunkan jumlah penumpang.

Itu sebabnya, banyak perusahaan penerbangan bersikap menunggu para pesaingnya menaikkan harga lebih dulu. Kepala Humas Merpati Yanin Helga Waroka, misalnya, mengatakan bahwa harga baru akan diberlakukan paling cepat minggu depan. ”Tapi tidak semua rute.” Rute yang ketat persaingannya seperti Jakarta-Denpansar kemungkinan besar tidak dinaikkan. Namun, Lion Air memilih bertahan dengan harga lama. ”Kami tak mau mengambil risiko penumpang akan lari ke maskapai lain,” kata Presiden Direktur Lion Air Rusdi Kirana.

ADB: Harga Minyak Tidak Melambung

Bank Pembangunan Asia (ADB) memperkirakan harga minyak mentah di pasar dunia tidak akan melambung seperti tahun lalu. Ekonom ADB Amanah Abdulkadir mengatakan, kenaikan harga minyak di dunia saat ini terjadi karena kekagetan pasar internasional. ”Patokan harga minyak yang digunakan oleh pemerintah Indonesia sebesar US$ 35 per barel sudah cukup realistis,” kata Abdulkadir. ADB yakin harga minyak akan segera stabil karena negara-negara pengkonsumsi minyak seperti Amerika Serikat dan Cina akan mengendalikan pembelian minyak agar tidak terjadi kepanikan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro juga yakin harga minyak mentah dunia tidak akan menyentuh US$ 105 per barel seperti ditulis Goldman Sachs. Purnomo berpendapat harga minyak masih bisa ditekan dengan menaikkan produksi minyak OPEC (Or-ganisasi Negara-negara Penghasil Minyak). Menurut Purnomo, kenaikan harga minyak belakangan ini terjadi bukan karena cuma faktor tingginya permintaan dan tipisnya pasokan, tapi juga karena berbagai faktor lain seperti spekulasi, bisnis, dan faktor alam yang tak bisa dikendalikan.

Batam-Bintan Kian Dekat

Batam dan Bintan bakal semakin dekat. Jika selama ini jarak tempuh kedua pulau di Provinsi Kepulauan Riau itu sekitar satu jam, kelak bisa ditempuh hanya dalam tempo 10 menit. Rencananya, Otorita Batam akan membangun jembatan sepanjang enam kilometer pada Januari 2006. Selama ini, penduduk kedua pulau itu menggunakan kapal penyeberangan. ”Jembatan itu terdiri dari empat bentangan yang menghubungkan Batam-Tanjung Sauh-Buau-Bintan,” kata Direktur Administrasi Perencanaan Otorita Batam Moch. Priyanto kepada Rumbadi Dalle dari Tempo.

Jembatan itu akan dibangun dalam tempo lima tahun. ”Biayanya diperkirakan sekitar Rp 3 triliun,” kata Jodi Firmansyah, salah satu anggota tim perancang jembatan dari Institut Teknologi Bandung. Saat ini, tim perancang sudah menyelesaikan detail desain serta rancangan struktur atas dan bagian bawah jembatan (fondasi). Sebagian dari jembatan itu akan menggunakan kabel (cable stayed). Sebelumnya, di kawasan itu sudah dibangun jembatan Barelang yang menghubungkan Batam-Rempang-Galang.

Efata Terbang Lagi

Setelah absen selama setahun, Efata Papua Airlines akan terbang lagi. Kebangkitan kembali Efata ditandai antara lain pemindahan kantor pusat dari Jayapura ke Mataram, penambahan investasi, dan perubahan jalur. Pemindahan kantor pusat ini karena Lombok dinilai memiliki nilai lebih sebagai salah satu pusat pariwisata Indonesia selain Bali. Selain itu, banyaknya tenaga kerja Indonesia (TKI) yang berasal dari Nusa Tenggara Barat juga menjadi incaran Efata Air.

”Kami menambah investasi dari Rp 30 miliar menjadi Rp 200 miliar,” kata Presiden Direktur Efata, Ferry Veranus Faubun, seperti dikutip Supriyantho Khafid dari Tempo. Selain itu, jalur penerbangannya pun diubah. Sementara semula Efata banyak melayani penerbangan intra-Papua, kini jalur utama Efata adalah Lombok, Surabaya, Batam, dan Kuala Lumpur. Saat ini Efata memiliki dua pesawat Boeing B737-200. Penerbangan pertama akan dilakukan mulai pertengahan April ini, yakni Surabaya-Mataram dan Mataram-Batam.

Penjualan Mobil Tertinggi

Kenaikan harga bahan bakar minyak ternyata tak mengurangi minat orang membeli mobil. Terbukti, penjualan mobil sepanjang Maret lalu mencapai 53 ribu unit. ”Ini rekor tertinggi penjualan bulanan,” kata Direktur Pelaksana Indomobil, Wiwie Kurnia, kepada Riska S. Handayani dari Tempo. Bulan sebelumnya, penjualan mobil baru mencapai 45 ribu unit. Tahun ini para pelaku industri otomotif memperkirakan penjualan mobil akan mencapai 520 ribu unit.

Indomobil sendiri menargetkan penjualan 140 ribu unit pada tahun ini, naik sekitar 40 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya 101 ribu unit. Wiwie yakin, Indomobil yang mengandalkan Suzuki ini bakal mampu mencapai target. Sampai Maret lalu, penjualan Indomobil sudah 27-30 persen di atas penjualan tahun lalu. Selain Suzuki, In-domobil memasarkan antara lain Nissan dan Volvo. Di luar mobil, Indomobil juga menjual sepeda motor Suzuki. Tahun lalu, Indomobil memasarkan 800 ribu unit sepeda motor dan tahun ini menargetkan penjualan satu juta unit.

Sampoerna Berbisnis Gula

Terkuak sudah teka-teki hendak dibawa ke mana uang hasil penjualan saham Putera Sampoerna di PT HM Sampoerna pada Maret silam. Jumat pekan lalu, Putera menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dalam pertemuan itu, Putera menyampaikan niatnya menginvestasikan kembali hasil penjualan sahamnya ke Indonesia, terutama di sektor agribisnis. Dia mengincar industri gula.

Untuk memuluskan rencana itu, Direktur Operasional H.M. Sampoerna Angky Camaro juga telah menemui Menteri Pertanian Anton Apriyantono. Menurut Anton, pemerintah telah menawarkan pendirian industri gula sekaligus perkebunan di Merauke kepada Putera dengan lahan seluas 120 hektare. ”Kalau rencana ini tercapai, akan ada penambahan produksi gula sebesar 1 juta ton per tahun,” kata dia.

Keluarga Sampoerna pada Maret lalu telah menjual 40 persen sahamnya di HM Sampoerna, perusahaan rokok yang dibangun keluarganya hampir seabad silam, kepada Philip Morris International Inc. Saham tersebut dijual seharga US$ 2 miliar (sekitar Rp 18 triliun). Selain akan menggeluti bisnis pertanian, Putera Sampoerna selaku pemimpin keluarga telah menyatakan akan banting setir ke bisnis infrastruktur.

Medco Masuk London

Perusahaan minyak milik Arifin Panigoro, Medco Energy International, akan menjual 40 persen sahamnya di Bursa London. Dari penjualan tersebut, Medco berharap bisa meraup dana sekitar US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 13 triliun. Penawaran umum saham tahap kedua ini akan dilakukan Juli mendatang. ”Kami akan road show ke berbagai kota seperti Singapura, Hong Kong, London, Philadelphia, New York, dan Boston,” kata Presiden Direktur Medco, Hilmi Panigoro, seperti dikutip Dow Jones Selasa pekan lalu.

Hilmi berharap kenaikan harga minyak mentah pada tahun ini akan membuat penawaran saham perusahaannya mendapat respons positif dari para investor. Tahun ini, Medco menargetkan produksi 154 ribu barel per hari atau naik 10 persen dari tahun lalu. Hasil penjualan saham ini akan digunakan Medco untuk membayar utangnya kepada UOB Asia Limited, Singapura, senilai US$ 400 juta. Selain di minyak, Medco berencana melakukan ekspansi usaha ke industri semen dan perkebunan kelapa sawit. Keluarga Panigoro kini menguasai 85 persen saham Medco Energy.

Pertamax dan Pertamax Plus akan Naik

Pertamina akan menaikkan harga Pertamax dan Pertamax Plus menjadi sekitar Rp 5.000 per liter. Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Ari Soemarsono mengatakan, Pertamina harus menaikkan harga kedua jenis bahan bakar minyak ini karena harga pokoknya yang terus meningkat. Saat ini, biaya produksinya sudah mendekati angka Rp 4.000 per liter. Angka itu belum mencakup biaya pengangkutan dari kilang, baik dari Cilacap, Dumai, Balikpapan, ataupun impor dari Singapura.

”Pertamina tak memerlukan persetujuan dari pemerintah ketika akan menaikkan harga Pertamax dan Pertamax Plus karena bukan BBM bersubsidi,” kata Ari seperti dikutip Retno Sulistyowati dari Tempo. Namun, Ari tidak bersedia mengungkapkan kapan Pertamina akan menaikkan harga kedua jenis BBM itu. Harga Pertamax dan Pertamax Plus terakhir naik pada Desember 2004. Ketika itu, harga Pertamax yang semula Rp 2.400 menjadi Rp 4.000 per liter, sedangkan Pertamax Plus dari Rp 2.750 menjadi Rp 4.200.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data