|
Meninggal Dunia
Zaini Azhar Maulani, 66 Tahun
Letnan Jenderal (Purnawirawan) Zaini Azhar Maulani meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta, Selasa pekan lalu. Sehari kemudian, jenazah mantan Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) di masa pemerintahan Presiden Habibie ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional, Kalibata, Jakarta.
Maulani meninggalkan seorang istri, enam anak, dan 19 cucu. Sebelumnya, dia telah sebulan menjalani perawatan di rumah sakit yang sama akibat penyakit yang telah lama dideritanya, diabetes dan paru-paru.
Pria kelahiran 6 Januari 1939 ini menghabiskan masa kecilnya di Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Menginjak dewasa, dia menyelesaikan Akademi Militer Nasional (AMN) di Magelang pada 1961. Kemudian dilanjutkan dengan Command and General Staff College, Quetta, Pakistan, pada 1971. Dua tahun kemudian, dia menjabat Komandan Yonif 320/Kujang Siliwangi pada 1973.
Namanya baru kembali berkibar ketika Maulani dipercaya sebagai Panglima Kodam VI Tanjungpura periode 1988-1991. Selanjutnya, dia ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Transmigrasi pada 1991-1995. Lalu menjadi staf ahli Menteri Riset dan Teknologi pada 1995-1998. Di sini Maulani mulai akrab dengan B.J. Habibie. Hingga, ketika Habibie menggantikan Soeharto, Maulani jadi Kepala Bakin.
Abdul Latief, 79 Tahun
Abdul Latief merupakan salah satu tokoh peristiwa Gerakan 30 September 1965. Pangkat terakhir dalam karier kemiliterannya sebagai kolonel. Pria yang menjadi salah seorang saksi silang sengkarut negeri ini tersebut telah berpulang pada Rabu pekan lalu.
Sebelum meninggal, ia dirawat di Rumah Sakit Qadar Islamic Center, Karawaci, Tangerang, karena komplikasi jantung, TBC, dan stroke. Latief mulai menjalani perawatan sejak Sabtu dua pekan lalu. Jenazah ayah enam anak ini dimakamkan di pemakaman umum Pejaten, Pasar Minggu, pada Rabu itu juga.
Pria kelahiran 27 Juli 1926 ini memulai kariernya di dinas kemiliteran lantaran wajib militer Belanda, Nederlandsch Militair Militie (milisi tentara Belanda), pada 1942. Karier militernya berlanjut hingga ke masa pemerintahan Presiden Soekarno. Latief memimpin dalam beberapa pertempuran, di antaranya dalam peristiwa pemberontakan Andi Azis dan Kahar Muzakar pada 1950.
Sejarah mencatat, nama Latief disebut sebagai anak buah Mayor Jenderal Soeharto, Komandan Strategi Angkatan Darat yang kemudian menjadi presiden di rezim Orde Baru. Riwayat Latief berakhir setelah Gerakan 30 September 1965. Dia dituduh terlibat Partai Komunis Indonesia, meskipun dia tak mengakuinya. Dia dipenjara sejak 1966, dan baru bebas setelah Soeharto dipaksa turun dari pemerintahan.
"Apa bahan tertawaan di sini? Justru ini mestinya bahan memuji Menko Kesra. Iya, kan?"
Alwi Shihab, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Senin pekan lalu, menanggapi pernyataan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan, Anwar Nasution, yang menilai laporan penanganan musibah Aceh dan Sumatera Utara dari Menteri Koordinator Kesra bisa menjadi bahan tertawaan orang.
"Kami setuju membangun kerja sama konstruktif dalam bidang pertahanan dan keamanan."
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan keterangan persnya di Canberra, Australia, Selasa pekan lalu, mengenai kesepakatan kerja sama keamanan komprehensif antara Indonesia dan Australia.
TEMPO DOELOE
11 April 1957
Presiden Amerika Serikat, Harry S. Truman, mencopot Jenderal Douglas McArthur sebagai komandan pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Amerika di Timur Jauh, karena menentang politik luar negeri Amerika di Korea.
12 April 1961
Kosmonaut Uni Soviet, Mayor Yuri Gagarin, 27 tahun, menjadi manusia pertama yang melakukan perjalanan ke luar angkasa. Dia terbang dengan roket dari pangkalan angkasa luar Baikonur, Asia Tengah. Ia berada di ruang angkasa selama 108 menit.
13 April 1919
Tentara Inggris dan Gurkha menembak kumpulan orang yang melakukan pawai politik di Amritsar. Ratusan kaum Sikh, Hindu, dan muslim India tewas. Ribuan warga India memprotes Rowlatt Act, yang memberi kekuasaan besar kepada pemerintah untuk menangkap para tokoh pergerakan nasionalis.
14 April 1865
Presiden Abraham Lincoln ditembak oleh John Wilkes Booth, seorang aktor, ketika menonton pertunjukan komedi musik. Lincoln tewas sehari kemudian. Booth kemudian dihukum gantung.
16 April 1917
Tokoh revolusioner Rusia, Vladimir Lenin, pulang ke Petrograd untuk bergabung dengan Gerakan Bolshevik, menyusul jatuhnya Tsar Nicholas II. Namun, usa-hanya membentuk pemerintahan gagal. Dia kemudian kembali dan memimpin pemberontakan bersenjata dewan buruh (Soviet).
15 April 1998
Pemimpin Khmer Merah, Pol Pot, 70 tahun, meninggal karena serangan jantung. Diktator yang dianggap bertanggung jawab atas pembantaian sekitar 1,7 juta rakyat Kamboja itu meninggal dalam pelarian di sebuah desa terpencil di barat Kamboja.
|