Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 06/XXXIV/04 - 10 April 2005
   
Obituari

Perginya Sosok Teduh, Buya Ismail

Ia pernah bersuara keras mempersoalkan kecurangan pemerintah Orde Baru terhadap hasil Pemilu.

Azan zuhur baru saja diserukan muazin, suaranya memancar dari menara. Keranda yang dipanggul pelan-pelan meninggalkan rumah yang berada di kompleks perumahan DPR Joglo, Jakarta Barat. "Semua yang bernapas akan mati," begitu arti untaian huruf Arab yang menempel kain bagian sisi keranda.

Di dalam keranda itu, jasad bekas Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Ismail Hasan Metareum dibaringkan tenang. Sabtu pekan lalu, saat jarum jam menunjuk 04.50 subuh, Buya meninggalkan fananya dunia setelah sepekan dirawat di Rumah Sakit Pelni Petamburan, Jakarta.

Teungku Cik—demikian orang Aceh memanggilnya sebagai penghormatan untuk ulama besar—belakangan memang sakit-sakitan. Bahkan cuci darah, yang telah dijalani selama ini akibat penyakit gagal ginjal, tak mampu menolak takdir akhirnya, pekan lalu.

Siang itu, seusai disembahyangi di Masjid Quba Joglo, jenazah Buya dibawa ke tempat peristirahatan terakhirnya Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta. Sejumlah tokoh politik, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, melayat di rumah duka. "Kita kehilangan tokoh besar dalam pentas politik Indonesia," ujar Ketua Umum PPP Hamzah Haz.

Di mata Hamzah, Buya adalah sosok rendah hati dan berusaha tak mau menyakiti siapa pun. Juga terhadap diri Hamzah, walau sempat bersaing memperebutkan pimpinan tertinggi di Partai Ka'bah. Senada dengan Hamzah, bekas anggota DPR dari PPP Zain Badjeber memotret Buya Ismail sebagai sosok teduh. "Jika bicara, ia pelan, pidatonya tidak berapi-api," katanya kepada Tempo.

Meski penampilannya tenang, kalem, menurut Zain, bukan berarti Buya seorang penakut. Ia mencontohkan bagaimana kerasnya suara PPP mempersoalkan kecurangan yang dilakukan pemerintah Orde Baru terhadap hasil Pemilu 1992 di sejumlah daerah. Semua protes itu disuarakan lantang oleh Buya, padahal ketika itu situasi politik dan pemerintah dianggap masih represif. Alhasil, orang dekat Soeharto yang bekerja di Sekretariat Negara dan kelak menjadi menteri agama meneleponnya. "Intinya, Pak Ismail Hasan diminta untuk tidak neko-neko," kata Zain Badjeber sambil mengingat-ingat masa silam.

Ketika itu, masih menurut Zain, Buya menjawab teror itu dengan tenang, "Pemerintah jangan campur tangan. Ini urusan partai kami," tutur Zain Badjeber.

Pada Pemilu 1997, Buya kembali menunjukkan bukan sekadar ayam sayur dalam menghadapi penguasa Orde Baru. PPP kembali bersuara lantang mempersoalkan penyimpangan dan kecurangan selama pemilu oleh aparat penyelenggara, yang mengakibatkan kualitas pemilu buruk. Walau, setelah itu, seraya meminta maaf kepada pendukungnya, ia meneken hasil pemilu.

Buya dilahirkan dalam keluarga ulama di Metareum, Sigli, Kabupaten Pidie, Nanggroe Aceh Darussalam, pada 4 April 1929. Ayahnya, Teungku Hasan, memimpin pesantren di sana. Setelah menamatkan sekolah dasar dan lanjutan pertamanya di Aceh, ia melanjutkan sekolah lanjutan atas di Jakarta. Selesai SMA, ia masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia sampai lulus.

Ismail remaja pernah menjadi anggota Pelajar Islam Indonesia (PII) Banda Aceh. Setelah pindah ke Jakarta, ia dipercaya menjadi Wakil Ketua Pelajar Islam Indonesia (PII) cabang Jakarta. Ia pun melebarkan sayap aktivitas organisasinya dengan bergabung ke Himpunan Mahasiswa Islam. Di organisasi ini, ia pernah duduk sebagai wakil ketua umum dan bahkan ketua umum. Pada saat bersamaan, tahun 1955-1960, ia Ketua Komite Kerja Pemuda Islam In-donesia.

Karier politik dimulainya saat bergabung Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) menjelang Pemilu 1971. Pada tahun yang sama ia terpilih sebagai anggota DPR. Ia pernah menduduki Wakil Ketua DPR/MPR. Buya juga dikenal sebagai guru. Ia pernah menjadi dosen Fakultas Hukum Universitas Indonesia serta dosen Fakultas Hukum Universitas Tarumanagara. Tahun 1984, Buya terpilih Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan hingga 1994. Dari perolehan kursi DPR, kepemimpinan Buya Ismail pun terbilang sukses. PPP mampu menambah jumlah kursi di DPR dari 61 menjadi 62 kursi (pada Pemilu 1992) dan melonjak dari 62 kursi menjadi 89 kursi (Pemilu 1997).

Sunudyantoro


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Kapolda Jawa Barat Copot Dua Kapolsek - 05 Sep 2008 | 21:29 WIB
Bupati Aceh Besar Mengundurkan Diri - 05 Sep 2008 | 21:19 WIB
Guru Tolak Aturan Pendanaan Pendidikan - 05 Sep 2008 | 21:16 WIB
Fernando Alonso Kuasai Free Practice 2 - 05 Sep 2008 | 21:07 WIB
Al Amin Mengaku Tak Berpengaruh di Komisi Kehutanan DPR - 05 Sep 2008 | 21:02 WIB
Kapolda Jawa Barat Mengaku Ditawari Suap Rp 10 Miliar - 05 Sep 2008 | 20:53 WIB
Hughes Bersumpah Jadikan City Raksasa Eropa - 05 Sep 2008 | 20:53 WIB
Bupati Aceh Besar Mundur, Surat ke Menteri Ditulis Tangan - 05 Sep 2008 | 20:44 WIB
Simulasi Pemilihan 2009 Dinilai Tak Efektif - 05 Sep 2008 | 20:40 WIB
Bapepam Akan Gugat Eurocapital - 05 Sep 2008 | 20:32 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data